Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Aku Ingin Melihatmu Tersenyum


__ADS_3

Lampu di atas pintu ruang operasi telah mati. Menandakan operasi sudah selesai. Para laki-laki menghambur ke depan pintu itu. Seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana dokter?" tanya Yahya.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar." kata sang dokter disambut bahagia oleh mereka semua. Ada sedikit kelegaan dari wajah semua orang. "Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan." lanjutnya.


"Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih dokter." kata Abah. Ada kelegaan dalam kata beliau.


Semua orang saling berpelukan mengungkapkan kebahagiaan mereka. Kini semua orang bergantian memeluk Shofia yang terlihat tersenyum di tempat duduknya.


****


Zakaria kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Zakaria berada di kamar VIP tapi Keluarga bergantian masuk Demi kenyamanan Zakaria. Umi dan Shofia mendapat kesempatan pertama untuk masuk.


Umi Duduk Di samping brangkar. Sedangkan Shofia berdiri Di belakang Umi. Zakaria belum sadarkan diri. Efek obat bius masih belum hilang.


"Kamu harus segera sembuh Zaka." kata umi terisak. Setelah lama berada disana. Umi hanya diam. Dan hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya yang bergetar.

__ADS_1


"Maaf Shofia. Umi sudah tidak kuat berada disini. Umi tidak bisa melihat Zakaria terbaring seperti ini. Umi keluar dulu ya. Kamu jagain dulu." kata Umi sebelum bangun dari duduknya. Kemudian menepuk bahu Shofia pelan.


Setelah Umi keluar. Shofia duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Umi. Sama seperti Umi tadi. Dia hanya terdiam disana sambil memandangi calon suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri.


Perlahan pertahanannya goyah. Entah sejak kapan air mata nakal itu keluar begitu saja dari kedua matanya. Bahkan bahunya ikut naik turun akibat isakannya.


Shofia tersentak saat merasa genggaman tangan yang menggenggam tangannya. Rasanya hangat. Shofia memperhatikan wajah Zakaria yang pucat itu. Zakaria tersenyum lembut ke arahnya. Shofia semakin terisak.


"Hei. Akukan sudah bilang aku tidak suka melihatmu menangis. Kenapa kamu begitu cengeng?" Zakaria berkata dengan sekuat tenaga. Shofia tidak bisa mengontrol dirinya. Dia segera menghambur memeluk tubuh calon suaminya itu. Dia menangis di dada Zakaria. Tangan Zakaria mengelus jilbab kuning yang membungkus kepala gadis itu.


"Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku disini."


"Aku takut Gus. Aku takut kehilanganmu. Aku mencintaimu." Zakaria tersenyum. Dia merasa begitu besar cinta Shofia terhadapnya. Begitupun dengan dirinya. Diapun membiarkan Shofia terus terisak untuk menghilangkan beban di hatinya.


"Menangislah sepuasmu sekarang. Tapi berjanjilah kamu tidak akan menjatuhkan air matamu karena aku."


Hening...

__ADS_1


"Apa anak itu baik-baik saja?" tanyanya saat tangis Shofia reda dan sudah melepas pelukannya. Dia mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.


flash back on....


Dia berniat untuk mengambil mahar di tempat temannya. Dia melajukan motornya perlahan. Dan ketika hendak sampai di toko temannya, tiba-tiba saja ada seorang balita yang terlepas dari tangan ibunya.


Dari jauh sebenarnya dia sudah melihat sang ibu memegang tangan sang anak agar tidak berlari. Sepertinya anak itu meminta sesuatu di seberang jalan.


Zakaria tidak menyangka jika tangan sang anak lepas dari genggaman ibunya dan langsung berlari ke arahnya. Dia begitu kaget karena kejadian itu begitu tiba-tiba. Denga reflek dia memutar kemudi ke kiri. Sialnya ada sebuah pohon disana. Dan kecelakaan iti tidak bisa dihindari.


flash back off...


"Kamu sangat baik Gus. Dalam keadaan yang seperti ini saja masih menghawatirkan orang lain." kata Shofia. "Tenang saja. Karena kebaikanmu itu. Anak itu tidak mengalami cidera apapun. Tadi aku sudah bertemu dengannya. Dia anak yang sangan manis dan lucu." lanjutnya.


"Shofia Lathifunnisa. Aku sangat mencintaimu." Shofis menghangat. Memang ini bukan kali pertama Zakaria mengucapkan kalimat sakral itu padanya. Namun sebanyak apapun laki-laki itu mengatakannya, rasa yang dirasakannya semakin bertambah pula.


"Aku juga mencintaimu Gus. I love you so much." kata Shofia sambil tersenyum sebelum dia beranjak dari duduknya dan keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2