
๐ Sangat menyenangkan merasa berarti untuk orang lain๐
Liburan telah usai. Sekolah masuk seperti biasanya. Shofia sudah berjalan menuju kelas kesayangannya. Senyumnya terkembang. Dia sudah kangen pada semua anak didiknya di kelas istimewa itu.
Dia berharap setelah acara barbeque malam itu anak didiknya menjadi "sedikit jinak". Setidaknya di hari pertama masuk dia tidak harus direpotkan dengan kejahilan mereka.
Shofia tiba di depan kelas. Dari jauh tadi dia sudah mendengar kehebohan dari kelas yang di ampunya itu. Sangat berisik.
Beberapa saat Shofia mengamati kelas itu dari luar. Tak dipungkiri jika dia agak khawatir jika hari ini sudah ada jebakan yang disiapkan oleh murid-muridnya.
'Sepertinya aman. Huh aku harap hari ini lancar. Ini hari pertama setelah libur. Masak mereka sudah menyiapkan jebakan sih.' batin Shofia.
Shofia masuk kelas dengan penuh waspada. Takut dia jadi korban hari ini. Dia terlalu semangat hingga dia tidak mempunyai persiapan apa-apa untuk menghindar hari ini.
'Aman' kata Shofia dalam hati setelah dia masuk dan memindai kelas. Tampak normal tak ada yang mencurigakan.
"Assalaamu'alaikum anak-anakku"
"Wa'alaikum salam bu guru cantik." sapa mereka bersama. Mereka tersenyum bahagia.
'Ada apa dengan mereka. Mereka tidak pernah semanis ini denganku.' batin Shofia.
"Selamat pagi anak-anakku. Bagaimana kabar kalian?"
"Baik bu. Liburan kali ini sangat istimewa bu." kata Sinta yang dibenarkan oleh yang lain.
Karena hasil ujian semester kenaikan kelas memuaskan, mereka mendapatkan hadiah dari orang tua mereka masing-masing.
"Bisa beritahu Ibu bagaimana istimewanya?" Shofia penasaran. Selama ini dia tak pernah melihat murid-murid di hadapannya ini terlihat sangat senang dan antusias.
"Karena hasil ujian memuaskan Bu. Kami jadi dapat hadiah dari orang tua" Kata Gio yang lagi-lagi dibenarkan oleh yang lainnya. Mendengar ini Shofia ikut senang.
__ADS_1
"Ibu juga ikut bahagia. Kalian memang hebat." Shofia tersenyum tulus sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya.
"Terima kasih bu. Berkat Ibulah kami bisa berhasil." kata dari Rendy membuat Shofia terharu sampai meneteskan air matanya.
"Jangan menangis Bu. Kami berjanji mulai hari ini kami tidak akan bandel lagi." kata Bimo saat melihat air mata Shofia.
"Kami juga berjanji akan melakukan apa yang Ibu katakan. Kami tidak akan jahil lagi." tambah Rendy.
"Alhamdulillah. Ibu bukan menangis karena sedih. Tapi ibu menangis karena bahagia. Ibu bangga pada kalian. Tapi tetap! Janji kalian akan Ibu pegang. OK?"
"Baik bu!" jawab semua murid kompak.
"Tahun ajaran baru ini. Marilah kita mulai dengan semangat baru. Kalian bisa menganggap ibu partner belajar kalian. Jadi manfaatkan ibu untuk kemajuan pelajaran kalian. Setuju?"
Shofia masih dipercaya untuk menjadi wali kelas di kelas istimewa ini. Belum ada guru yang berani mengambil tanggung jawab ini selain Shofia.
Kini Shofia sudah bernafas lega. Mulai hari ini dia bisa memberikan pelajaran dengan tenang tanpa adegan berbahaya dari muridnya. Setidaknya dia sudah mendapat kepercayaan dari anak didiknya pada awal tahun ini.
Tak beda jauh dengan tekad Shofia. Anak didiknya pun. mempunyai tekad yang sama dengan guru mereka. Kini mereka menemukan kesenangan yang menurut mereka lebih mengasyikkan daripada mengerjai guru dengan polah tingkah kejahilan mereka.
Dari pada memikirkan ide jahil, mereka kini lebih suka memikirkan pelajaran. Sungguh beda dengan yang dulu. Mereka sudah merasa bahwa dengan kemampuan yang mereka tunjukkan, mereka bisa bangga pada diri mereka sendiri.
Awalnya Mereka mendapatkan semangat ketika ditantang Shofia untuk mendapatkan nilai yang baik. Mereka semangat untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan.
Apalagi hadiah dari sang guru cantik kesayangan mereka membuat mereka bahagia. Mereka bisa merasakan kasih sayang dari Shofia dan teman-temannya saat itu. Itulah yang membuat mereka mantap untuk merubah arah pemikiran mereka.
*****
Sepanjang perjalanan Shofia ke kantor, senyumnya tak pernah pudar. Dia mengingat bagaimana kejadian di kelas tadi. Tak dapat dipungkiri jika dia sangat bangga pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka dengan langkah kecil dia bisa menaklukkan kelas yang menurut guru yang lain merupakan hal yang mustahil.
Tapi lihatlah sekarang, kemustahilan itu roboh dengan kasih sayang yang diberikan Shofia pada murid-muridnya.
__ADS_1
Kini Shofia duduk di kursi kebesarannya di kantor. Membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa laporan dari butiknya yang dikirim lewat email. Shofia membaca dengan teliti semua laporan itu. Hampir dua minggu dia tidak mengunjungi tempatnya mewujudkan sekelumit mimpinya itu.
Menyadari ada orang yang duduk di depannya Shofia mengalihkan pandangannya dari laptop. Setelah tahu siapa yang datang Shofia memberi salam padanya.
"Selamat siang pak Sandy." ya orang itu adalah Sandy. Dia sudah duduk disana sambil menopang dagu dan tersenyum manis pada Shofia. Sayang sekali senyum itu diabaikan oleh Shofia. Guru cantik di hadapannya sibuk kembali dengan laptopnya dan mengabaikan kehadirannya.
'Sial! Lagi-lagi aku diabaikan oleh bu Shofia. Sebenarnya Apa yang dia lakukan? Setelah kembali dari kelas dia malah sibuk dengan laptop ini.' batin Sandy.
Tak berapa Shofia sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia menutup laptopnya dan menghadap pada Sandy. Dia ingin bicara serius dengan guru tampan di hadapannya ini.
"Oh ya pak Sandy, saya harap anda tidak lupa dengan rencana kita." Shofia mulai pembicaraan dengan Sandy. Dia ingin membahas masalah basket. Walaupun membahas masalah sekolah Sandy sudah sangat senang karena Shofia mulai bicara lebih dulu.
"Iya Bu. Saya masih ingat. Saya juga sudah membicarakan ini di rapat kemarin dan semua sudah setuju."
Ya. Shofia memang tidak menghadiri rapat itu karena dia masih berada di pondok waktu rapat itu diadakan. Syukurlah semua rekan guru memakluminya.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Benar bu. Lapangannya juga sudah selesai. Perlengkapan juga sudah lengkap. Saya berharap siswa disini bisa memanfaatkan fasilitas yang diberikan sekolah sebaik-baiknya."
"Semoga ya pak."
"Oh ya bu Shofi. Maukah hari ini ibu makan siang bersama?" akhirnya Sandy memberanikan diri mengucapkan keinginannya. Dia berharap bisa lebih dekat dengan gadis pujaannya itu. Kebetulan hari ini sekolah pulang lebih awal karena masih awal pembelajaran.
Shofia melihat jam di tangannya. Memperkirakan waktu yang akan dia habiskan untuk makan bersama pak Sandi dan juga pergi ke butiknya. Sepertinya cukup.
"Baiklah Pak." Sandy sangat senang dengan jawaban Shofia.
"Baiklah Bu Shofi. Nanti saya chat tempatnya." kata Sandy setelah mendengar bel tanda masum berbunyi. Dia tahu jika Shofia harus kembali masuk karena harus mengakhiri sekolah hari ini dan mempersilahkan anak didiknya untuk pulang.
"Baiklah. Masih ada dua jam lagi sebelum jam makan siang." Shofia segera berdiri dan keluar kantor.
__ADS_1