Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Wisuda yang Terindah


__ADS_3

☘️Perjuangan kita sudah terbayar lunas. Sekarang waktunya kita bahagia. ☘️


Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi mahasiswa di seluruh penjuru dunia. Sama halnya dengan mahasiwa di kampus Shofia. Mereka sangat bahagia di hari wisuda ini. Hari dimana mereka akan mendapatkan gelar sarjananya.


Keluarga para wisudawan berdatangan dari berbagai daerah. Jika biasanya sang anak yang mendatangi kampung halaman, kini giliran keluarga Mereka yang mendatangi tempat perantauan anak mereka.


Hari ini adalah pertama kalinya keluarga Shofia datang ke kampus anak mereka. Karena selama ini semua hal mengenai pendidikan sang anak di kampus mereka percayakan pada sang anak. Jadi mereka tidak pernah mendatangi kampus Shofia.


Pagi tadi keluarga Shofia dijemput oleh Zakaria. Zakaria juga akan menghadiri acara calon istrinya itu. Jadi dia menawarkan jemputan untuk calon keluarganya walaupun jalurnya melenceng jauh.


Siang ini Shofi sudah mengenakan kebaya berwarna merah muda sudah dirias oleh salon. Shofia sudah duduk di kursi taman untuk menunggu keluarganya yang sudah berada di jalan.


"Assalaamu'alaikum nak." Sapa bunda dari arah belakang Shofia. Shofia langsung berbalik arah dan menemukan keluarganya. Dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri keluarganya.


"Wa'alaikumsalam Bunda. "kata Shofia sambil memeluk sang bunda. Dia sangat terharu. Ingin rasanya menangis. Tapi perkataan Zakaria membuatnya menghentikan niatnya.


"Jangan menangis. Nanti riasannya rusak." kata Zakaria.


Setelah saling melepaskan rindu Shofia mengajak keluarganya ke dalam gedung acara. Setelah memastikan Keluarganya mendapat tempat duduk, dia berniat pergi menuju tempat mahasiswa.


"Shof. Bisa kita bicara sebentar." kata Zakaria.


"Tentu. Kita bicara di depan saja. Acaranya juga masih lama mulainya." Shofia mengajak Zakaria keluar gedung menuju taman yang berada di depan gedung.


Mereka berjalan berdampingan. Semua mata memandang ke arah mereka. Mereka penasaran dengan laki-laki yang berada di samping Shofia. Apalagi selam ini Shofia tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki selain Rizwan.

__ADS_1


Shofia dan Zakaria terlihat sangat serasi. Keduanya terlihat bahagia hari itu. Zakaria lagi-lagi dibuat terpesona akan kecantikan san calon istri. Shofia pun demikian. Dia juga memandang takjub ke arah sang calon imamnya itu.


Zakaria memakai kemeja berwarna maroon yang dimasukkan ke dalam celana hitamnya. Dia memakai sepatu pantovel yang mendukung penampilannya. Shofia merasa bangga menjadi calon istri dari Zakaria yang bisa berpenampilan sesuai acara. Sebenarnya Shofia tidak memaksakan penampilan. Namun dia sangat bahagia dengan sikap pengertian dari Zakaria.


"Duduk sini saja Gus." ajak Shofia setelah menemukan tempat duduk yang nyaman.


"Aku kangen Shof." kalimat itu terdengar begitu indah di telinga Shofia. Hatinya menghangat. Senyumnya terkembang.


"Aku juga Gus."


"Juga apa?"


"Juga kangen Gus."


"Bilang dong kalau kangen. Pasti aku akan menghampirimu."


"Jangan malu mengungkapkan perasaanmu Shof. Kita berdua sama. Aku mencintaimu"


"Aku juga."


"Juga apa?"


"Juga mencintaimu. Aku juga mencintaimu Gus. Puas?!"


"Aku lebih mencintaimu Shof."

__ADS_1


"Iya aku tahu."


"Tahu apa?"


"Kita saling mencintai Gus."


"Shof. Bulan depan kita menikah yuk."


"Kita pasrahkan pada keluarga kita saja Gus."


"Tenang saja Shof. Jika aku bertindak semua akan terjadi."


"Insya Allah Gus."


"Shof bolehkah aku minta sesuatu darimu." Zakaria menatap lekat mata Shofia.


"Apa Gus?"


"Aku minta kamu harus selalu tersenyum. Jangan sering menangia lagi. Aku nggak suka melihat kamu menangis. Aku sedih jika kamu meneteskan air matamu."


"Tentu Gus. Mulai sekarang aku akan bahagia bersamamu."


"Insya Allah Shof. Semoga Allah merahmati kisah kita."


"Aku bahagia Gus. Setelah apa yang sudah kita lalui selama ini. Akhirnya tidak lama lagi kita bisa bersatu."

__ADS_1


"Aamiin"


Keduanya diam. Mereka membiarkan hati mereka saling bicara. Mengobati kerinduan setelah lima bulan mereka tidak berjumpa. Mereka mulai membayabgkan kehidupan mereka di masa mendatang yang tidak akan lagi terpisah jarak. Mereka tidak sabar hari itu segera tiba.


__ADS_2