Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Permintaan Rizwan


__ADS_3

Shofia sedang berguling-guling di atas kasur yang berada di dalam kamarnya. Hari ini adalah hari minggu. Dia malas untuk pergi keluar hari ini. Sudah satu minggu di sekolah mengadakan ujian. Dan di setiap hari harus lembur untuk mengoreksi hasil ujian siswanya. Jadi hari ini dia merasa lelah sekali.


"Mbak. Ada yang cari tu. Katanya teman mbak dari Surabaya." kata Zakia dari depan kamar Shofia.


"Iya Ki. Mbak keluar." Shofia sudah tahu siapa yang dimaksud. Tamu itu pasti Rizwan. Shofia segera keluar dari kamar dan menemui temannya yang sudah jauh-jauh datang dari Surabaya.


"Assalaamu'alaikum Riz." sapanya saat sudah berada di ruang tamunya.


"Wa'alaikum salam Shof."


"Bagaimana kabarmu Riz?"


"Aku baik Shof. Sepertinya kamu kurusan sekarang?" Shofia tersenyum mendengar pernyataan Rizwan. Dia sadar memang selama ini berat badannya terus menurun.


"Jangan kebanyakan fikiran Shof. Ingat kesehatanmu. Jangan sampai sakit. "


"Sakit itu ciptaan Allah Riz. Kita tidak bisa menghindar."


"Ayolah. Kamu jangan keras kepala terus. Aku mau memberi undangan ini." Rizwan mengangsurkan undangan itu ke meja di hadapan Shofia. Shofia mengambil dan membukanya.


"Selamat ya Riz. Akhirnya kamu akan menikah." kata Shofia sambil tersenyum.


"Aku harap kamu bisa datang Shof. Malang bukanlah tempat yang jauh kan buat seorang Shofia?"


"Tentu saja tidak. Insya Allah aku akan datang. Kamu jadi nikah dengan anak kiai itu? "


"Iya Shof. Seperti yang kamu tahu. Doakan semua lancar ya."

__ADS_1


"Aamiin. Semoga semua lancar tanpa halangan apapun."


"Aamiin. Shof kamu tidak mau membawamu jalan-jalan di kotamu?"


"Masih ingat saja janjiku itu... Baiklah ayo. Aku siap-siap dulu. Pakai mobilnya saja ya." kata Shofia. Dia pun segera kembali ke kamarnya. Mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih bagus dan pantas untuk jalan-jalan. Menaburkan bedak bayi andalannya itu. tak lupa mengoleskan celak dan lipstik tipis di Bibirnya.


Rizwan menatap temannya itu. Shofia tampak sedikit berbeda sekarang. Dia terlihat lebih dewasa. Dia bangga pada temannya itu yang masih bisa bangkit dari keterpurukan itu.


"Ayo Riz. Aku sudah bilang pada Zakia tadi. Ayah sama bundaku tidak ada di rumah."


"Baiklah Shof. Ayo berangkat. Kali ini kamu bisa jalan berdua dengan pria tampan ini. Tapi setelah ini kamu tidak punya kesempatan lagi." Tawa Shofia meledak. Dulu dialah yang mengucapkan itu ketika meminta jalan-jalan pada Rizwan sebagai salam perpisahan setelah wisuda.


"Ck. Kau sungguh tidak kreatif. Hanya bisa copy-paste kalimatku." kata Shofia sambil memukul ringan lengan Rizwan.


"Ayolah Shof. Hilangkan sifat bar bar mu itu. Kalau sama laki-laki kau selalu bar-bar seperti ini kapan kamu akan dapat pasangan." Rizwan mencebik. Padahal dia tidak merasakan sakit sedikitpun akibat pukulan Shofia tadi.


"Ya sudah ayo." kata Rizwan sambil masuk mobilnya.


Mereka terus saja saling menggoda sebelum mobil itu perlahan berjalan meninggalkan halaman rumah Shofia.


Dari dalam mobil di seberang jalan. Shofia dan Rizwan tidak mengetahui ada seseorang sedang fokus memperhatikan mereka. Mereka terlihat romantis diperhatikan dari jarak jauh. Jika pembicaraan antara keduanya tidak terdengar, mereka seperti sepasang kekasih yang saling menggoda. Setelah kepergian mobil Rizwan. Mobil yang mengintai tadi juga pergi dari sana dengan arah berlainan dengan mobil Rizwan.


*****


"Sampai kapan kamu betah sendiri Shof?" kata Rizwan pada Shofia yang berdiri di pinggir sungai Berantas. Dia sendiri duduk di pinggiran sungai.


Shofia yang sedang menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya menoleh sebentar tanpa ada niat membalas pertanyaan temannya itu. Dia melanjutkan aktivitasnya kembali.

__ADS_1


"Aku tahu kamu kesepian Shof."


"Aku punya banyak teman Riz. Jangan khawatir berlebihan terhadapku."


"Kamu punya banyak teman. Aku akui itu. Tapi hatimu kosong Shof." Shofia tersenyum getir. Benar kata Rizwan. Hatinya memang kosong.


"Apa kamu mau aku kenalkan dengan temanku?"


"Biarlah semua mengalir sesuai takdir Riz."


"Dari dulu kamu seperti itu Shof. Aku yakin Zakaria pasti sedih melihatmu seperti ini."


"Kamu jangan membawanya dalam masalah ini Riz. Aku bahagia selama ini. Aku sudah melanjutkan hidupku."


"Aku tahu itu Shof."


"Tapi bukan hidup seperti itu yang bisa membuatku bahagia. Cobalah buka hatimu."


"Membuka hati itu mudah Riz. Sudah sedari dulu aku telah membuka hatiku. Aku juga sudah mempersilahkan semua orang masuk. Tapi yang lebih sulit dari membuka hati adalah menerima seseorang untuk menempati ruang khusus di hati."


"Aku tahu kau orang yang paling susah untuk itu Shof. Dulu Zakaria juga kesusahan memasuki hatimu dan mendapatkan cintamu."


"Itu masalah hati Riz. Aku tidak bisa mengatur pada siapa cinta ini berlabuh."


"Tapi aku mohon satu hal darimu sebagai sahabatmu Shof." Rizwan memandang Shofia lekat. "Aku ingin kau mau aku kenalkan dengan temanku. Dia orang yang baik Shof. Dia juga sahabat Zakaria."


"Baiklah Riz. Aku mau."

__ADS_1


"Baiklah. Datanglah ke pernikahanku satu hari sebelumnya. Aku akan perkenalkan kalian. Aku rasa kalian berdua akan cocok. Dia memiliki kesukaan sepertimu."


__ADS_2