
Setelah kejadian tiga hari lalu, kini Shofia sudah menjalani kehidupannya dengan normal. Walaupun dia masih sedikit takut. Di sekolah, selain Sandy tak ada yang mengetahui kejadian itu. Shofia sudah mewanti-wanti agar Sandy tidak menceritakan kejadian tersebut pada orang lain.
Sedangkan Edi dan Udin sudah sangat emosi saat mendengar cerita dari Shofia. Jika tidak dihalangi oleh Shofia Mungkin mereka berdua sudah menghajar Andre. Mereka berdua merasa harus melindungi Shofia.
"Au." Shofia reflek berteriak setelah merasa sakit karena tanpa sengaja lengannya yang memar karena dicengkeram Andre disenggol oleh Indah.
"Kenapa bu Shofi?" dia melihat Shofia meraba lengannya.
"Tidak apa-apa bu. Saya hanya kaget" kata Shofia bohong. Dia segera menarik tangannya setelah Inun akan meraih tangannya. Shofia tidak mau jika Inun melihat memar di lengannya yang membentuk jari empat tangan.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu mohon perhatiannya sebentar. Nanti ada pihak dari rumah sakit yang akan memberi pelatihan untuk anak PMR." kata Inun. "Tolong nanti diumumin ke anak-anak di kelas ya. Jam sembilan kata pak kepala sekolah tadi" lanjutnya.
"Oke!" kata guru-guru di ruang itu kompak. Setelah itu mereka keluar kantor untum mengajar di kelas masing-masing.
*****
Pada jam istirahat Shofia keluar dari kelasnya Kelas Shofia berada di belakang sekarang. Ruangannya agak jauh dari kantor. Shofia berjalan pelan di koridor sekolah.
Shofia diam mematung. Dia mendengar sesuatu yang sangat dia kenal. Dia bergeming di tempatnya. Dia masih belum mempercayai apa yang di dengar oleh kedua telinganya.
Lama Shofia diam sebelum dia memberanikan diri mencari asal suara itu. Perlahan dia mengikuti asal suara yang menyita perhatiannya.
Kini dia tiba di ruang musik. Di depannya banyak siswa yang bergerombol. Shofia bergerak maju dengan mata berkaca-kaca. Perlahan dia melewati murid-murid yang bergerombol itu.
Shofia tidak sadar jika sekarang dia sudah berada di pintu masuk ruangan. Menatap seseorang yang sedang memainkan gitar sambil bernyanyi.
Air matanya menetes. Tanpa ada suara. Tanpa ada isakan. Dia hanya diam memperhatikan pria di depannya. Dia tidak sadar telah menjadi tontonan murid-muridnya.
"Jo... " lirihnya menghentikan permainan gitar pria di depannya.
Pria itu membuka matanya. Dia juga terlihat kaget melihat Shofia di depannya. Pandangan keduanya terkunci. Tanpa sadar mereka saling mendekat.
Shofia terisak saat jarak mereka semakin terkikis. Semua siswa diam menyaksikan kejadian di depannya.
"Hei. Kenapa kau menangis?" Shofia semakin terisak.
"Shof. Jangan menangis. Atau aku akan menghancurkan apapun disini." Suara Jo menyadarkan Shofia.
Shofia mengangkat tangan kananya. Menyentuh pipi Jo. Jo hanya memperhatikan tangan lembut shofia menyentuh pipinya. Dia menikamati sentuhan lembut tangan itu.
"Apakah ini kamu Jo?" tanya Shofia setelah menarik tangannya dari wajah Jo.
"Iya Shof." kata Jo lirih.
"Kamu jahat Jo." kata Shofia sambil berbalik dan berlari menjauh dari Jo. Sepanjang jalan dia menangis. Mengacuhkan semua mitos yang melihatnya bingung.
Sampai di kantor Shofia langsung memeluk Ema. Dia semakin menumpahkan air matanya di bahu sang guru.
"Ada apa Shof?" kata Ema bingung. Guru yang lain pun tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Dia disini bu..." kata Shofia di sela tangisnya.
"Kamu sudah ketemu sama Jo?"
"Jadi ibu tahu?"
__ADS_1
"Iya. Jo ternyata salah satu dokter yang memberi pelatihan pada anak PMR. Tadi ibu juga sempat kaget waktu lihat dia."
Flash back on....
"apa kabar bu Ema." sapa Jo pada Ema. Bu Ema mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ini benar kamu Jo?" tanya Ema.
"Iya bu. Ini Jo. Anak ibu yang Bandel." kata Jo sambil tersenyum. Ema memperhatikan penampilan Jo dari atas sampai bawah.
"Saya sekarang jadi dokter bu. Dan kebetulan saya ditugaskan kesini." jelas Jo.
"Anak nakal! Kenapa baru sekarang nemuin ibu hah!? lupa kamu sama orang tua ini."
"Maaf bu. Saya baru pindah seminggu yang lalu dan sangat sibuk dalam minggu ini."
"Kamu masih single atau sudah lnya pasangan Jo?" tanya Ema.
"Ibu ini kenapa langsung tanyain itu sih?"
"Jawab aja!"
"Belum bu. Belum ada yang cocok."
"Shofia ada disini Jo." kata Ema membuat Jo terdiam. Dia masih mencerna kata-kata Ema yang seharusnya sudah jelas baginya. "Dia juga masih sendiri Jo. Kamu masih punya kesempatan nak." lanjutnya.
"Benarkah?"
"kamu masih menyukainya kan?"
"Temui dia Jo"
"Saya belum siap bu. Bagaimana kalau dia membenci saya?"
"Inikah Jo yang ibu kenal? " Ema tersenyum sambil menepuk pelan pundak Jo.
"Dia masih ada kelas sekarang. Kalah kamu mau kamu bisa menunggunya sambil bermain gitar."
"Baiklah bu. Aku juga kangen sama gitarku."
"Gitar itu sudah pindah tangan Jo. Kau tahu teman-teman mu membuat band baru disini. Mereka mengajari anak-anak bermain musik."
"Mereka juga sering kesini bu?"
"Ya. Elin, Edi, Udin. Kalau Kalia dia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya."
Setelah sampai di ruang musik. Ema membukakan pintu dan mengajak Jo masuk. Jo menyentuh alat musik yang ada disana. Dia juga bernostalgia sama seperti Shofia dulu.
Jo mengambil gitarnya dan duduk di kursi kebesarannya. Memetik gitar pelan.
"Jo ibu ke kantor kelas dulu ya. Tadi kelas ibu masih kosong. Nantu Shofia akan lewat sini. Kelasnya di kelas XIII C."
"Ok bu"
Jo melanjutkan permainan gitarnya. Dia mulai bernyanyi.
__ADS_1
Digta "Tersiksa Rindu"
Sedetikpun aku, tak pernah lupakanmu
Karena aku, terlalu sayang kamu
Reff...
Lihatlah hatiku, terluka dan semakin rapuh
Karena kamu, kini jauh dariku
Apakah kau disana merindukanku
Tuhan tolong diriku
Aku tersiksa rindu
Biarku bertemu walau dalam mimpi
Karna ku tak sanggup lagi
Aku tersiksa rindu
Back to Reff...
Aku... merindukanmu.....
Flash back off
Disinilah mereka. Ema mengajak Shofia ke kantin dan meminta Jo menemui mereka. Sekarang jam istirahat telah usai. Para siswa sudah kembali menerima pelajaran mereka di dalam kelas.
Ema telah meninggalkan mereka berdua di kantin. Ema yakin jika keduanya perlu bicara. Penjaga kantin yang mengenali Jo langsung menyapa Jo.
"Ini benar Nak Jo kan?"
"Iya bu Minah. Ini Jo."
"Subhanallah nak Jo. Kamu kelihatan ganteng sekali."
"Jo kan dari dulu memang sudah ganteng bu."
"Ah yaya benar nak Jo. Tapi bandelnya sudah hilang kan?"
"Tentu saja Bu. Makanya sekarang Jo berani menemui Princess."
Shofia yang mendengar semakin cemberut. Dari tadi dia masih memalingkan wajahnya dari Jo. Entah mengapa di hadapan pria itu Shofia menjadi gadia manja.
"Bu, obatnya Princes kalau lagi marah tetap sama kan?" kata Jo mengerling pada penjaga kantin.
"Tentu saja nak Jo." kemudian Bu Minah pergi meninggalkan Shofia dan Jo untuk pergi ke dapur.
Jo memperhatikan gadis di depannya. Dia masih tetap sama seperti dulu. Gampang sekali ngambek. Jo senyum-senyum memandangi Shofia.
Gadis di depan Jo itu masih sama di mata Jo. Masih tetap cantik, manis dan yang paling penting masih gampang marah.
__ADS_1
"Huh"