Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
TOD


__ADS_3

"Emmm sudah." kata Bu Inun


"Cie cie. Berarti tinggal tunggu undangan datang nih." kata Indah.


"Sekarang aku yang putar." kata Inun seraya memutar botol. Botol berputar cepat. Saat botol melambat semua orang menjadi deg degan.


"Edi kena!" teriak Shofia, Elin, Udin dan Kalia saat botol mengarah pada Edi.


"Ayo El. Kesempatan. Ed kau harus pilih True!" kata Kalia.


"Hemm. Baiklah aku pilih True. Sesuai dengan keinginan semua princes di kerajaan."


"hahahaha" semua orang tertawa mendengar perkataan Edi. Memang benar, bagi personil Sejuk Band jika personil wanita adalah princes mereka.


"Ed, sejak kapan kau menyukaiku?" tanya Elin.


Edi mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk seraya berfikir. Dia ingin menggoda para princesnya.


"Sejak pertama kita kenal." jawaban Edi mengagetkan semua yang mengenalnya dari awal.


"Wow Ed sungguh tak terduga. Itu sudah lama sekali." Edi hanya tersenyum. Dia mengingat perjuangannya selama ini. Sedangkan Elin menatap lekat wajah kekasihnya itu. Mencoba mencari kebohongan disana. Namun yang didapati adalah kejujuran.


"Salut Ed." kata Kalia sambil memukul pelan lengan Edi. Semua orang tersenyum. Mereka faham sejak kapan laki-laki itu menyukai sang kekasih.


Elin langsung memeluk sang kekasih. Edi membalas pelukan itu. Dia mengusap punggung Elin dan mendaratkan ciuman di pucuk kepala Elin.


"Semoga cepat nyusul Bro." kata Udin saat pelukan kedua sekali itu berakhir.


"nah sekarang biar aku yang putar." kata Kalia. semua orang kembali deg degan menunggu dimana botol itu berhenti. Dan botol berhenti di depan Rizwan.


"Kau kena Riz." kata Shofia menyenggol lengan Rizwan yang ada di sampingnya. "True Or Dare Riz?" lanjutnya.


"True lah."


"Biar aku yang tanya." kata Sandy.


"Baiklah."


"Apakah kau sungguh-sungguh mencintai bu Shofia?" Shofia yang kaget mendengar pertanyaan itu langsung tersedak minuman yang seharusnya bisa menghilangkan dahagabya. Rizwan membantu menepuk punggung Shofia pelan. Dia pun kaget mendapatkan pertanyaan itu. Jadi selama acara ini dia dianggap pacar Shofia oleh Sandy.


"Maaf pak Sandy, sepertinya anda salah faham. Saya dan Shofia hanyalah teman. Jadi saya tidak mencintainya. Saya hanya menyayanginya sebagai sahabat." kata Rizwan.


"Kau memang sahabat terbaikku Riz. Aku juga menyayangimu Riz." kata Shofia.

__ADS_1


"Kalau kau memang menyayangiku. Datanglah ke pernikahanku seperti yang aku minta."


"Kalau kau menyayangiku kau tak akan terus memaksaku. Kau sama menyebalkannya dengannya." sungut Shofia.


"Aku dan dia selalu ingin yang terbaik untukmu Shof."


"Baiklah-baiklah. Ya sudah ayo mulai lagi." kata Shofia sambil memutar botol. Botol berhenti pada Shofia. Shofia mendengus karenanya.


"Kau harus pilih True Shof. Karena ada yang ingin kami dengar." Kata Elin.


"Kenapa semua orang jadi menyerangku?"


"Soalnya kau ini penuh rahasia."


"Lupakan. Sekarang jawab pertanyaanku. Sepertinya bukan hanya pak Sandy yang terkecoh dengan hubunganmu dengan Rizwan. Kami semua juga berfikiran jika kalian memiliki hubungan spesial. Kalian terlihat saling perhatian." kata Elin.


"Tentu saja. Kami kan sahabat." kata Shofia. Sedangkan Rizwan masih mencerna kalimat Elin.


"Diam dulu cerewet. Biar aku selesai." dan perkataan Elin sukses membuat Shofia bungkam dengan BiMoLi (Bibir Monyong Lima centi)


"Kalau kamu dan Rizwan cuma sahabat. Siapa sekarang orang yang kau cintai?" tanya Elin.


"Tidak ada." jawab Shofia singkat. Jawaban itu membuat Sandy tersenyum lega. Berarti dia masih punya kesempatan. Fikirnya.


Shofia reflek memutar cincin di jari tengahnya. Pandangan Shofia kini memandang jauh enak kemana. Rizwan yang melihat itupun menyadari bahwa sang sahabat masih belum move on.


Senua orang yang mengetahui cerita tentang kematian Zakaria juga faham siapa yang mereka maksudkan. Mereka kini menyadari bahwa cinta Shofia terhadap Zakaria sangat besar.


"Sekarang mulai lagi. Kita disini untuk berbahagia kan?" botol kembali berputar akibat gerakan Shofia. Dia mencoba tersenyum sekarang. Walau fikirannya entah kemana.


Botol berhenti pada Udin. Dan semua sahabatnya tertawa. Mereka berniat mengerjai sang calon pengantin.


"Nah Din. Kalau dari tadi kami sudah True. Sekarang kau harus Dare! kata Shofia. Ingat princes selalu benar bukan. Dan segala keinginannya adalah titah yang harus dilaksanakan.


"Apa yang ingin kalian inginkan dariku?" tany Udin sambil melihat ketiga Princesnya secara bergantian.


"Aku ingin tahu bagaimana kau melamar Sundari. Peragakan disini." kata Elin.


"Boleh saja. Ed aku boleh pinjam Elin sebentar. Aku juga ingin. memberi contoh padamu bagaimana caranya untuk melamar Elin suatu saat nanti."


"Awas kau macam-macam." kata Edi.


Elin dan Udin segera berdiri agak jauh dari mereka. Kini semua mata tertuju pada Udin yang berjongkok sambil memegang kedua tangan Elin.

__ADS_1


"Sundari. Kita sudah lama saling mengenal. Sudah lama pula menjalin hubungan. Aku mencintaimu dengan serius hati. Dan aku rasa Kaupun demikian. Malam ini, aku memintamu untuk menjadi wanita yang peling istimewa dalam hidupku. Menjadi pendampingku selamanya. Apakah kau bersedia menkadi istriku?" kata Udin membuat semua penonton baper.


"Begitu Ed." kata Udin setelah selesai memerankan dramanya. "El kurasa kau harus gigit jari. Tak mungkin ada lamaran yang semanis tadi yang akan kai dapatkan dari beruang kutub macam Edi."lanjutnya. Perkataan Udin membuat Edi sedikit emosi.


"Ed. Kalau kau tak bisa semanis Udin tadi, Aku tak akan mau menikah denganmu." kata Elin.


"Tenang saja sayang. Aku akan melamarmu dengan lebih manis dibanding Udin tadi."


"Aku tunggu."


"Emang kau sudah siap aku lamar? Kalau sudah aku akan segera mengajak orang tuaku ke rumahmu." Elin tersipu mendengarnya.


"Yes! Tunggu aku El. Minggu depan aku datang." kata Edi girang.


"Cie cie Yang mau dilamar sudah merah kayak tomat." kata Shofia membuat wajah Elin tambah merah.


"Sekarang sudah semakin larut. Bagaimana kalau kita ganti acaranya." usul Indah.


"Baiklah. Bagaimana kalau kita menyanyi sambil main gitar?" tanya Kalia.


"Siap! Aku ambil gitar dulu." Shofia segera beranjak. Sekarang sudah pukul 10 malam. Teman-temannya akan menginap di rumahnya malam ini. Kebetulan orang tua dan adiknya menginap di rumah neneknya.


Shofia kembali membawa gitar dan menyerahkannya pada Edi.


"Kau mainkan Ed. Aku akan ambil minuman hangat." kata Shofia sambil berlalu.


🐞🐞🐞🐞🐞


Shofia : Riz kita dikira pacaran tuh!


Rizwan : Aku mah ogah punya pacar secerewet dan segalak dirimu


Shofia : Kau kira aku mau. Aku lebih tidak mau dari pada dirimu!


Rizwan : Jangan dekat-dekat nanti maksud!


Shofia : Thor cepat datangkan pemeran pangeran tampanku! Biar Rizwan diam nggak ngata-ngatain terus


Author :___


Rizwan : Author aja diam. Pasti kagak ada pangeran tampanmu. (Shofia mencebik)


Author : Sabar dulu ya Shof... Soalnya terlalu mudah jika sekarang keluar. Lagian buat cari pangeran untuk kamu tuh agak susah Shof.

__ADS_1


Rizwan : Makanya ikuti ideku. Kenalan dulu sama temanku.


Shofia : Baiklah....


__ADS_2