
Shofia berjalan Hati-hati mendekati kelasnya. Kelasnya begitu senyap. Bukankah itu aneh? Pintu kelas itu tertutup. Perlahan dia membuka pintu.
Krieet pintu terbuka lebar. Shofia membukanya dengan keras. Tiba-tiba tepung turun dari atas pintu seperti salju turun dari langit. Sangat banyak. Tepung itu jatuh ke lantai. Bukan mengenai tubuh Shofia seperti yang diharapkan oleh siswa yang telah menyiapkannya.
"Wow. Luar biasa! Ini indah sekali. Menakjubkan." kata seseorang yang baru masuk dari luar. Shofia tersenyum senang. Sangat terlihat jika dia merasa takjub. Akting yang meyakinkan. Padahal Shofia sudah memperkirakan semua ini. Dulu dia juga pernah melakukan itu.
"Yah... gagal lagi." kata para remaja di dalam kelas itu kompak.
'Kalian harus berjuang lebih keras untuk menjahiliku anak nakal'batin Shofia bersorak karena kegagalan mereka.
"Kalian begitu menyayangi ibu ya. Hingga membuatkan salju buatan ini. Kalian tahu saja jika ibu sangat ingin melihat salju turun. Tapi ini juga indah kok. Terima kasih ya." kata Shofia sambil tersenyum menyindir.
"Nah karena kalian sudah memberi ibu kejutan. Ibu juga punya hadiah untuk kalian." Shofia mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam tasnya. Berjalan di antara meja dan membagikan kertas itu pada masing-masing siswa.
"Ulangan hari ini jadi bu?" tanya Sinta.
"Tentu saja cantik. Sesuai dengan perkataan ibu kemarin. Hari ini kita akan ulangan Ekonomi."
"yah bu. Aku belum belajar." kata Rendy. Dan banyak siswa yang mengiyakannya.
__ADS_1
"Tapi ibu yakin kalian akan bisa mengerjakan. Jangan khawatir. Ibu akan memberi hadiah bagi siswa yang berhasil mendapatkan nilai di atas 8." kata Shofia. Kini terlihat wajah-wajah antusias para remaja itu.
"Hadiahnya apa bu?" Shofia mengeluarkan voucer pulsa dari dalam tasnya. Bukan hanya satu atau dua. Tapi sepertinya jumlahnya sebanyak siswa kelas itu. Shofia yakin akan kemampuan anak didiknya. Walaupin terlihat badung, mereka aslinya cerdas.
"Sepadan bukan dengan perjuangan kalian?"
"Baiklah bu. Karena hadiahnya menarik kami akan mengerjakan ulangan dengan serius." kata Rendy. Teman-temannya pun menyetujui. Ini semakin mudah bagi Shofia. Jika pemimpin anak-anak jahil itu sudah mengeluarkan titahnya, maka anak buah hanya akan mengikuti. Shofia bisa tersenyum lega dan menunggu hasilnya.
Shofia kini duduk di kursi kebesarannya. Mengamati siswa di depannya yang sedang mengerjakan ujian. Dia memastikan tidak ada yang berbuat curang.
Sebenarnya Siswa-siswi Di kelas itu adalah Siswa-siswi yang pandai. Namun mereka terpengaruh oleh Rendy dan teman-temannya yang suka membuat onar dan berbuat sesuka hati.
Selama ini mereka mementingkan kesenangan mereka. Tidak pernah peduli pada hal akademik. Bahkan terkadang Shofia merasa jengkel jika saat menjelaskan sesuatu di depan kelas tapi tidak ada yang memperhatikan.
Tak lama, satu persatu mulai mengumpulkan lembar ulangan itu. Shofia langsung mengoreksinya. Setelah diketahui nilainya Shofia memberi apa yang dia janjikan tadi. Dan seperti dugaan Shofia. Siswa di kelas ini memang cerdas. Terbukti dengan voucer yang disiapkan Shofia tadi habis tanpa sisa.
"Ibu benar-benar bangga pada kalian. See! jika kalian bersungguh-sungguh kalian itu luar biasa. Selamat untuk kalian semua!! Good job Student" Shofia tersenyum puas.
"Kalau ada hadiahnya sih bu. Kapanpun kami siap ulangan." kata Sinta.
__ADS_1
"Sebentar lagi akan ada ujian semester. Dan jika kalian mendapatkan hasil yang memuaskan, ibu akan memberi kalian hadiah kejutan." kata Shofia. Para remaja itu terlihat antusias. Mereka yakin jika janji yang diucapkan Shofia akan menjadi kenyataan, karna mulai sekarang mereka akan belajar bersungguh-sungguh.
*****
Setelah mengajar pagi ini. Shofia berjalan-jalan di koridor sekolah yang jarang dia lalui. Mumpung sekarang dia sedang free. Sudah cukup lama dia mengajar disini. Tapi belum sekalipun dia berkeliling di sekolah ini.
Bangunan sekolah ini tidak berbeda dari saat dia sekolah dulu. Tapi sekarang lebih terlihat indah dengan gambar-gambar mural yang dilukis siswa, mungkin dilukis pada saat ada perlombaan.
Halaman sekolah juga tampak lebih indah. Halaman kelas ditanami berbagai macam tanaman hias yang ditata rapi. Berbeda sekali dari zamannya dulu.
Shofia melanjutkan langkahnya ke bagian bangunan belakang. Sekolah ini hanya satu lantai yang berderet. Membentuk bangunan latter U yang masing-masing deret terdiri dari dua bangunan.
Langkah Shofia terhenti saat dia berada di depan ruangan sebelah ruang UKS. Ruang kecil itu sangat tidak asing baginya. Ruangan itulah saksi bisu sejarah perjalanannya di sekolah itu.
Shofia mengintip dari jendela kaca. Mengusap kaca itu pelan. Dalam ruangan itu, semua barang disana masih sama. Bahkan letaknya masih sama. Peralatan disana terlihat bersih dan terawat.
Bayangan masa lalu muncul disana. Dia seperti melihat dirinya bersama dengan teman-temannya bermain musik disana. Ya. Ruangan itu adalah ruangan yang disiapkan khusus oleh sekolah untuk mendukung bakat bermusik mereka saat itu.
Sayang. Sepertinya setelah generasinya, ruangan dan perlengkapan itu tidak dipergunakan dengan baik.
__ADS_1
"Kangen ya Shof.. "kata itu mengagetkannya.