
🍓Aku sangat menyukai senyummu dan sangat membenci airmatamu. Jika boleh, aku minta hanya senyum yang terpatri di bibirmu. Jangan pernah isak tangis yang keluar dari mulutmu🍓
Seminggu setelah acara wisuda itu Shofia kembali ke rumahnya. Kini ia akan bersungguh-sungguh mempersiapkan pernikahannya yang akan dilangsungkan satu bulan dari sekarang.
Zakaria memang benar-benar membuktikan perkataannya. Dia telah berhasil meyakinkan keluarga mereka untuk mempercepat pernikahan mereka.
Tak dapat dipungkiri jika Shofia juga merasa bahagia dengan keputusan itu. Dia sudah mencintai Zakaria dan memantapkan hati untuk menghabiskan hidupnya bersama Zakaria.
Shofia kini berada di salah satu butik untuk memesan kebaya yang akan dia kenakan pada acara pernikahannya. Untuk acara akadnya akan dilaksanakan di rumahnya. Sedangkan resepsi pernikahan akan dilaksanakan di kedua rumah mereka secafa bergantian.
Bunda terpesona melihat penampilan putrinya saat mencoba kebaya putih itu. Kebaya yang dipilih Shofia adalah kebaya sederhana namun terlihat cantik.
"Bund bagaimana dengan yang ini?" tanya Shofia saat mencoba gaun yang akan digunakan saat resepsi di rumahnya.
"Kamu cantik sekali nak. Aku yakin Nak Zakaria akan semakin terpesona melihatmu nanti." goda ibu.
"Ah ibu." pipi Shofia memerah malu. Saat ia ingin berbalik sebuah suara menghentikan nya.
__ADS_1
"Sebentar. Aku masih belum puas melihatmu." kata Zakaria tiba-tiba muncul dari bilik yang berada di samping bilik ganti Shofia. dia juga sedang mencoba Jas yang sesuai dengan gaun Shofia.
Zakaria mendekati Shofia. Berdiri di samping gadis itu. Jantung keduanya berdetak kencang. Zakaria memperhatikan penampilan Shofia dari atas ke bawah.
Shofia terlihat sempurna. Gaun berwarna merah muda itu terlihat pas melekat di tubuh Shofia. Manik-manik yang berada di sekitar dada membuatnya semakin elegan. Ujung lengannya yang lebar seakan menunjukkan kebesarannya.
"Aku sudah puas sekarang." kata Zakaria sambil tersenyum.
Mereka kembali ke bilik mereka dan menggantik pakaian mereka dengan baju yang mereka gunakan saat resepsi di pondok.
Shofia memilih gaun berwarna biru laut karena acara akan dilangsungkan pada pagi hari hingga siang hari. Jadi warna itu cocok dipakai untuk menyejukkan suasana.
Zakaria keluar terlebih dahulu. Dia mengenakan jas yang berwarna senada dengan gaun yang dipakai Shofia. Dia duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
Sambil menunggu dia memainkan Handphonenya untuk memberi kabar pada karyawannya untuk mengirim beberapa contok undangan untum pernikahan mereka.
Ketika suara pintu bilim dibuka, Zakaria mendongakkan kepalanya melihat calon istrinya yang sedang mencoba baju resepsi mereka. Mata Zakaria sampai tidak berkedip karena terpesona.
__ADS_1
"Berlebihan ya Gus?" pertanyaan Shofia menyadarkannya.
"Tidak Shof. Itu sempurna. Bemar kan Bund? " tanya Zakaria pada calon ibu Mertuany.
"Benar Shof. Iti bagus."
"Aku akan tersenyum jika mengingat penampilamu saat ini Shof. Kamu benar-benar sempurna." kata Zakaria.
"Kamu juga sangat tampan Gus." kata-kata mereka membuat Khusnul tersenyum. Dia bahagia melihat anaknya bahagia.
"Aku akan mengingat saat ini Shof. Kamu adalah ciptaan Allah yang terindah dan yang selalu aku syukuri dalam hidupku selama ini." kata Zakaria menatap lembut ke arah Shofia. Shofia hanya tersenyum.
"Berjanjilah kamu akan selalu tersenyum Shof. Aku benar-benar tidak suka melihatnmu menangis. Apalagi itu akulah yang menjadi penyebabnya."
"Kamu tak pernah membuatku menangis Gus. Kau selalu membuatku yersenyum."
"Maka dari itu jangan pernah manangis karenaku Shofia Lathifunnisa." Lanjut Zakaria.
__ADS_1
"Sudah-sudah pandang-pandangannya ditunda dulu. Tanggal 25 Juni tinggal menghitung hari. Jika kalian sudah sah. Bunda janji tidak akan mengganggu kalian lagi." perkataan Khusnul menyadarkan dua orang yang dimabuk cinta itu hingga mereka tidK menyadari ada orang lain disana.