
Hari ini Shofia berada di butiknya. Ini adalah hari minggu. Tentu saja sekolah libur. Itulah mengapa dia ada disini sejak pukul delapan pagi tadi.
Sejak sampai butikny, Shofia sudah bergumul dengan berkas-berkas yang bertebaran di mejanya bercampur dengan beberapa gambar desainnya.
"Mbak. Klien kita sudah sampai. Mereka sudah menunggu di galeri." kata Mega, salah satu pegawai di butik Shofia.
"Ya Mega. Terima kasih. Saya akan segera kesana."
Hari ini Shofia sudah ada janji ketemu dengan klien yang merupakan pasangan calon pengantin. Shofia segera menyiapkan peralatan yang dibutuhkan sebelum dia meninggalkan ruangannya menuju ruang galeri dimana kliennya sudah menunggu.
"Mari mbak Shofi. Silahkan duduk." Dina segera berdiri saat melihat Shofia berada di depan pintu. Shofia segera melenggang menuju kursinya.
"Selamat siang." sapa Shofia ketika mengetahui klien wanitanya menoleh ke arahnya. Setelah itu klien laki-laki itu juga menoleh kaget mendengar suara Shofia.
"Selamat siang." suara sang wanita menyadarkan Shofia dari kekagetannya juga. Shofia berdeham menetralkan keadaan.
Shofia duduk di kursinya. Kursi yang tadi diduduki Mega. Setelah itu Mega keluar ruangan Hari ini Dina izin katena anaknya sakit, jadi untuk hari ini lekerjaannha digantikan oleh Mega.
"Perkenalkan nama saya Shofi. Saya pemilik butik ini." Shofia mengulurkan tangan pada sang wanita dan disambut olehnya.
"Nama saya Mira. Dan ini tunangan saya, Sandy."
"Ah ya mbak Mira. Saya sudah mengenal tunangan anda. Kami rekan guru di SMP Merpati."
"Wah kebetulan sekali ya." Shofia tersenyum meremehkan. Jadi selama ini dia dibohongi oleh Sandy. Bahkan pria ini masih berusaha mendekatinya padahal dia sudah punya tunangan. Ck ck ck. Shofia sungguh tidak menyangka.
"Sayang kenapa kamu nggak bilang kalau yang punya butik teman kamu."
"Maaf. Aku juga tidak tahu." kata Sandy
'Syukurlah anda tidak tahu. Kalau tahu mana mau anda kesini dan ketahuan belangmu' batin Shofia.
"Iya mbak. Semua guru disana juga tidak ada yang tahu. Emm bisakah kita mulai?"
Mira Segera mengatakan desain gaun pengantin yang dia inginkan. Shofia juga memberikan Pendapatnya dan menunjukkan beberapa desain sebagai tambahan untuk inspirasi.
Setengah jam kemudian kesepakatan telah mereka ambil. Mira dan Sandy segera pamit karena mereka juga masih harus menyelesaikan persiapan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan satu bulan lagi.
__ADS_1
"Kenapa mbak?" tanya Mega saat melihat wajah bete Shofia.
"Bagaimana menurutmu calon pengantin pria tadi?"
"Emm tampan. Dan sepertinya dia sangat perhatian sama pasangannya. Kenapa mbak?"
"Jangan tertipu dengan wajah polosnya."
"Maksudnya?"
"Kau tahu Mega. Dia itu guru di Sekolah tempatku mengajar. Dan selama ini dia juga selalu berusaha mendekatiku."
"Jadi mbak sudah dibohongi?"
"Iya. Mana tau aku kalau dia sudah bertunangan. Dia bahkan meminta waktu agar aku bisa lebih mengenalnya. Ternyata... dia rubah juga."
"Mbak cinta sama dia?"
"Ya nggak lah. Pantesan dari dulu aku merasa nggak nyaman sama tuh orang. Ternyata memang ada yang tidak beres."
"Ya. Aku akan selalu mensyukuri itu Mega."
*****
Sejak Shofia tahu bahwa Sandy sudah mempunyai tunangan, dia selalu menghindar. Sudah empat hari ini Shofia selalu menjaga jarak dengan guru tampan itu. Dia juga tidak menceritakan hal itu pada rekan orang lain. Dia bukan tipe orang yang ember.
Hari ini sekolah pulang lebih awal karena hari terakhir Ujian Semester. Hanya ada beberapa guru yang masih berada di sekolah. Mereka adalah guru yang akan menjadi panitia dalam pelaksanaan class meeting yang akan dilaksanakan lima hari dari sekarang.
Guru ekstra kurikuler juga harus menyusun rencana untuk meningkatkan kemampuan anak didiknya sebelum tampil dan bertanding. Mengingat mereka libur berlatih selama dua minggu karena melaksanakan ujian.
Shofia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di parkiran khusus guru. Akhir-akhir ini dia jarang menggunakan motornya Karena kadang dia ada acara di luar setelah jam pelajaran sekolah.
Seperti saat ini contohnya. Dia sudah membuat janji dengan teman-temannya untuk berlatih band setelah mereka lama vakum.
"Bu Shofi tunggu" teriak Sandy memanggil Shofia ketika dia hendak membuka pintu mobilnya.
"Ya pak Sandy? Ada yang bisa saya bantu?" Shofia mencoba berbasa-basi dengan Sandy. Padahal sebenarnya dia sudah sangat muak jika berbicara dengan pria di hadapannya itu.
__ADS_1
"Saya mau menjelaskan sesuatu pada Bu Shofi."
"Tentang apa ya pak? Sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan disini."
"Mengenai pertunangan saya."
"Ah ya. Saya sampai lupa mengucapkan selamat pada bapak. Selamat ya pak Sandy atas pertunangannya." Shofia mengulurkan tangan kanannya. Sandy membalasnya kikuk.
"Saya dan Mira dijodohkan bu. Saya tidak mencintai dia." Shofia mengernyit. Dia kini faham apa yang akan dikatakan Sandy padanya. "Saya hanya mencintai anda bu Shofi."
Binggo! benar tebakan Shofia. Memang dasar rubah licik pria yang ada di hadapannya ini.
"Maaf pak. Tapi saya benar-benar tidak pantas menerima cinta anda. Di samping anda ada orang yang dengan tulus mencintai dan menyayangi anda yang akan segera menjadi istri anda. Jadi jangan sia-siakan mbak Mira. Dia orang yang baik pak Sandy."
"Tapi bu Shofi. Saya benar-benar mencintai anda."
"Pak Sandy maaf sekali lagi. Anda tidak pantas bicara seperti pada saya. Anda sebaiknya bicara seperti itu pada mbak Mira. Kalian akan menikah bukan? ."
"Ya. Saya memang harus menikah dengannya. Tapi Bisakan saya juga menikah dengan anda?"
"Hah?! Apa anda sudah tidak waras pak? Bahkan pernikahan anda saja belum terjadi dan anda sudah berfikir untuk mempunyai istri lebih dari satu? Ck ck ck."
"Saya tahu jika saya selalu menggoda bu Shofi sehingga bu Shofi mencintai saya..." kata Sandy percaya diri. Shofia bahkan ingin menenggelamkan pria terlampau narsis di depannya ini dengan segera. Darimana dia menyimpulkan hal yang terdengar sangat lucu?
"Wah wah wah apa anda sedang mengarang cerita mimpi anda nanti malam pak Sandy? "
"Ini kenyataan Bu Shofi. Saya tau bahwa anda juga mencintai saya. Maka dari itu saya akan menikahi anda setelah menikahi Mira. Demi kebaikan anda Bu. Saya takut anda depresi nanti." kini shofia tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa kecil Mendengar hal yang begitu menggelikan dari mulut seorang Sandy Erian Wiratama. Shofia tidak habis fikir.
"Sepertinya anda sudah bermimpi terlalu dalam pak Sandy. Hadapi kenyataan."
"jangan menghindari bu Shofi. Akui perasaan anda pada Saya."
"Baiklah... Dengarkan perkataan saya baik-baik ya pak Sandy Erian Wiratama yang terhormat. Sepertinya anda terlalu percaya diri ya? Saya tidak punya perasaan apa-apa pada anda. Bukan hanya saya tak memiliki cinta untuk anda. Bahkan sekarang rasa hormat saya pada anda sudah luntur pak. Dengan bangganya anda mengakui bahwa diri anda tidak menghargai wanita. Bahkan calon istri anda sendiri sudah anda permalukan dengan anda datang pada saya dan mengatakan hal di luar nalar ini pada saya."
"Saya akan tetap memperjuangkan anda bu Shofi?"
"Anda benar-benar sudah menguji kesabaran saya ya pak Sandy. Sekarang dengarkan saya baik-baik. SAYA MENGAMBIL KEMBALI KESEMPATAN YANG PERNAH SAYA BERIKAN PADA ANDA. DAN SAYA SUDAH MENUTUP HATI SAYA UNTUK ANDA. TITIK TIDAK PAKAI KOMA. Sekarang anda sudah faham pak Sandy? Belajarlah menerima keadaan. Itu akan lebih baik bagi anda." Shofia menggelengkan kepala sebelum masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya keluar area sekolah.
__ADS_1