Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Pasangan Cincin Ini Seharusnya Ada Di Jari Manisku


__ADS_3

๐ŸฃWalaupun aku tidak bisa berdiri di sampingmu, Izinkan aku selalu mengingatmu di hatiku ๐Ÿฃ


"Iti cincin siapa Shof?" tanya Indah yang baru masuk ruang guru. Dia baru kembali setelah selesai mengajar di kelasnya. Beberapa guru juga mulai berdatangan. Shofia memperhatikan sekitar. Sudah ramai orang. Itu berarti dia tidak bisa melanjutkan ceritanya. Ceritanya bukanlah untuk konsumsi publik. Hahahaha (Shofia lebay. Kayak dia artis saja)


"Tentu saja ini cincinku." Shofia segera menarik tangannya yang tadi sempat dipegang oleh Indah untuk mengamati cincin Shofia. Dia tak mau jadi pusat perhatian.


"Sekarang aku ada kelas. Permisi dulu." kata Shofia membuat para pendengar kecewa. Tapi mereka bisa apa. Shofia memang punya tanggung jawab di kelas.


****


Di ruang guru, Indah masih penasaran dengan cincin yang dipakai Shofia. Dia tadi sempat melihat cincin itu. Selama ini shofia selalu memakai cincin itu. Tapi dia tidak pernah memperhatikan dengan jelas. Hingga tadi dia melihat cincin yang diputar-putar oleh si empunya.


"Aku yakin cincin itu adalah cincin laki-laki." kata Indah pada Bu Ema.


"Benar. Dan kamu juga pasti akan kaget mendengar apa yang tadi dikatakan oleh Shofia." perkataan Ema semakin membuat Indah penasaran.


Tahu jika rekan kerjanya itu penasaran dan merasa jika Indah bisa menjaga rahasianya Ema memberi tanda pada Indah untuk mendekat.


"Tadi dia bilang. Seharusnya pasangan cincin itu melingkar di jari manisnya. Dan cincin itu berada di tempat lain. Itu katanya. Kamu mengerti sekarang?" Ema bicara dengan pelan. Di ruang guru sudah ada banyak orang. Dia tidak mau ada gosip yang muncuk karenanya.


"Aku mengerti bu. Tapi masih belum tahu pasti. Nanti kita harus mencaritahu pastinya."


"Hemm"

__ADS_1


Pembicaraan mereka daritadi ada yang menguning. Walaupun mereka bicara pelan. Tapi Sandy bisa mendengarnya. Karena dia juga penasaran dengan topik yang mereka bicarakan, dia memasang telinganya betul-betul agar dapat mendengar pembicaraan dua wanita di depannya itu.


****


Sepanjang perjalanan Shofia ke kelas yang akan dia ajar, dia terus memutar-mutar cincin itu. Dia jadi teringat kembali peristiwa yang membuatnya merasa sangat kehilangan.


Kejadian demi kejadian masa lalu seperti berputar kembali di pikirannya. Dan bayangan Zakaria terlihat jelas di matanya.


Di kelas dia jadi tidak fokus. Dia membuka galeri handphonenya. Melihat potret Zakaria disana. Sebelum dia menutup handphone nya, sebaik do'a dia tujukan pada sang pemilik cincin.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Ema memandang gadis di hadapannya. Dia melihat penuh selidik ke arah gadis itu. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan pada Shofia.


"Kamu bikin ibu penasaran Shof."


"Iya aku juga penasaran." kata Indah.


"Penasaran? ada masalah apa sih?" tanya Inun. Dia tidak mengetahui apa yang tadi pagi terjadi.


"Tuh." kata Indah sambil menunjuk cincin Shofia dengan dagunya.


"Memang apa yang membuat kalian penasaran. Ini hanya cincin." Shofia pura-pura tidak faham. Padahal dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh kedua orang beda generasi itu.

__ADS_1


"Ck. Jangan pura-pura tidak faham kamu. Aku yakin iti bukan cincin biasa."


"Hemmff... Ini memang bukan cincin biasa. Ini cincin yang istimewa. Makanya aku pakai terus."


"Istimewa nya?"


"Kalian mau dengar?"


"Tentu."


"Jangan menyesal ya kalau kalian dengar. Mungkin kalian akan capek dengarnya."


"Tidak akan menyesal. Ayo ceritakan."


"Sebentar. Kita habiskan makanan kita dulu. Bagaimana aku bisa cerita dengan kerut kosong. Lagipula aku harus mengisi tenaga untuk cerita." Shofia memang membutuhkan tenaga lebih. Bukan untuk bercerita, tapi untuk menghentikan air mata yang nakal itu. Dia tidak mau sampai ada air mata yang sampai menetes.


Hatinya bukan terbuat dari batu yang tidak sakit mengingat cerita pilu itu. Jika saja bukan janjinya pada sang mantan calon suaminya. Dia pasti akan menangis sepanjang waktu.


"Sebenarnya ini adalah cincin mantan calon suamiku. Tapi dia pergi. Apa boleh buat? daripada mubazir kan aku pakai saja."


"Serius ada yang meninggalkanmu?"


"Iya. Padahal kami seminggu lagi menikah saat itu. Tapi dia lebih dulu pergi."

__ADS_1


"Pergi kemana?"


__ADS_2