Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kejujuran Shofia


__ADS_3

🍃 Kejujuran adalah salah satu hal yang penting yang harus dijaga dalam sebuah pernikahan. 🍃


"Bund, Yah. Hari ini aku dan Mas Jo akan pindah rumah." kata Shofia ketika dia dan Jo smsetelah selesai sarapan bersama Khusnul dan Mirza. Kedua orangtua nya kelihatan kaget.


"Kenapa tiba-tiba nak?" tanya Mirza.


"Menurut bunda. Sebaiknya kalian pergi ke rumah nak Jo dulu. Mereka juga pasti ingin kalian mengunjunginya."


"Benar kata Bunda. Setelah itu kalian pergi ke pondok dulu. Mintalah restu pada abah dan bu nyai. Jangan lupa mengunjungi Zakaria."


Jo dan Shofia saling berpandangan.Mereka kini berfikir jika itu juga sesuatu yang penting.


"Nah kalau semua sudah dilakukan, kita akan menggelar resepsi pernikahan kalian." kata Mirza. "Apakah kalian sudah ada rencana untuk mengadakan resepsi?"


"Maaf kami belum memikirkannya." kata Shofia.


"Ya sudah kalau begitu. Minggu depan kita akan menggelarnya. Bagaimana?"


"Baiklah ayah. Nanti kami akan memberitahukan kepada bapak dan ibuku." kata Jo.


"Baguslah. Sekarang kalian bersiaplah. Ajak Shofia pergi ke rumah mertuanya."


Shofia dan Jo segera mempersiapkan diri. Shofia membawa beberapa baju dan peralatannya.


"Tidak usah terlalu banyak membawa barang sayang. Kita bisa membeli perlengkapan sehari-hari di minimarket dekat rumah." kata Jo saat melihat Shofia mengemasi peralatan make up nya yang tidak seberapa itu.


"Baiklah sayang. Kalau begitu kurasa ini cukup." Shofia menepuk tas ransel yang berisi baju-bajunya.


"Sudah siap?"


"Heem."


"Oke. Ayo berangkat." Jo mengambil ransel Shofia.


"Sayang tolong masukkan juga dompet dan juga handphone ku." Kata Jo saat melihat Shofia memasukkan dompet dan handphone Shofia ke dalam tasnya. Shofia pun memasukkan dompet dan handphone Jo.


Shofia dan Jo berpamitan kepada Mirza dan Khusnul.


"Titip salam sama bapak dan ibu nak Jo. Maaf belum bisa berkunjung kesana. Maaf juga tidak bisa mengantar kalian berdua." kata Mirza.


"Iya ayah."


"Ini ada sedikit oleh-oleh buat keluarga disana." Khusnul menyerahkan tas plastik yang berisi kue.


"Kenapa repot Bund." Jo menjadi tidak enak hati.


"Kalau berkunjung ke rumah orang tua itu baiknya membawa oleh-oleh nak Jo. Apalagi ini pertama kalinya Shofia berkunjung ke rumah mertuanya."


Setelah berpamitan, Jo dan Shofia segera masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun meninggalkan rumah Mirza.


****


Setelah mereka hampir sampai di rumah Jo. Shofia tiba-tiba dilanda kepanikan. Shofia takut jika dia berbuat salah atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan mertuanya nanti.

__ADS_1


"Tenang saja sayang. Bapak ibuku tidak galak kok." Jo menggenggam tangan Shofia erat. Dia menyadari wajah cemas Shofia.


"Aku takut mengecewakan Jo."


"Kau bukan sekali ini kan ke rumahku? Ini juga bukan pertama kali kau kesana. Kau bahkan sudah beratus-ratus kali kerumahku."


Shofia dulu memang sering berkunjung ke rumah Jo. Dia juga sudah akrab dengan keluarganya. Bahkan tetangga Jo juga sampai hafal dengan Shofia. Tapi itu sudah lama sekali.


"Mereka masih sama seperti saat kau mengenal mereka dulu sayang. Tidak ada yang berubah." Jo menengok pada Shofia. Shofia masih terlihat cemas.


"Kau tahu Bude Yana?" Jo menunggu jawaban Shofia. Shofia mengangguk. Siapa yang bisa melupakan tetangga Jo yang satu itu. Dulu saat dia dan teman-teman nya bermain ke rumah Jo, dia selalu saja kepo dan mengajak mereka semua menggosip. Padahal yang diajak menggosip itu masih anak SMP yang belum paham apa yang dia bicarakan.


"Dia sangat senang saat tahu aku akan menikahimu." Shofia melirik Jo tajam.


"Tetanggamu bahkan sudah tahu kalau kau mau menikahiku Jo?"


"Iya."


"Dan kau bahkan tidak memberi tahu aku?!"


"Maaf Sayang. Sebenarnya aku tidak mau menyembunyikan semuanya dari kamu. Tapi itu semua permintaan ayah."


"Permintaan ayah?"


"Ya. Ayah masih trauma mengenai pernikahanmu dengab Zaka waktu itu."


"Huh!"


"Sayang. Apa kau dulu mencintai Zakaria?"


"Awalnya aku tidak mencintainya."


"Aku sudah menduga. Kau sulit ditaklukkan."


"Hahahaha Jo. Kau tahu kenapa?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena dulu aku mencintaimu Jo."


"Apa?!"


"Kau tak percaya?"


"Tapi dulu menolakku Shof."


"Itu karena kita masih terlalu kecil waktu itu. Bahkan aku juga pernah menolak gus Zaka dengan alasan yang sama dengan itu."


"Apa kau serius kau mencintaiku dari dulu Sayang?"


"Ya. Dulu sebelum aku mencintai gus Zaka. Saat aku mulai mencintai Gus Zaka. Perlahan-lahan rasa cintaku padamu sedikit-sedikit luntur. Hingga aku sempat melupakanmu waktu itu. Tapi entah mengapa, Saat aku mendengar namamu, hatiku masih saja bergetar..."


"itu artinya cintamu padaku tidak benar-benar hilang."

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri sayang."


"Tapi benar kan?"


"Mungkin."


"Apa yang dulu membuatmu mencintai Zaka?"


"Emm karena dia sepertimu. Dia baik dan juga perhatian. Walaupun dia awalnya ngeselin. Tapi itulah yang membuatku merasa nyaman saat di sampingnya."


Jo sangat senang mendengar pernyataan jujur dari Shofia. Kini hatinya yakin bahwa tidak salah memilih istri dalam hidupnya.


"Kau ingat Jo. Kau dulu juga nyebelin kan?"


"Hahahaha." Jo terbahak-bahak mengingat moment pertemuan pertamanya dengan Shofia.


Flash Back On....


Saat itu Jo dan Shofia masih kelas satu SMP...


Jo berdiri di pinggir jalan depan komplek perumahannya. Pada masa itu banyak siswa yang akan jalan kaki maupun naik sepeda untuk sampai di sekolah yang berjarak hanya beberapa kilo dari rumah.


Jo sendiri lebih senang berjalan kaki atau menumpang kepada Pras, teman yang rumahnya satu komplek dengannya.


Waktu itu Pras tidak masuk. Sehingga Jo memutuskan untuk menumpang siswa lainnya. Dan saat itulah Shofia lewat.


Biasanya Shofia dan Jo tidak pernah menyapa. Shofia yang tomboy sedangkan Jo yang cuek. Tapi hari itu untuk pertama kalinya Jo menggoda seorang gadis.


"Cewek. Nebeng dong!" kata Jo dengan nada menggoda setelah berhasil menghadang dan membuat Shofia menghentikan Sepedanya.


"Nggak." jawab Shofia ketus.


"Jangan judes. Nanti cantiknya hilang lo diambil macan."


"Biarin! Sana pergi!"


"Aku kan mau nebeng. Kita satu sekolah kan?"


"Minggir-minggir!" Jo menyeringai mendengar jawaban Shofia. Dia heran, padahal biasanya para gadis berusaha mendekatinya. Dia baru menemukan gadis yang berbeda.


Dengan cepat Shofia mengayuh sepedanya saat Jo menyingkir. Namun dengan cepat pula Jo menaiki boncengan sepeda Shofia.


"Hei turun kau!?"


"Diam saja. Kamu mau telat?"


Shofia melihat arloji di tangannya. Benar saja, Sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Akhirnya diapun membiarkan Jo menumpang kali ini. Jo mengambil alih pedal dan mengayun sepeda itu. Kaki Shofia pun dia tekuk kedepan agar tidak mengganggu gerakan kaki Jo.


Shofia tidak menyangka itulah awal hari-hari yang membuatnya selalu jengkel. Setiap hari Jo akan memaksa dirinya untuk memneri tumpangan untuk Jo.


Namun lama kelamaan keduanya semakin dekat. Shofia sudah terbiasa dengan keberadaan Jo di sekitarnya. Bahkan di sekolah sampai terkenal dimana ada Shofia disanalah ada Jo.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2