Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Antara Shofia, Sandi dan Nindi


__ADS_3

"Selamat pagi bunda, ayah, zakia." kata Shofia ketika sampai di meja makan. Di meja sudah ada keluarganya. Dia memang biasa datang paling akhir di meja makan. setelah Sholat Subuh, Shofia biasa membantu bundanya masak. Setelah selesai bari dia bersiap-siap berangkat ke sekolah.


"Pagi nak." kata ayah dan bunda


"Pagi mbak." kata Zakia.


Mereka makan dengan tenang. Mirza memang mebiasakan keluarganya untuk tidak bicara saat makan. Jadi waktu makan hanya fokus pada makanan mereka. Setelah makan baru boleh berbicara.


"Semangat sekali mbak." kata Zakia saat selesai menghabiskan makanan di piringnya.


"Ya. Karena kini aku tahu apa yang harus aku lakukan pada muridku." dia memikirkan berbagai macam cara tadi malam untuk mendekati Rendy. Tentu saja selain cara untuk menghindari kejahilan muridnya itu. Bisa saja hari ini mereka melancarkan aksinya bukan? Mengingat anak muridnya yang begitu kreatif.


"Memangnya mbak selama ini tidak tahu apa yang mbak lakukan saat mengajar?" tanya Zakia heran.


"Ya tahulah Ki. Tapi ini beda. Aku mengajar di kelas istimewa. Ada aja yang membuat aku geleng-geleng kepala. Kadang aku juga harus menyamatkan diri dari kejahilan mereka." jelas Shofia.


"Wah wah sepertinya ada yang kena karma." kata Mirza melirik putri sulungnya. Yang dilirik langsung tersedak air putih yang baru diminumnya.

__ADS_1


"Ah ayah. Aku kan jadi malu." Semua orang tertawa puas. Mereka semua tahu bagaimana jahilnya gadis yang kini menjadi guru yang ganti dijahili oleh muridnya itu.


"Tapi bunda yakin kalau kamu bisa menyelamatkan diri dari mereka. Kamu kan artinya jahil. Masak bisa kalah dari mereka."


"Baiklah semua. Sepertinya jika aku terus berada disini aku akan habis duluan diserang keluargaku sendiri sebelum berjuang menaklukkan muridku." kata Shofia beranjak mengambil tas dan kunci motornya. Semua orang tertawa semakin puas meledak Shofia.


"Yayayaya. Silahkan tertawa sepuas kalian semua. Aku berangkat. Assalamualaikum." Pamitnya setelah sampai di depan pintu.


"Syukurlah Shofia bisa bangkit kembali. Aku takut jika dia akan terpuruk setelah kepergian Gus Zakaria ." kata Mirza.


"Cinta mereka itu suci ayah. Cinta mereka karena Allah. Bunda yakin kekuatan Shofia juga diberikan oleh Zakaria."


Mirza dan Khusnul kadang merasa kasian pada anaknya itu. Apalagi mereka tahu apa yang terjadi dalam kehidupan anaknya itu. Mereka berharap suatu hari nanti anaknya itu akan bahagia.


****


Shofia memarkirkan motornya di parkiran. Disana sudah ada Sandy yang juga baru datang.

__ADS_1


"Assalaamu'alaikum Bu Shofi. Selamat pagi."


"Wa'alaikumsalam. Pagi juga pak Sandy." jawab Shofia dan langsung berjalan meninggalkan Sandy.


Sandy memandang kepergian Shofia. Sejak awal dia bertemu dengan Shofia, gadis itu sudah membuatnya tertarik. Tapi sepertinya langkahnya tidak akan mudah.


Sandy diam-diam mencari tahu tentang Shofia. Menurutnya gadis itu berbeda dari gadis pada umumnya yang sering ditemuinya.


'Sebenarnya apa yang berbeda dari bu Shofia. Sepertinya ada banyak rahasia yang disembunyikannya. Dan entah mengapa itu malah semakin membuatku penasaran.' batin Sandy.


"Selamat pagi pak Sandy." Sandy menoleh pada guru cantik yang berada di belakangnya. Dia adalah bu Nindi. Dia salah satu guru di SMP iti juga.


Nindi seorang gadis cantik berusia 24 tahun. Dengan tinggi semampai yang mendukung penampilannya. Rambut sepinggang yang digerai dan wajah full make up membuatnya semakin cantik.


"Selamat pagi bu Nindi." Sandy tersenyum pada gadis yang telah menyapanya.


"Pak Sandy senyumnya manis sekali." kata Nindi.

__ADS_1


"Terima kasih bu Nindi. Bu Nindi juga cantik." kata Sandy sukses membuat Nindi nerima. Perona wajahnya semakin terlihat merah.


Sandy segera pergi dari sana. Dia tidak mau pembicaraan lebih lanjut dengan guru genit itu. Dia merasa geli setiap kali berada di sampingnya. Karena guru itu akan selalu menunjukkan ketertarikan padanya.


__ADS_2