
Sore ini Shofia pergi ke sebuah taman. Dia sudah janjian dengan Elin dan Edi. Mereka berencana akan mencari kado pernikahan untuk sahabat mereka, Udin.
Sambil menunggu kedua temannya itu, Shofia duduk di sebuah kursi dan berniat mengerjakan salah satu hobi nya. Dia mengeluarkan peralatan tempurnya.
Dia asyik corat-coret kertas di pangkuannya sambil melihat sekelompok anak kecil yang sedang bermain.
'Masa kecil memang masa yang menyenangkan. Mereka bisa bermain apa saja yang mereka inginkan tanpa harus peduli dengan keadaan sekitar.L**ihatlah! Mereka bermain dengan begitu bebas. Andaikan aku bisa seperti mereka. Tanpa harus memperhatikan perasaan orang lain. Aku kadang bosan hidup begini terus. Punya banyak teman, tapi masih kesepian.' batin Shofia.
Setelah kepergian Zakaria, Shofia merasa hatinya kosong. Dia selalu merasa kesepian walaupun sebenarnya dia berada di tengah-tengah banyak orang. Shofia yang sudah terbiasa dengan kehadiran Zakaria membuatnya merasa sangan kehilangan.
Jika tidak ingin membuat kedua orang tua serta orang-orang yang ada di sekelilingnya merasa khawatir, Shofia pasti tidak akan bisa tersenyum secerah mentari saat bersama mereka. Bisa dibilang, senyum palsu lah yang selalu di berikan oleh Shofia.
Shofia ingin menghilangkan perasaan ini dari hatinya. Dia juga ingin membuka hati dan membiarkan orang lain masuk dan mewarnai harinya. Namun Entahlah, belum ada yang bisa menggantikan tempat Zakaria di hati Shofia.
"Assalaamu'alaikum bu shofia." sapaan seseorang menyadarkan Shofia dari lamunannya. Dia mendongakkan kepalanya sambil menjawab salam yang tadi tertuju padanya. Shofia tersenyum melihat siapa yang telah menyapanya.
"Randy, sedang apa kamu disini?" tanya Shofia saat melihat salah satu anak duduknya berada di teman yang dia ketahui berada jauh dari Sekolah mereka.
__ADS_1
"Saya tadi mencari martabak manis bu di sekitar sini." kata Randy sambil mengangkat beberapa kotak di tangannya. Sedangkan Shofia mengernyit heran. Dia bahkan tidak menyangka jika salah satu murid istimewanya itu pergi sejauh ini hanya untuk mencari makanan, martabak manis. Sungguh tak terduga. Biasanya seorang anak laki-laki tidak begitu menyukai sesuatu makanan yang rasanya manis. Shofia kini mengetahui salah satu hal lagi dari Randy. Setidaknya itulah yang disimpulkan oleh Shofia saat ini.
"Kamu suka martabak manis Rand?"
"Sebenarnya bukan saya bu. Tapi ini pesanan teman-teman saya bu." Randy sedang bersama dengan teman-teman dari SMA Kusuma yang tak jauh dari tempat itu. Randy belajar bermain Basket dari mereka.
Di sekolahnya basket belum begitu diminati. Siswa di sekolahnya masih menggemari sepak bola. Tapi itu tidak begitu disukai oleh Randy, makanya dia berlatih dengan tim dari sekolah lain.
"Duduk sini Randy. Kamu sedang tidak buru-buru kan?" Randy pun duduk di sebelah gurunya.
"Tidak bu. Saya masih menunggu teman saya yang lain. Tadi ada yang pesan cilok." kata Randy sambil menunjuk teman yang dimaksud olehnya. Shofia menyadari bahwa Randy yang saat ini duduk di sampingnya itu berbeda dengan yang biasanya dia temui di sekolah. Yang ini kelihatan lebih bebas.
"Ah iya bu.Mereka memang bukan anak SMP. Mereka anak SMA Kusuma. Sebenarnya saya sedang belajar basket dari mereka bu. Kebetulan salah satu dari mereka adalah tetangga saya. Jadi mereka membiarkan saya ikut latihan." terang Randy yang membuat Shofia mengerti apa yang diinginkan oleh anak duduknya itu.
"Kamu suka basket Rand?" Randy mengangguk antusias.
"Jika kamu menyukai basket, kamu bisa bilang pada pak Sandy. Ibu dengar dia juga jago main basket lo." Randy menoleh ke arah Shofia. Dia tak menyangka gurunya akan mendukung. Padahal di sekolah itu tak pernah ada permainan basket.
__ADS_1
"Yang benar bu?" Randy memastikan apa yang didengarnya tadi.
"Iya. Banyak guru yang bercerita bahwa pak Sandy dulunya adalah pemain basket saat di SMA nya." Shofia diam sebentar. Memikirkan kalimat yang akan diucapkan dan dia harap bisa membuat Randy bisa lebih nyaman bicara padanya. "Randy, jika kamu memiliki sesuatu keinginan di sekolah. Katakanlah pada kami, gurumu. Jika kamu tidak mengatakan apa-apa, kami tidak akan tahu. Sebenarnya sekolah sangat mendukung bakat dan minat murid-muridnya. Jika kamu mengusulkan atau bilang pada pak Sandy tentang keinginanmu. Mungkin beliau akan memberikan pelatihan untukmu. Kami sebagai guru akan senang membantu."
"Tapi saya merasa tidak enak hati bu. Teman-teman saya tidak ada yang menyukai basket." kata Randy sedih.
"Itu menurutmu. Mana tahu jika selama ini juga banyak siswa yang ingin bermain basket. Namun juga sepertimu yang merasa tak enak hati."
"Ibu benar."
"Apa kamu mau ibu yang bantu bicara pada pak Sandy?"
"Ibu mau?"
"Tentu saja. Tapi mungkin mulai latihannya tahun depan. Kamu ingat kan Minggu depan itu sudah Ujian Semester Akhir."
"Ya bu. Saya ingat. Terima kasih bu atas bantuannya. Saya permisi duluan bu." Randy pamit setelah melihat temannya menghampiri. Shofia tersenyum senang. Akhirnya menemukan lagi apa yang bisa merubah Randy ke depannya.
__ADS_1
Shofia sudah bertekad akan membantu Randy mewujudkan keinginannya itu. Karena dia yakin bahwa bukan hanya Randy yang memiliki keinginan untuk bermain basket.
Selama ini pihak sekolah tidak mengadakan permainan basket karena siswa disana lebih suka menggerutu sepak bola. Jadi pihak sekolah lebih memprioritaskan permainan sepak bola daripada permainan Lain. Bagi sekolah yang terpenting adalah minat siswa. Sekolah tinggal mendukung dan memfasilitasi.