
Imajinasiku agak liar kali ini. Jadi tolong bijaklah dalam membaca.ð
Habis Mau bagaimana lagi? Mau dihilangkan sayang, soalnya ini memang waktunya romantis-romantisan...ð
Jika belum cukup umur mending Skip aja ya.... ð
Bye kamu yang di bawah umur ðĪŠððââðââðââðââðââðââðââðââðââðââðââðââðââ
Okelah! Selamat membaca.... ð
Shofia membuka kedua matanya dengan paksa. Ini masih jam dua malam. Tapi rasa mulas di perutnya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Panggilan alam sangat menganggu tidur cantiknya.
Dengan perlahan dia memindahkan tangan Jo yang melingkar di pinggangnya. Shofia segera turun dari ranjang. Pelan-pelan dia menurunkan kakinya secara bergantian. Dia takut akan mengganggu tidur Jo.
Shofia segera mengikat rambutnya dan memakai Kerudungnya. Setelah itu dia segera keluar kamar dan berjalan ke toilet. hajat itu harus segera dituntaskan!
Setelah selesai dengan urusannya di toilet. Shofia segera kembali ke kamar. Saat dia baru merebahkan dirinya. Dia dibuat kaget dengan ulah Jo. Saat dirinya sedang memandangi wajah Jo, tiba-tiba saja Jo membuka matanya.
"Sudah puas memandangi wajah tampan suamimu ini sayang?" Jo menyeringai di akhir kalimatnya.
Shofia sangat malu telah tertangkap basah memandangi, oh lebih tepatnya mengagumi wajah suaminya. Shofia langsung bergerak membelakangi Jo. Dia tak mau Jo melihat lagi semburat merah di pipinya yang pasti akan membuatnya semakin malu.
Tanpa disangka, Jo memeluk Shofia dari belakang. Dia mengelus pelan perut Shofia. Shofia merinding merasakan usapan tangan Jo. Jo perlahan menelusupkan tangannya ke dalam baju tidur Shofia. Shofia bergeming demi menyadari apa yang dilakukan Jo padanya.
"Jo... " Shofia membeku saat Jo mer*mas benda kembar kenyal yang ada di dada Shofia. Tubuhnya menggelinjang.
"Shof. Bolehkah?" tanya Jo sebelum melakukan aksinya. Dia tahu bahwa Shofia pasti merasa canggung. Itulah mengapa dia meminta izin untuk melakukan lebih.
Ketika Shofia hanya diam. Jo mencium tengkuk Shofia dari belakang.
"Akh...Jo... " Shofia mendesah saat merasa hembusan hangat nafas Jo pada tengkuknya.
"Iya sayang." Jo berbisik di telinga Shofia. Membuat tubuh Shofia semakin tidak terkontrol.
"Aku takut."
"Jangan Takut sayang. Ada aku disini? Boleh ya? Aku sudah tidak tahan." Shofia pun mengangguk. Cepat atau lambat semua ini akan terjadi. Memberikan kepuasan batin pada suaminya merupakan tugasnya.
Jo melanjutkan aksinya. Dia menyusuri telinga Shofia. Menciuminya dengan penuh hasrat. Pandangan matanya berkabut. Tangannya mer*mas bukit kembar Shofia dari balik bra nya. Jo segera membalik tubuh Shofia untuk menghadapnya.
Jo menyapu habis wajah Shofia dengan ciumannya. Tak ada sejengkalpun yang terlewat. Shofia mulai ikut membalas ciuman panas Jo. Mereka berdua saling melilit dan memilin lidahnya. Mereka juga saling bertukar saliva. Hanya suara decakan yang terdengar dari kamar mereka.
Tangan Jo semakin liar. Dia membuka satu persatu kancing piama Shofia.
__ADS_1
"Akh... Jo.. "Shofia kembali mendesah saat Jo mer*mas kembali bukit kembarnya.
Tak tahan lagi ingin menikmati pemandangan di balik piama sang istri, Jo segera membuka piama itu. Shofia reflek menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Sudah terlambat sayang." bisik Jo di telinga Shofia sebelum menjilat telinga itu. Shofia bergeming. Dia baru sadar jika piamanya sudah terlepas dari tubuhnya.
Jo menyeludupkan tangannya di bawah tubuh Shofia. Perlahan membuka pengait dari penutup benda kembar yang dari tadi menarik perhatiannya. Shofia mengalungkan tangannya pada leher Jo saat Jo mengusap punggungnya berulang kali tanpa menghentikan aktifitas bibirnya menciumi wajah Shofia.
Jo menurunkan ciumannya. Leher jenjang Shofia yang putih kini menjadi sasarannya. Dicium dan dihisapnya leher itu.
"Arkh Jo!" Shofia mengerang saat Jo membuat tanda kepemilikan di lehernya.
"Ini stempel kepemilikanku sayang. Tidak ada yang boleh membuatnya selain aku." kata Jo sambil mengusap tanda merah kebiruan yang baru saja dibuatnya.
Shofi masih menggeliat di bawah kungkungan Jo. Dia mendesah beberapa kali ketika tangan Jo mempermainkan bukit kembarnya. Bukit kembarnya sudah menegang merespon tindakan yang dilakukan Jo.
"Jooo.. "
Jo kembali mencium bibir Shofia dengan rakus. Tangannya kini melepaskan kancing piamanya sendiri. Setelah itu dia lempar kain itu ke sembarang arah.
Shofia meremas rambut Jo ketika merasakan benda kasar berair yang memainkan puncak dadanya. Lidah Jo menjilat benda coklat kecil itu, sesekali dia mengisapnya rakus. Tangan Jo tak kalah nakal dari mulutnya. Sebelah tangannya memainkan ujung dada dari Shofia.
Shofia menggigit bibirnya beberapa kali saat merasakan kenikmatan dari sentuhan yang Jo berikan pada tubuhnya.
Untung saja kamar kedua orangtuanya berada jauh. Sehingga suara-suara itu hanya mereka nikmati berdua.
"Auu sakit Jo." kata Shofia sambil memegang perutnya.
Jo yang mendengar rintihan Shofia langsung menghentikan aksinya. Kini dia terlihat khawatir pada Shofia. Wajah Shofia tiba-tiba pucat.
"Kenapa sayang?"
"Perutku sakit Jo. Sepertinya kita harus menghentikan ini sekarang." Shofia menggigit bibir bawahnya. Dia tahu yang dia alami sekarang. Itu pasti tidak akan disukai oleh Jo.
"Gimana rasanya sayang? Biar aku periksa ya." Jo hendak menyentuh perut Shofia hendak memeriksanya tapi tangan Shofia menghalanginya.
"Sepertinya tamu bulananku datang Jo.
"Apa? Kenapa harus sekarang datangnya." Jo mengacak rambutnya frustasi.
"Maaf Jo... " Shofia merasa sangat bersalah karenanya.
"Tidak apa-apa sayang. Kita masih bisa melakukannya setelah kamu bersih."
__ADS_1
"Terima kasih Jo, Kamu sudah mengerti." Jo tersenyum menanggapi. Shofia segera memakai kembali apa yang telah dilepaskan oleh Jo tadi.
Setelah dia sudah rapi, Shofia segera mengambil perlengkapan perangnya untuk menghadapi tamu bulanannya itu.
Ketika Shofia keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan Jo yang sedang berada di dapur. Jo berniat mau membuatkan teh jahe untuk Shofia agar mengurangi nyeri haid yang yang dialami sang istri.
"Sayang, jahenya dimana ya?" tanya Jo sambil tersenyum.
Shofia segera menghampiri suaminya. Mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Jo tadi.
Setelah selesai membuat teh jahe. Mereka berdua kembali ke kamar. Saat di kamar Shofia baru tersadar sesuatu. Dilihatnya suaminya sudah berganti pakaian. Rambutnya sudah basah. Shofia memicing karenanya.
"Aku butuh pelepasan Shof. Jika tidak aku akan tersiksa." Jo menjawab apa yang menjadi tanda tanya untuk Shofia. Walaupun Shofia tidak mengerti apa yang dilakukan Jo untuk melakukan pelepasan itu.
"Maaf sayang."
"Tidak apa-apa. Tamu bulananmu memang menjengkelkan. Tapi jika dia tidak keluar juga bahaya."
"kau benar pak Dokter."
Shofia segera meminum jahenya. Perutnya kini terasa hangat. Shofia memejamkan matanya untuk merasakan hangat pada perutnya. Dia merasa lebih nyaman saat dia merasakan sesuatu yang hangat yang menyentuh perutnya.
Setelah dia membuka mata, ternyata Jo sedang mengompres perutnya dengan botol kaca yang telah diisi air hangat.
"Terima kasih sayang. Aku sangat bersyukur mempunyai suami yang perhatian sepertimu Jo." Shofia hendak meraih botol itu. Namun Jo melarangnya. Dia yang akan melakukan itu untuk Shofia.
"Itu sudah tanggung jawabku sayang." Jo tersenyum.
"Apakah kau selalu merasa nyeri saat datang bulan sayang?"
"Tidak selalu. Mungkin karena aku terlalu capek Akhir-akhir ini."
"Kau benar. Biasanya berapa lama sampai kau suci?"
"Satu minggu"
"Hah?! Berarti aku harus puasa selama seminggu?"
Shofia mengangguk.
"Mau bagaimana lagi? Bahkan mungkin bisa lebih dari itu."
"Huh. Menyebalkan! Semoga bulan ini untuk terakhir kalinya tamu itu datang... "
__ADS_1
.
.