
🐣Bahagia itu sederhana. Hanya dengan berkumpul dan menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi. Itu adalah salah satu hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan🐣
Sepulang dari makam Zakaria, Jo dan Shofia sudah disambut oleh abah dan Umi. Kedua orangtua itu meminta Jo dan Shofia untuk bicara dengan mereka berdua.
Abah dan Umi berniat membuat acara tasyakuran untuk kedua anaknya itu. Sebenarnya acara itu telah siap sebelum Jo dan Shofia sampai. Namun sebelum acara itu dilaksanakan, Abah dan umi harus memberitahukan kepada Jo dan Shofia.
"Tidak apa-apa Abah, Umi. Kami juga senang jika di pondok ini diadakan acara tasyakuran untuk pernikahan kami."
"Kamilah yang bahagia Har, Shofia. Kalian sudah kami anggap anak sendiri. Jika kalian mengizinkan acara itu dilangsungkan disini. Kami akan merasa senang."
"Alhamdulillah kalau begitu. Acara itu akan dilaksanakan besok malam. Akan ada panggung hiburan juga. Kami mengundang grup gambus daerah sini."
Shofia dan Jo saling memandang. Mereka bingung kenapa sampai ada panggung dan grup gambus jika hanya untuk tasyakuran.
"Kami ingin mengadakan acara tasyakuran yang istimewa untuk kalian. Kemarin para santri banyak yang bilang menyukai grup musik gambus itu. Jadi kami sekalian saja undang mereka." kata Umi yang mengerti ketidak fahaman Jo dan Shofia.
Dan keduanya cuma ber-o ria.
*****
"Dulu, waktu aku masih mondok disini, gus Zaka beberapa kali mengiringiku saat aku bernyanyi di sebelah kamar ini"
Jo dan shofia memang tidur di kamar Zakaria sekarang. Mereka masih terjaga. Mereka sama-sama duduk dengan bersender pada kepala ranjang. Shofia sendiri sedang bermanja ria dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Jo. Jo mengelus rambut Shofia.
"Sejak kapan kalian mengenal?"
"Emm. Kalau mengenal sih waktu aku naik ke kelas dua. Tapi pertama dia mengiringiku bernyanyi waktu aku masih pertengahan kelas satu." Shofia melihat Jo, dan sepertinya suaminya itu menunggu kelanjutan kisahnya.
"Waktu itu pertama masuk sekolah setelah libur semester. Aku menunggu teman-temanku di belakang tembok ini. Entah mengaoa saat iti aku ingin menyanyi. Padahal Selama di pondok aku tidak pernah bernyanyi."
"Kenapa?"
"Aku merasa aneh jika aku menyanyi disini. Lagu Kesukaanku jelas berbeda dengan kebiasaan santri disini."
"Ya kau benar sayang. Aku juga pernah merasa seperti itu saat di pondok. Untung ada Zaka yang menerima ku apa adanya."
"Awalnya dulu aku kaget saat ada suara gitar yang mengiringiku bernyanyi. Aku tidak menyangka jika salah satu putra abahlah yang melakukannya. Dan itu semua kamu yang mengajarinya."
"Benar kan apa kataku."
"Kata yang mana?"
"Yang soal Zaka bisa menaklukkan mu itu karena aku yang mengajari."
"Hemm. Mungkin ada benarnya. Tapi lebih tepatnya Dia itu sama seperti kamu sayang. Dia selalu mengerti apa yang bisa membuatku merasa nyaman."
"Sayang, apa tamumu sudah pergi?"
"Sabar ya."
"Huft."
"Lagian apa kamu tidak malu jika meminta hakmu disini?"
Jo melihat sekeliling. Benar. Disini tidak aman. Pasti bocor kemana-mana.
__ADS_1
"Ya sudah lebih baik kita tidur saja." Jo mengajak Shofia merebahkan tubuhnya. Besok mereka berdua akan sibuk. mereka tentu saja harus ikut mempersiapkan acara untuk besok.
Jo membawa Shofia dalam dekapannya. Setelah menikah, kini Shofia bisa tidur dengan mudah dalam pelukan hangat suaminya.
*****
Setelah seharian semua orang sibuk, akhirnya persiapan selesai. Rizwan dan istrinya, Zahra juga sudah tiba. Kini kedua pasang itu sedang bicara di gubuk belakang pondok putri.
"Gimana Riz istriku?" tanya Jo meremehkan Rizwan. Dia ingin bilang bahwa tanpa ikut campur dirinya, Jo bisa menikah dengan Shofia
"Kamu curang Har."
"Apanya yang curang?"
"Kamu bahkan menipuku."
"Menipu apa? Neng Zahra, emang aku bilang apa pada suamimu?" Zahra dan Jo memang dekat. Jo dulu mondok di pondoknya. Dan Zakaria, Jo dan Rizwan akrab dengan keluarga ndalem.
"Kamu bilang dulu kamu mau mengejar cinta pertamamu kan kang Har?
"Dan shofia memang cinta pertamaku Riz."
"Ternyata takdir Allah sungguh tidak bisa kita duga."
"Indah kan Riz?" Shofia mengerlingkan matanya.
"Sayang, jangan mengerlingkan matamu. Nanti dia terpesona."
"Hah? Terpesona? Dengan gadis bar-bar dan cerewet ini? Mimpi!"
"Har aku harap kamu betah hidup dengan wanita cerewet seperti dia."
"Mau kupukul kamu?" Shofia mengepalkan tangannya di udara dan mengarahkannya pada Rizwan.
"tuh kan Har. Kamu lihat sendiri bar-bar nya istrimu."
"Bisakah kalian akur saja kalau bertemu? aku sudah bosan melihat kalian selalu saja ribut. Kalau tidak ketemu saja bilangnya kangen. Kalau sudah ketemu gini sudah seperti Tom and Jerry. Nanti jika anakku meniru kalian gimana?" Zahra menghentikan pertengkaran tidak penting antara suaminya dan sahabatnya.
"Amit-amit jabang bayi." Zahra mengelus-elus perutnya berulang kali. Dia tidak mau jika anak yang dikandungnya, kelak akan seperti Rizwan dan Shofia yang walaupun sudah dewasa hobinya bertengkar seperti anak kecil.
"Aduuh. Maafin Aunty ya debay. Abimu itu yang duluan ngajak Aunty berantem. Emang Abimu itu minta dihajar." Shofia ikut mengelus perut Zahra yang sudah agak buncit. Usia kandungannya sudah menginjak bulan ke lima.
"Shof kenapa kamu malah menjelekkan ku di hadapan calon anakku sendiri?"
"Emang kamu jelek Riz."
"Aku tampan."
"Ya di kebun binatang."
"Jangan mulai lagi Shof."
"Apaan sih Riz?"
"Sudahlah! Tarik kata-kata mu tadi."
__ADS_1
"Baiklah-baiklah." Shofia kembali mengelus perut Zahra.
"Debay lihat sendiri kan Abimu itu pemarah. Kalau nanti kamu sudah keluar, pukul aja Abimu. Jangan lupa ompolin juga." kata-kata Shofia membuat Rizwan semakin geram. Dia melotot tajam pada Shofia.
Sedangkan pasangan keduanya hanya menikmati pertunjukan gratis dan menarik di depannya. Keduanya geleng kepala melihat tingkah kekanakan mereka berdua jika bertemu. Dari tadi keduanya menahan tawa melihat usaha Shofia menggoda Rizwan.
Mereka berdua tahu jika kedua sahabat itu merasa rindu satu sama lain. Dan inilah cara mereka mengobati rasa rindu mereka. Rizwan dan Shofia adalah sahabat yang istimewa. Hubungan mereka seperti saudara dan saling menyayangi.
"Wau-wau Riz! Itu matanya bisa dikondisikan? Aku takutnya jika bola mata itu keluar." kata shofia menggoda sahabatnya.
"Shofia, mengapa kamu semakin menyebalkan setelah menikah Huh?!"
"Karena sekarang sudah ada yang melindungiku. Iya kan sayang?" Shofia merebahkan kepalanya di bahu Jo.
"Huh! Kalian bahkan mengumbar kemesraan di depan kami. Kalian mau pamer?"
"Kalau kamu ingin, ajak neng Zahra bermesraan juga. Kami nggak keberatan. Iya kan sayang?" Shofia semakin menempelkan diri pada Jo. Sekarang disana hanya ada mereka berempat. Jadi Shofia tidak malu.
"Hem" Jo hanya berdeham sambil mengelus kepala Shofia dengan lembut.
"Sini sayang. Aku juga pengen kayak Har." Rizwan hendak menarik tangan Zahra agar melakukan hal yang sama dengan Shofia.
"Jangan aneh-aneh!" Zahra memukul lengan Rizwan.
"Kenapa? Mereka saja begitu."
"Mereka pengantin baru. Dan kita sudah tidak baru lagi. Nih ada anak disini." Zahra mengelus perutnya.
"Kita juga baru Honey." kata Rizwan dengan nada manja.
"Riz kok aku jadi merasa aneh gimana gitu ya kalau kamu yang bilang Honey?" kata Shofia yang sedikit merasa lucu saat Rizwan memanggil Zahra dengan Honey.
"Iya Shof. Aku juga risih dipanggil seperti itu." perkataan Zahra membuat Rizwan semakin kesal. Dia merasa sedang dibully oleh keduanya.
"Kok aku merasa teraniaya ya disini."
Ketiga orang yang mendengar gerutuan Rizwan tertawa puas. Jo dan Zahra akhirnya setuju dengan Shofia jika Ternyata memang sangat menyenangkan menggoda Rizwan.
*
*
*
*
Jangan Lupa Like 👍
Bintang ⭐5
VOTE 😁
dan
Komentarnya 📨
__ADS_1
Okeh 🤗