Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Partner Hebat


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Edi berhenti di sebuah toko kerajinan di kota Kediri. Mereka berniat membeli kerajinan untuk hadiah pernikahan Udin.


Calon istri Udin adalah orang yang sudah mereka kenal. Dia dulu adalah adik kelas mereka saat di SMP dan pernah menjalin hubungan dengan Jo. Walaupun hanya dijadikan pelampiasan oleh Jo.


Ketiga orang itu masuk ke toko itu. Shofia berpisah dengan kedua orang temannya itu. Dia ingin mencari hadiahnya sendiri. Dia ingin membari hadiah yang istimewa untuk temannya.


Shofia berada di depan rak yang berisi lampion. Berbagai macam bentuk dan ukuran lampion terpajang rapi di rak dan beberapa tergantung di atas rak.


"Assalaamu'alaikum bu guru cantik." sapa seseorang yang berada di samping Shofia. Shofia menoleh ke sampingnya. Menyadari bahwa dirinya yang disapa.


"Wa'alaikum salam. Oh Pak Sandy." Sandy sudah berdiri di dekat Shofia sambil tersenyum manis padanya.


"Sedang mencari apa bu?" lanjutnya.


"Oh saya sedang mencari hadiah untuk teman saya pak. Pak Sandy sendiri mencari apa?"


"Saya sengaja ke sini karena saya tadi melihat bu Shofi kesini. Tadi kebetulan saya sedang berada di Cafe seberang." kata Sandy menunjuk cafe di seberang.


Kemudian mereka terlibat perbincangan ringan. Sandy menanyakan beberapa hal mengenai hal pribadi pada Shofia. Dan Shofia menjawab sekenanya. Jujur, dia agak risih dengan pertanyaan Sandy.


"Oh ya pak Sandy. Ada yang ingin saya sampaikan." Shofia berusaha mengalihkan pembicaraan keduanya. Dan berhasil. Sandy sekarang bersemangat mendengar hal yang ingin disampaikan oleh gadis yang menarik perhatiannya itu.


"Ada apa bu Shofi?"

__ADS_1


"Sebenarnya saya ingin minta bantuan. Ini menyangkut anak didik saya." Sandy kelihatan kecewa. Tapi dia terus berusaha tenang.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu bu Shofi? Jika saya bisa saya akan membantu." Sandy tersenyum tulus.


"Begini pak. Anda tahu kan kalau saya memegang kelas istimewa. Dan di dalam kelas itu ada pemimpin dari semua kejahilan yang terjadi."


"Saya masih belum mengerti. Bantuan apa yang ibu maksud. "


"Ini mengenai pemimpin itu. Namanya Randy. Randy Pratama. Dia anak yang paling istimewa di kelas saya. Selama ini saya sangat sulit memahami anak itu. Dan setelah saya paham, saya juga masih belum bisa mengatasinya. Itu karena yang menjadi keinginan dari anak itu bukanlah bidang yang saya bisa. Dan itu adalah bidang pak Sandy."


"Lalu?"


"Saya ingin pak Sandy membantu saya agar anak itu bisa ditaklukkan. Randy sangat menyukai basket pak. Dan sepertinya saya pernah mendengar bahwa bapak juga bisa permainan itu. Jadi saya minta bantuan bapak untuk mengarahkan Randy dengan minatnya itu. Saya ingin bapak bisa mengajari Randy. Selama ini dia belajar di luar sekolah. Bahkan di SMA pak. Saya yakin bukan hanya dia yang memiliki minat pada olah raga itu. Saya harap dengan belajar basket dia bisa lebih tenang berada di kelas pak. " Shofia menjelaskan maksudnya.


"Benar pak." Shofia melanjutkan aktivitas yang tertunda. Memilih lampion. Mengambil satu yang menurutnya menarik.


"Itu kelihatan bagus bu." kata Sandy.


"Benarkah? Dari tadi saya bingung pak. Soalnya ini hadiah untuk laki-laki. Walaupun sebenarnya perempuan juga sih. Karena ini untuk hadiah pernikahan."


"Kalau untuk pernikahan ini kurang sesuai bu. Itu cocoknya ibu yang memiliki."


"Lalu hadiah apa yang sesuai menurut anda?"

__ADS_1


"Sini bu Shofi." Sandy berjalan dan diikuti Shofia. Mereka menuju rak dengan berbagai macam pikiran indah yang merupakan kerajinan tangan. Mata Shofia langsung tertuju pada sebuah pigora dengan hiasan bunga kering dan juga bentuk love disekitar pigora, terlihat indah dan sepertinya sesuai untuk diisi foto pernikahan.


Shofia hendak mengambilnya. Namun dia sedikit kesusahan karena terlalu tinggi. Sebenarnya Shofia sendiri sudah tinggi untuk ukuran seorang gadis. Dengan tingginya yang mencapai 170 cm itu banyak membuat gadis lain iri.


"Biar saya ambilkan bu." kata Sandy. Shofia segera mundur karena dia sadar posisinya tidak aman jika dia terus disitu. Bisa-bisa tubuhnya seperti berada di dalam dekapan Sandy karena tangan kiri Sandy bersandar pada rak sedangkan tangan kanannya meraih pigora yang berada di rak paling atas.


"Eehem.. " deheman itu membuat kedua orang yang sedang fokus memandang pigora itu menoleh dengan canggung.


"Siapa temanmu Shof? Kenapa tidak dikenalkan pada kami?" kata Elin.


"Oh ya. El ini Pak Sandy salah satu rekan guru di SMP Merpati. Dan pak Sandy perkenalkan ini teman-teman saya. Ini Elin dan Edi." mereka saling berjabat tangan memperkenalkan diri.


"Emm bu Shofi. Sepertinya saya harus permisi sekarang." pamit Sandy. Dia sadar jika dia tidak mungkin mendekati Shofia lebih jauh lagi saat ini.


"Iya pak Sandy. Terima kasih bantuannya. Dan saya harap kita dapat bekerja sama."


"Tentu bu. Kita akan jadi partner yang hebat." kata Sandy sebelum meninggalkan mereka bertiga.


"Ada hubungan apa kamu sama dia? Kerja sama apa?"


"Kerja sama menaklukkan pemimpin geng jail sekolah."


"Hahahaha. Sekarang kamu kena karmanya Shof." kata Edi. Dia ingat betul bagaimana dulu Shofia memberi ide-ide kejahilannya pada Jo. Dan dengan senang hati Jo akan melakukan apa yang dimaksud Shofia.

__ADS_1


Bagi kedua temannya itu Shofia dan Jo adalah partner yang paling hebat. Bahkan Jo bisa tahu arti helaan nafas dari Shofia. Dan Jo pun akan mengerti apa yang diinginkan Shofia tanpa harus diminta. Kadang mereka merasa Bahwa Jo lebih mengerti Shofia daripada Shofia sendiri.


__ADS_2