
"Sekarang siapa yang bisa menjelaskan padaku?"
"Ada apa Jo?" tanya Udin. Dia tidak faham kenapa dia dan Edi di minta untuk bertemu .
"Apakah ada yang kalian sembunyikan dariku?"
"Maksudnya apa Jo?" Edi juga tidak faham.
"Apa yang kalian dan Shofia sembunyikan dariku?"
Kini mereka tahu arah pembicaraan Jo. Semua diam menyadari ada yang tidak beres. Jo tidak pernah semarah itu.
Flash Back on....
"Kalian jangan beritahu ini pada Jo."kata Shofia pada ketiga sahabatnya. Mereka sedang berada di sebuah kafe.
"Tapi ini salah Shof." kata Edi.
"Ini keterlaluan Shof. Coba kalau kami nggak datang tadi?" Elin ingat bagaimana tadi Shofia hampir diculik. Saat Shofia dan teman-temannya sedang berada di taman, tiba-tiba ada seseorang yang menarik paksa Shofia. Namun usahanya gagal saat Edi dan Udin membantu Shofia.
"Jo harus tahu Shof."
"Jangan. Kalian tahu kan apa yang akan Jo lakukan? Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dia dia marah."
"Bagaimana jika dia menculik mu lagi dan... ?"
"Aku yakin dia tak akan berani. Ini sudah dua kali dan semua gagal." Shofia memotong perkataan Udin.
"Tidak Shof. Jo tetap harus tahu. Dia sudah mengancam tadi. Kami tahu dia orang yang nekat. Ini membahayakanmu."
"Aku mohon. Sembunyikan ini dari Jo."
Udin, Edi dan Elin saling berpandangan. Mereka tidak yakin akan menuruti keinginan Shofia. Mereka tahu siapa orang yang hendak menculik Shofia tadi.
Mereka tahu bagaimana dulu orang itu pernah melakukan hal nekat untuk bisa membawa Shofia pergi. Namun saat itu Jo bisa menggagalkan aksinya tanpa sepengetahuan Shofia.
Flash Back off...
"Siapa orangnya?"
"Andre Jo. Beberapa hari yang lalu dia hampir menculik Shofia."
"Dan kalian masih diam?"
"Shofia memaksa kami untuk tidak memberitahukan ini padamu Jo."
"Dan kalian menuruti keinginan konyolnya? Padahal kalian tahu bahwa dia orang yang berbahaya. Shofia itu tidak pernah tahu niat jahat orang itu."
"Maafkan kami Jo. Shofia meyakinkan kami bahwa Andre tak akan berani mengulanginya lagi."
"Dan dengan bodohnya Kalian percaya? Kalian tahu betul Andre itu seperti apa? dulu dia tak hanya sekali berusaha menculik Shofia."
"Ya Jo."
__ADS_1
"Sekarang dia berhasil."
"Maksudmu?"
"Shofia diculik."
"hah?!"
"Ya." Jo pun menceritakan kejadian sore itu.
Flash Back on....
Jo sedang mengendarai mobilnya. Dia dalam perjalanan pulang. Awalnya dia ingin menyusul Shofia di butiknya. Namun saat dia menanyakan posisi Shofia, istrinya memberi kabar bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang.
Namun Jo heran ketika melihat mobil Shofia berada di pinggir jalan yang sepi dengan keadaan pintu yang terbuka. Jo segera menghampiri mobil itu. Dia terkejut saat tidak mendapati istrinya di dalam mobil. Apalagi handphone Shofia terjatuh di mobil itu.
Setelah berfikir, Jo menghubungi teman-teman nya untuk mengetahui apa yang terjadi.
Flash Back off...
"Temui aku di gudang lama." kata Jo kepada seseorang dalam sambungan telfonnya. Setelah itu dia meninggalkan teman-teman nya. Dia masih marah pada mereka karena. menyembunyikan sesuatu darinya. Dan sialnya sesuatu itulah yang sekarang sedang membahayakan istrinya.
"Jo. Biarkan kami membantu." kata Edi setelah berhasil mengejar Jo.
"Kita sebaiknya berpencar. Kalian awasi rumah baj*ng*n itu." kata Jo pada Edi dan Udin.
"Baiklah." Edi dan Udin segera pergi melaksanakan perintah Jo.
****
"istri?"
"Shofia. Dia diculik. Aku curiga jika ini dilakukan oleh orang lama. Beberapa hari yang lalu dia sudah melakukan nya. Tapi gagal."
"Baiklah Jo. Aku dan anak buahku akan membantumu."
Jo menunjukkan foto Andre. Tomy mengamati foto itu dengan serius.
"Aku kenal dia."
"Bagus."
Tomy segera berlalu diikuti oleh Jo. Mereka harus segera bertindak. Ini sudah malam. Jo tidak mau sesuatu yang buruk menimpa istrinya.
Mobil Jo melaju membelah jalanan. mobilnya diikuti beberapa motor di belakangnya. Mereka sedang menuju ke tempat dimana Shofia di sekap. Berkat anak buak Tomy, mereka dengan cepat menemukan lokasinya.
"Ed tlong hubungi polisi. Nanti lokasinya aku Share. Kita tidak boleh bertindak sendiri." Jo mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Edi.
Sebenarnya, Jo,Tomy dan anak buahnya sudah mengepung tempat itu. Mereka sudah bersiap untuk masuk.Mereka membutuhkan polisi hanya untuk menangkap pelaku.
Jo mengintip sebuah ruang yang dijadikan tempat menyekap Shofia. Jo dapat melihat Shofia diikat di sebuah kursi. Wajahnya terlihat berantakan. Jo mengepalkan tangannya.
Tak lama kemudian, seorangpun yang dia kenal memasuki ruangan itu. Orang itu adalah Andre.
__ADS_1
"Ayolah Shof. Kamu jangan keras kepala."Andre berusaha menyentuh pipi Shofia. Kamu shofia segera memalingkan wajahnya.
"Pergi kau penjahat!" teriak Shofia.
"Jangan teriak-teriak sayang. Suaramu akan habis nanti. Kau hanya boleh berteriak saat memanggil namaku saat di ranjang." kata Andre yang memandang Shofia dengan penuh nafsu. Dia berusaha mencium bibir Shofia.
"Cih. Pergi kau! Kau tak boleh melakukannya. Hanya suamiku yang boleh menyentuh tubuhku." Shofia meludah ke arah Andre.
"Aku yang akan jadi suamimu sayang."
"Aku tak sudi."
"Jangan melawan." Andre memegang tangan Shofia yang telah ia ikat. Diciumnya tangan itu.
"Hentikan!" Teriak Jo lantang menghentikan tindakan Andre.
"Hei kalian! Cepat serang mereka." teriak Andre kepada anak buahnya. Namun tidak ada satupun yang datang.
"Anak buahmu sudah kami urus. jangan pikirkan mereka."kata Tomy.
"Breng**k kalian!" teriak Andre.
"Jangan teriak-teriak. Suaramu hanya boleh keluar saat aku menyiksamu." kata Jo pelan sambil mendaratkan genggaman tangannya pada pipi mantan kakak kelasnya itu.
Andre terjatuh ke lantai. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Jo, sebaiknya tenangkan istrimu dulu." Kata-kata Tomy segera menyadarkan Jo. Dia tak mau Shofia melihat kekejamannya. Jo segera menghampiri Shofia.
"Jo aku takut. hiks hiks."
"Jangan takut Sayang. Aku disini."
Jo segera membawa Shofia dalam pelukannya. Shofia menumpahkan air matanya di dalam pelukan hangat suaminya yang menenangkannya. Kini dia lega, suaminya sudah datang dan menolongnya.
"Sayang." Jo memanggil istrinya saat menyadari tak ada gerakan dari istrinya. Dengan pelan dia memanggil Shofia, namun tak ada jawaban. Jo segera menepuk pipi shofia. Namun tetap tak ada jawaban. Jo memerimsa keadaan istrinya. Ternyata Shofia pingsan.
"Tomy. Aku ingin kau menghukum baj*ng*n yang telah membuat istriku menjadi seperti ini!"
"Baik Jo."
Jo segera membawa Shofia pergi. Di luar mereka berpapasan dengan Edi dan Udin yang telah membawa polisi.
"Pelakunya ada di dalam pak polisi. Saya akan membawa istri saya ke rumah sakit." kata Jo kepada salah satu polisi.
"Baik." para polisi segera melakukan tugasnya. Menangkap anak buah Andre. Andre sendiri dalam keadaan mengenaskan. Wajah dan beberapa bagian tubuhnya terdapat banyak memar dan juga luka.
Edi dan Udin mengikuti Jo untuk membawa Shofia ke rumah sakit. Mereka berdua hanya diam di kursi depan. Mereka masih belum tahu tentang pernikahan Shofia dan juga Jo. Mereka masih syok atas pengakuannya pada polisi tadi.
Sedangkan di kursi belakang, Jo memangku kepala Shofia di pahanya. Diciumnya tangan istrinya ya g sedari tadi dia genggam.
"Sayang. Bangunlah." kata Jo di sela-sela dia membelai kepala Shofia.
.
__ADS_1
.