
Seruan kata "Sah" sudah menggema di dalam masjid besar di area pondok Al-Ikhlas, Malang. Semua orang bahagia karenanya. Dalam sekali tarikan nafas, Rizwan dengan lantang mengucapkan ikrar kalimat ijab nya. Kalimat ajaib yang telah menghalalkan dirinya untuk sang istri dan sebaliknya.
Bu Hamidah melepas anaknya menjadi seorang suami dengan tangis haru kebahagiaan. Beliau duduk di belakang sang putra bersama Rumi, adik Rizwan dan Shofia yang selalu menggenggam erat tangan ibu dari sahabatnya.
Orang bilang, tak ada yang namanya hanya sahabat antara laki-laki dan perempuan. Taoi sungguh hanya ikatan sahabatlah yang telah mengikat Rizwan dan Shofia. Bahkan keduanya saling menyayangi sebagai saudara. Rizwan yang berumur dua tahun di atas Shofia selalu berusaha melindungi Shofia sedari dulu.
"Nduk, setelah ini kamu juga harus ada yang ngehalalin." kata bu Hamidah menengok ke arah Shofia. Shofia tersenyum getir karenanya. Siapa yang akan mengucapkan ikrar suci itu untuknya saja dia belum ada calon. Boro-boro calon, pandangan saja belum ada...
Sandy? Sandy memang orang yang baik. Shofia juga sudah membuka hati untuknya. Tapi Shofia belum yakin untuk memberi ruang di hatinya untuk rekan sesama guru itu.
Har? Bahkan Shofia saja belum bertemu dengannya. Dia belum mengenal sosok Har. Dia hanya mendengar cerita dari keluarga Ziana, Rizwan bahkan Bu Hamidah ikut andil meyakinkan Shofia untuk menerima pria itu.
Sepertinya semua orang yang menyayanginya mendukung untuk menerima Har. Tapi dia sendiri saja belum tahu Har itu seperti apa.
"Insya Allah bu. Ibu Do'akan saja supaya jodoh Shofia dekat."
"Aamiin. Kamu itu sudah ibu anggap anak sendiri."
"Iya bu. Shofia juga sayang sama ibu. Shofia senang karena banyak yang menyayangi Shofia."
Shofia tidak bohong. Semua Orang yang mengenal Shofia pasti akan meyanyangi gadis itu. Dia bahkan seperti mempunyai tiga orang ibu yang sama-sama menyayanginya sekarang.
Keluarga Zakaria dan keluarga Rizwan juga menyayangi Shofia seperti bagian dari keluarga mereka.
Tapi hati tak bisa dibohongi. Walaupun banyak orang yang menyayanginya, namun hatinya masih merasa kosong. Tak ada tempat berbagi rasa. Selama ini segala rasa dia simpan sendiri.
"Aku harap mbak jodoh sama mas Har." kata Rumi yang mendengar percakapan dua orang wanita beda generasi di sebelahnya. Dia juga menganggap Shofia seperti kakak perempuannya. Mereka berdua juga terbilang dekat.
__ADS_1
"Wah kalau semua orang mendo'akan begini kemungkinannya besar." Shofia tersenyum. Ini Rizwan meminta dukungan pada siapa saja sebenarnya. Belum apa-apa semua sudah pada tahu saja...
Setelah ijab kabul selesai keluarga Rizwan di ajak ke sebuah ruangan besar yang sudah disediakan. Sedangkan Rizwan sendiri di ajak ke tempat lain. Mungkin dia harus berganti pakaian dengan menggunakan pakaian khas Jawa untuk acara selanjutnya, Temu Pengantin.
Di dalam ruangan tempat keluarga Rizwan istirahat sudah tersedia banyak kudapan dan berbagai macam minuman yang menggugah selera untum disantap sebelum acara walimatul Ursy sebentar lagi.
Dua orang dari pihak pengantin wanita menghampiri mereka. Mencari penanggung jawab para pengiring pengantin.
Paman Rizwan yang diberi tanggung jawab langsung menemui kedua orang itu. Mereka berbicara masalah acara yang akan berlangsung. Ternyata disini ada pembagian tugas untuk pengisi acara.
Setelah kedua orang itu pergi, paman Rizwan menghampiri bu Hamidah untuk menyampaikan pesan dari orang itu tentang pembagian pengisi acara.
Paman Rizwan sudah mempunyai daftar untuk mengisi beberapa acara. Namun dia belum mempunyai orang yang bisa mengisi acara untuk acara Qiro'at. Ya, Qiro'at adalah salah satu bagian acara yang dibebankan pada keluarga Rizwan.
Ibu Hamidah berfikir keras. Kira-kira siapa yang bisa qiro'at disini. Karena tempat acara jauh, dia tidak begitu banyak membawa keluarga besarnya. Jadi sulit menemukan siapa orang yang bisa dipercaya untuk dipasrahi tugas.
"Nduk, Shof... Ibu minta bantuan sama kamu." kata bu Hamidah setelah dia sampai di tempat Shofia duduk. Shofia langsung fokus pada sang ibu sahabatnya itu.
"Ada apa bu? Apa yang bisa Shofia bantu?" Shofia cemas karena sepertinya ini keadaan darurat. Bagi Bu Hamidah memang keadaan darurat. Sialan kehormatan keluarganya sedang dipertaruhkan disini. Apabila mereka tidak sanggup menjalankan Tugasnya bukankah mereka akan malu pada keluarga besan?
Tapi kekhawatiran Shofia bukan karena itu. Dia takut ada masalah pada pernikahan sahabatnya itu. Dia masih trauma dengan gagalnya pernikahannya dulu.
"Nduk. Tolong kamu nanti qiro'at ya. Keluarga kita diberi bagian untuk qiro'at. Sedangkan keluarga yang ibu bawa semua tidak ada yang bisa. Kamu mau ya?" Shofia menghela nafas. Dia lega tidak terjadi masalah pada acara ini.
"Baiklah bu. Shofia kan anak ibu. Tentu saja Shofoa akan senang bisa membantu." bu Hamidah, Ziana dan Rumi senang mendengar jawaban Shofia.
Tak berapa lama acara temu pengantin akan dilaksanakan. Rizwan sudah kembali ke dalan rombongan dengan menggunakan pakaian khas Jawa untuk acara ini. Dia terlihat tampan.
__ADS_1
Rizwan digandeng oleh ibu dan pamannya di sisi kanan dan kiri. Di belakangnya, semua keluarga beriringan masuk ke dalam tempat walimatul ursy. Segala prosesi tradisi temu pengantin sudah selesai dilakukan. Rizwan dan istrinya didudukkan ke atas panggung untuk menjalani proses yang masih panjang sebagai pengantin.
"Prosesnya banyak ya mbak." kata Ziana pada Shofia.
"Iya Zi. Ini saja aslinya masih sebagian. Walaupun ini lingkungan pondok, sepertinya keluarga Pak Kiai sangat menjunjung tinggi adat disini"
"Benar mbak. Memang sebaiknya seperti itu kan? Jadi Penghubungan antara adat jawa dan juga Islam bisa harmonis."
"Benar."
Ketiga gadis itu tertawa tertahan ketika melihat wajah Rizwan selama prosesi acara. Dia kelihatan kebingungan menjalankan prosesnya. Dia baru tahu jika prosesi pernikahan di tempat istrinya begitu banyak dan ribet menurutnya.
"Mas Rizwan kelihatan kesel banget tuh. Lihat mukanya dari tadi ditekuk." kata Rumi. Dia yang tersisa diantara ketiga gadis itu.
"Masmu bukan lagi kesel Rum. Dia kebingungan tahu. Lihat mukanya aja kayak orang linglung gitu." kata Shofia. Rumi segera mengamati wajah sang kakak.
"Benar. Wah ini bisa dijadikan. bahan olokkan beberapa minggu kedepan." kata Rumi senang.
"Emang kamu berani masih mengolok mas Rizwan kalau dia sudah membawa istrinya nanti?" tanya Ziana.
"Benar juga ya. Tapi pasti ada kesempatan untuk itu."
"Kamu itu nggak berubah. Dari dulu suka sekali menggoda masmu." Shofia sudah mengenal lama keluarga Rizwan. Jadi dia sudah hafal kebiasaan adik sahabatnya ini.
"Istrinya mas Rizwan cantik ya." kata Ziana
"Benar. Kelihatannya juga baik. Aku yakin dia akan bisa menjadi temanmu Rum." kata Shofia.
__ADS_1
Istri Rizwan memang cantik. Dia juga baik. Beberapa kali Shofia melakukan panggilan video dengan istri temannya itu. Selama dia bersahabat dengan Rizwan, dia sudah tahu jika Rizwan sudah punya calon istri. Jadi Rizwan juga mengenalkan Shofia pada calon istrinya agar tidak terjadi kesalah fahaman.