
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh" sapa Shofia pada anak didiknya yang tidak dia jumpai selama satu minggu lebih karena libur semester.
"Wa'alaikum salam Warohmatullah Wabarokatuh."
"Selamat pagi anak-anakku"
"Selamat pagi bu guru cantik."
"Kalian ini. Masih suka godain ibu ya." perkataan Shofia membuat semua siswanya tertawa.
"Gimana liburan kalian?"
"Menyenangkan bu. Aku pergi ke WBL." kata siswa A
"Aku ke rumah Budhe di Bandung." kata siswa B
Dan masih banyak lagi laporan siswa tentan bagaimana mereka menghabiskan liburan mereka.
"Bu, kami dengar ada kabar bahagia."
Perkataan salah satu siswa membuat Shofia mengarahkan pandangan padanya.
"Maksudnya apa Rena?" tanya Shofia pada Rena, siswa yang tadi berkata. Kini semua fokus pada Rena, menunggu jawaban dari Rena.
"Ayolah bu. Masak kabar baik dari ibu masih ibu sembunyikan..." jawaban Rena membuat Shofia tersenyum. Kini ia tahu apa yang dimaksud oleh siswanya itu.
"Oh itu. Baiklah. Sekarang dengarkan baik-baik kabar bahagia yang akan ibu sampaikan pada kalian."
"Kabar bahagia Apa bu?"
"Emm saya sudah menikah dengan dokter Jo. Kalian kenal kan dokter Jo?"
Bukannya menjawab, para siswa malah berteriak-teriak senang. Mereka banyak yang mengucapkan selamat pada Shofia. Banyak yang berkata bahwa dokter Jo adalah pasangan yang sesuai dengan Shofia.
"Bu, kok bisa menikah dengan dokter Jo?"
"Kalian ini kepo ya."
"Ayolah bu. Tolong cerita"
"Baiklah-baiklah. Saya dan dokter Jo itu sebenarnya teman lama. Dia sama seperti ibu. Alumni sekolah ini juga. Dia dulu sahabat ibu. Dia yang mengajari ibu bermain gitar."
"Wah CLBK dong bu?"
"Tepat! Dokter Jo memang cinta pertama ibu. Tapi kami tidak pernah pacaran lo."
"Wah bu kami turut senang."
"Terima kasih."
"Kami fikir dulu pak Rizwan pacar ibu."
"Hahaha. Bukan anak-anak. Kami hanya berteman."
"Sepertinya dulu pak Rizwan sangat perhatian sama ibu."
__ADS_1
"Itu karena dia sahabat baik ibu. Kami sudah berteman sejak kami masih kuliah."
"Oh begitu."
"Kapan syukuran nya bu?"
"Bentar ya kalau itu. Lusa ibu dan dokter Jo baru mengadakan resepsi. Pasti ibu akan mengadakan syukuran untuk kalian. Tidak mungkin kan jika acaranya digabung dengan acara resepsi."
"ya bu."
*****
Di tempat lain, tepatnya gedung yang disewa untuk acara resepsi pernikahan Shofia dan Jo. Jo mengajak teman-temannya untuk ikut mempersiapkan acara resepsi pernikahannya.
Jo ingin memberikan kejutan pada Shofia. Kegiatan itu dilakukan oleh mereka dengan sembunyi-sembunyi tanpa memberitahu Shofia.
Kepada Shofia Jo bilang akan pergi ke rumah sakit. Padahal Jo saat itu tidak dapat Sift. Padahal Jo ingin mengatur sendiri acara resepsi pernikahannya.
"Mbak tolong besok disini di tambah bunga mawar merahnya ya." kata Jo pada Mbak Weni, pemilik WO yang disewanya untuk acara itu. Dia saudara dari Edi.
Jo sengaja menyewa jasa WO agar keluarganya tidak repot. Karena di rumah Shofia maupun Jo sudah ada acara walimatul 'ursy.
Acara resepsi pernikahan itu juga menggunakan konsep modern. Tamu undangannya pun hanya tamu Jo dan shofia, sedangkan tamu orang tua akan diundang untuk resepsi yang diadakan di rumah.
"Mas Jo, Fotonya sudah selesai dicetak. Mau dipasang sekarang?"
"Bisa saya lihat dulu mbak?"
"Tentu."
Foto itu akan mengingatkan masa-masa indah yang telah mereka lalui.
Bahkan foto kebersamaan Jo, Zakaria dan Rizwan saat di pondok pun ada disana. Ada juga foto Shofia, Zakaria dan Rizwan saat di Surabaya. Foto-foto itu seperti sebuah cerita perjalanan cinta mereka.
Shofia pernah bersama dengan Jo dan Zakaria dalam waktu yang berbeda. Shofia dan Zakaria pernah dipertemukan oleh Rizwan. Kejadian itu juga hampir terulang pada Shofia dan Jo saat Rizwan berniat mengenalkan mereka berdua.
Kisah cinta Shofia seperti hanya berputar dengan tiga orang tampan. Jo sebagai suaminya, Zakaria yang sempat menjadi tunangannya dan Rizwan sebagai sahabat baiknya.
Jo sangat menghargai masa lalu Shofia, Dia tidak pernah meminta melepaskan cincin Zakaria dari tangan Shofia. Jo bahkan bersyukur karena Zakaria pernah memberikan kebahagiaan untuk Shofia, oleh sebab itu, Jo sengaja meminta Mbak Weni untuk memasang foto Zakaria di atas pelaminan Jo dan Shofia.
Jo berharap Shofia akan senang dengan adanya foto Zakaria. Walaupun dia tahu bahwa Shofia pernah mencintai Zakaria, namun baginya itu hanya masa lalu indah untuk Shofia.
"Sudah bagus mbak. Sudah bisa dipasang."
"Oke mas Jo."
"Oh ya mbak, tlong jangan sampai lupa membingkai foto itu dengan bunga-bunga."
"Itu sudah pasti. Oh ya, ini beneran foto yang diletakkan di depan foto ini?" tanya Weni sambil menunjuk foto masa kecil Shofia dan Jo saat mereka berboncengan sepeda. foto itulah yang akan dipajang di depan gedung.
"Iya mbak. Karena dengan itulah dulu aku bisa dekat dengan Shofia."
"Sepertinya kisah kalian sangat indah."
"Tentu. Banyak hal yang kami lalui hingga kami bisa berada di tahap ini. Banyak cobaan, halangan, dan pengorbanan dibalik kebahagiaan kami sekarang."
__ADS_1
"Memang benar-benar kisah cinta yang luar biasa. Kalian sudah mengenal dari kecil dan terpisah sangat lama. Namun setelah bertemu cinta kalian masih tetap terjaga."
"Kisah kami begitu unik mbak."
"Itu juga terlihat dengan jelas dari semua foto yang ada. Aku sangat kagum dan bangga menjadi bagian dalam resepsi pernikahan ini."
"Terima kasih. Kalau begitu kami pamit mbak." kata Jo yang melihat semua temannya sudah selesai dengan kegiatan mereka dan berjalan menghampirinya.
"Oke. Besok aku kirimkan hasilnya kalau semua sudah tertata, jadi kamu bisa mengevaluasi barang kali ada yang kurang." kata Weni.
"Oke. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
*****
Setelah dari gedung, Jo dan teman-temannya latihan band mereka yang akan tampil untuk mengisi acara itu. Tentu saja dengan vokalis dan Gitaris lain, nantinya Crazzy band juga hadir.
"Tapi Shofia tahu kan lagu apa yang akan kalian nyanyikan?" tanya Edi. Di awal acara, rencananya Shofia dan jo akan duet.
"Belum. Aku belum memberitahu konsepnya pada Shofia. Tapi dia sudah hafal lagu itu. Kami sering nyanyi bareng kalau di rumah."
"Aku jadi membayangkan rumah tangga kalian." kata Udin membuat semua temannya mengarah padanya.
"Membayangkan apa?" tanya Jo penasaran dengan apa ya g dipikirkan temannya iti mengenai rumah tangganya dengan Shofia yang bahkan belum berjalan dua minggu.
"Rumah kalian pasti tidak akan pernah sepi. Setiap berdua pasti menyanyi."
"Hahahaha ya tidak seperti itu juga kali Din. Kami menyanyi kalau suasana mendukung."
"Dan aku yakin setiap saat bagimu adalah mendukung jika kamu dekat Shofia. Iya kan Jo?" kata Elin penuh selidik.
"Kalau itu benar. Tapi suasana mendukung bukan hanya dengan menyanyi kan? Tindakan itu lebih penting untuk sekarang."
"Sudah Jo. Jangan dibahas terlalu dalam. Kasian Edi dan Elin yang belum sah."
"Kau benar Din." Jo dan Udin melakukan tos. Kemudian keduanya tertawa bersama.
Sedangkan Edi dan Elin hanya bisa pasrah dan mengalah menerima olokan dari Jo dan juga Udin. Wajah Edi berubah menjadi gelap menahan kesal. Sedangkan Elin memasang mode on cemberut miliknya.
*
*
*
Jangan lupa klik π dan β€
VOTE π
Rate βlima
Kritsar yang membangun juga ditunggu π
Salam hangat dari author π
__ADS_1