Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Rencana Jo


__ADS_3

Pagi ini Ziana mengajak Zahra dan Shofia memasak bersamanya. Rencananya mereka akan makan bersama sebelum keempat tamu istimewa keluarga ndalem pulang ke tempat mereka masing-masing.


Mereka bertiga masak dengan keseruan mereka di dapur ndalem. Umi memperhatikan ketiganya yang sedang masak sambil berbincang-bincang dan bercanda dari kursi di meja makan ndalem.


Jo dan Rizwan berada di ruang tamu ndalem.


"Har, aku minta kamu bahagiakan Shofia."


"Tentu saja. Tanpa diminta pun aku akan melakukan itu."


"Shofia itu seorang wanita yang istimewa. Bagiku dia bukan hanya sekedar sahabat. Dia sudah seperti adik ku sendiri."


"Ya Riz. Kamu tenang saja."


"Aku percaya. Sudah lama aku tidak melihat senyum cerah Shofia. Sejak ditinggal Zaka Shofia kesepian. Memang benar bibirnya tersenyum. Tapi aku tahu tidak begitu dengan hatinya. Hatinya sudah lama kosong. Dan aku lihat senyum bahagia Shofia lagi saat dia bersamamu. Jaga selalu senyum Shofia yang seperti itu."


"Kamu sangat mengenalnya Riz."


"Tentu saja. Aku sudah lama menjadi sahabatnya. Bagaimana dia dan seperti apa penderitaan yang paling membuatnya down akulah yang paling tahu."


"Terima kasih Riz, kamu sudah menemani Shofia saat dia sendiri."


"Itulah gnaku bagi Shofia. Sejak dulu akulah yang menutup kesendirian nya. Dulu sebelum bertemu dengan Zaka, akulah yang selalu menjadi temannya. Di kampus dia tidak punya teman dekat wanita Har."


"Kenapa?"


"Kamu tahu kan dia itu cantik iya, pinter iya, baik iya, sopan iya. Siapa juga yang nggak kepincut sama dia. Dan itulah yang menyebabkan para wanita itu iri padanya. Dia dianggap sebagai perebut para laki-laki yang menjadi incaran para wanita itu."


"Oo begitu."


"ya. Dulu aku sering jadi pasangannya saat ada pesta. Hanya untuk jadi Bodyguardnya saja. Dimana pun Shofia berada, dia sudah seperti magnet saja."


"Ada-ada saja"


"Kamu tak percaya?"


"Aku percaya."


"Makanya, jaga Shofia baik-baik."


"Sebenarnya Riz, sudah sejak dulu Shofia seperti itu. Tapi dia pernah merasa bahwa dia menjadi pusat perhatian. Sebenarnya aku mengajak Shofia kesini karena aku ingin Shofia melupakan kejadian kemarin."


"Kejadian apa!?"


"Shofia diculik."


"Apa?!"


"Itu adalah hari terburuk bagiku. Aku tidak akan membiarkan hari itu terjadi kembali."


"Siapa pelakunya?"

__ADS_1


"Orang lama. Dia dulu juga pernah hampir melakukannya. Tapi berhasil aku gagalkan. Dan kemarin aku kecolongan dan dia berhasil."


"Syukurlah dia baik-baik saja."


"Ya."


"Berjanjilah padaku Jo, Kamu akan selalu membahagiakan dan melindunginya."


"Tentu Riz. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk itu."


"Mas Har, mas Rizwan. Ayo sarapan dulu." kata Ziana menghentikan pembicaraan keduanya.


Rizwan dan Jo segera mengikuti Ziana ke ruang makan. Disana sudah ada semua anggota keluarga ndalem berserta Shofia dan Zahra. Jo segera duduk di samping Shofia sedangkan Rizwan duduk di samping Zahra.


Mereka makan dalam diam. Menikmati rizki yang telah diberikan oleh Allah SWT berupa makan yang ada di hadapan mereka.


Sarapan pagi ini terasa istimewa karena ini adalah hari terakhir bagi mereka untuk sarapan bersama. Mungkin mereka bisa berkumpul lagi seperti ini saat pernikahan Ziana tiga bulan lagi.


"Har, kami titip Shofia padamu. Bahagiakan dia. Lindungi dia." kata Abah setelah semua menghabiskan makanan di piring mereka.


"Ya Abah. Har berjanji."


"Bagus. Shofia itu sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri." tambah Umi.


"Iya Umi."


"Kami lihat kalian pasangan yang serasi." kata Fahmi.


"Memangnya kamu sudah kenal dari mereka kecil?"


"Ya tidak. Tapi aku pernah melihat foto mereka berdua saat masih kecil. Beuuh bikin baper pokoknya." Ziana Membayangkan foto yang dulu pernah ia lihat dan ia kirim ke handphone nya. Sampai sekarang dia masih sering melihat foto itu.


"Zi... " Shofia tidak mau jika Ziana sampai menunjukkan foto itu pada keluarga ndalem. Dia pasti malu karena sejak kecil sudah mempunyai foto yang memang mesra.


Ziana hanya tersenyum. Dia faham dengan kode dari Shofia.


"Memangnya Shofia dan Har sudah lama kenal? Bukannya mereka dikenalkan Rizwan?" tanya mbak Aisyah.


"Mereka sudah sejak kecil saling mengenal. Sudah saling mencintai. Bahkan kisah mereka lebih dulu daripada kisah mbak Shofia dengan mas Zaka."


"Zi... " Shofia meminta Ziana menghentikan ucapannya. Dia kan malu.


"Kenapa Shof? Aku juga ingin tahu cerita kalian."


"Tenang mbak. Nanti aku ceritakan secara eksklusif setelah yang menjadi pemerannya pulang." kata Ziana. Shofia dan yang lainnya harus segera pulang.


*****


Setelah bersiap-siap dan berpamitan kedua mobil yang ditumpangi kedua pasang suami istri itu meninggalkan pondok pesantren Miftahul Huda. Kedua mobil itu melaju denga. tenang di jalanan pegunungan yang masih asri itu.


Setelah turun gunung, kedua mobil itu terpisah. Jo memiliki rencana sendiri. Dia ingin mengajak Shofia untuk liburan sebelum kembali ke Kediri dan akan banyak aktifitas yang menunggu mereka. Rizwan sudah tahu rencana Jo dan dia sangat mendukungnya.

__ADS_1


"Sayang kita istirahat dulu sebentar ya. Sudah masuk waktu Dhuhur juga." kata Jo sambil melirik Shofia yang duduk di sebelahnya.


"Iya. Aku juga sudah lapar." Jo mengusap pelan kepala Shofia.


"Sayang, kamu tunggu di warung itu saja." Jo menunjuk warung yang ada di sebelah masjid.


"Aku kan juga harus Sholat."


"Kamu sudah selesai?" Jo tersenyum senang.


"Sudah."


"Bagus. Ayo sholat."


"Oke."


Shofia dan Jo menuju tempat wudlu yang terpisah. Setelah wudlu mereka berdua sholat dhuhur berjamaah.


Setelah makan mereka melanjutkan perjalanan mereka. Shofia yang memang tidak mengenal jalan tidak tahu jika jalan yang mereka lalui bukanlah jalan yang bisa membawa mereka pulang.


Jo melirik Shofia, ternyata istrinya itu tengah tidur. Padahal ini adalah jalanan yang indah yang akan membuat Shofia tersenyum senang. Jo membawa Shofia berlibur di lereng gunung Olis. Dia sudah menyewa sebuah vila disana.


Sore hari mereka sampai di vila yang disewa Jo, Shofia masih tidur. Pasti dia kecapekan, fikir Jo.


Jo turun dan meminta kunci dari lembaga villa yang rumahnya berada di sebelah bila itu. Setelah Jo membuka bola, Jo kembali dan mengangkat tubuh Shofia ala bridal style dan membawanya masuk.


Dengan Hati-hati Jo membaringkan tubuh Shofia di atas kasur. Setelah itu dia segera mandi.


Tak lama setelah Jo masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, Shofia bangun. Dia mengedarkan pandangannya. Dia tidak mengenal kamar itu.


"Ini dimana? Dimana Jo?" Shofia segera turun dari kasur itu. Dia mendengar suara gemericik air dari balik pintu di kamar itu.


"Sayang..." panggilnya. Dia berharap suara Jo yang akan terdengar. Jujur, dia masih takut akan penculikan yang terjadi beberapa hari yang lalu.


"Iya sayang. Aku di kamar mandi."


"Huft. Syukurlah." gumamnya."Iya sayang." lanjutnya dengan suara keras.


*


*


*


Maaf banyak Typo bertebaran πŸ™


Jangan Lupa Like πŸ‘


VOTE 😁


Rate ⭐lima

__ADS_1


Kritik dan Saran juga di tunggu 😘


__ADS_2