
πBiarlah rasa ini kubawa pergi. Berbahagialah walau tanpaku. π
Keluarga Shofia sudah menjemputnya. Mereka sudah berada di ndalem. Shofia juga berada disana. Umi menangis. Beliau mengerti bagaimana perjuangan putranya demi gadis yang berada di depannya itu. Beliau sangat sedih mendengar kata pamit dari Mirza.
"Sudah Mi. Jangan menangis." kata Abah sambil memegang lengan Umi untuk menguatkan. Sebenarnya beliau juga sedih. Dia juga setuju jika Shofia bisa berdampingan dengan Zakaria. Namun apalah daya dia tidak bisa menahannya.
Kedua orangtua Shofia tidak faham dengan apa yang terjadi. Mengapa keluarga ndalem sampai menangisi kepulangan anaknya tersebut. Mereka juga mendengar isak tangis dari dalam pondok.
'Kenapa keluarga ndalem sampai menangis. Apa uang sebenarnya terjadi disini." Batin Khusnul.
"Shofia mohon maaf Abah Umi jika selama disini Shofia merepotkan." kata pamit Shofia belum selesai dan Umi sudah menariknya ke dalam pelukannya. Umi semakin tersedu memeluk Shofia.
"Shofia Umi masih berharap sama kamu." Shofia begitu terperangah mendengar penuturan Umi. Berarti selama ini keluarga ndalem mengetahui apa yang terjadi diantara mereka.
"Jika ada kesempatan lagi. Umi harap kalian berjodoh."
"Insya allah Mi. Do'akan Shofia Mi."
__ADS_1
"Pasti nak. Pasti Umi akan mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih Umi." Shofia melapaskan pelukan Umi.
Keluarga Shofia segera pamit. Khusnul begitu kaget saat menerima pelukan dari Umi. Khusnul tidak mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya selama berada di pondok. Shofia tidak pernah bercerita.
Setelah keluar dari ndalem Shofia memperhatikan ndalem sekali lagi. Saat memandang jendela kamar Zakaria dia melihat sang empunya kamar yang juga memandangnya. Terlihat ada air mata diujung mata Zakaria. Shofia tersenyum ke arahnya. Senyum perpisahan yang manis untuk Zakaria.
****
"Mbak sebenarnya apa yang terjadi? Apa Umi akan selalu menangis melepas santrinya?" tanya bunda ketika mereka sudah berada dalam.
****
Hari ini di pondok menjadi hari yang penuh dengan air mata. Semua kehilangan melepas kepergian Shofia. Santriwati disana menyayangi Shofia. Mereka mengenal Shofia sebagai seorang gadis yang baik. Mereka juga setuju jika Shofia lah yang kelak mendampingi gus Zakaria. Namun ternyata takdir berkata lain.
Keempat sahabat Shofia juga tak henti-hentinya menangis. Mereka mengingat setiap moment bahagia yang telah mereka lewati bersama. Selama tiga tahun ini mereka bersama, melukis indahnya cerita kehidupan.
__ADS_1
Fatimah, Nur dan Salwa tetap di pondok. Mereka melanjutkan kuliyah disana. Mereka sebenarnya sudah membujuk Shofia untuk kuliyah bersama disana, namun Shofia terus menolak.
Mereka tidak tahu jika alasan kepergian Shofia adalah untuk menghindari Zakaria. Mereka juga tidak tahu jika sahabat mereka telah jatuh cinta terhadap gus mereka. Mereka hanya tahu jika Shofia ingin pengalaman baru dengan kuliyah di luar kota.
****
Keluarga ndalem berkumpul di kamar Zakaria. Mereka memberi kekuatan untuk anggota keluarga mereka. Mereka semua faham disini Zakarialah orang yang paling terpukul.
"Abah. Aku mau kuliyah di Kairo." kata Zakaria mengagetkan semeua orang. Dulu dia menolak kuliyah disana.
"Pergilah nak." kata Abah. Beliau mengerti alasan dari keputusan anaknya.
"Niatkan yang baik nak kalau mau menuntut ilmu. Bukan karena ingin melupakan Shofia saja."
"Niatku bukan untuk melupakan Shofia Umi. Perkataan Shofia kemarin menyadarkanku jika selama ini aku telah melakukan kesalahan." Zakaria menghela nafas. Dia teringat kata-kata Shofia. "Selama ini aku tidak fokus pada pendidikan. Shofia benar. Kami masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang lebih jauh lagi. Jika memang aku dan Shofia berjodoh, pasti kami dapat bersatu."
Perkataan Zakaria membuat semua keluarga lega. Iti berarti Zakaria sudah dapat mengiklaskan Shofia. Mereka juga akan mendukung apa yang dilakukan Zakaria. Zakaria sudah semakin dewasa. Dia tahu apa uang terbaik untuk hidupnya.
__ADS_1
Mulai sekarang Zakaria bertekad akan bersungguh-sungguh menimba ilmu. Dia juga ingin menata kehidupan sesuai tuntunan Allah SWT.