Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Lamaran


__ADS_3

Keluarga besar Shofia sedang sibuk menyambut tamu yang akan datang. Bukan tamu biasa, melainkan keluarga Zakaria yang datang untuk melamar Shofia.


Tiga bulan setelah pertemuan itu keduanya memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka dengan ikatan pertunangan. Dan setelah Shofia mendapatkan gelar sarjana, mereka akan segera menikah.


Semua keluarga sangat bahagia. Keluarga Shofia tidak menyangka akan berbesanan dengan Abah. Mereka sudah tahu bagaimana kisah mereka berdua. Saat Zakaria datang secara pribadi untuk meminta Shofia, dia menceritakan yang terjadi selama ini antara Dirinya dan juga Shofia.


Malam ini Zakaria datang bersama seluruh keluarganya. Wajah seluruh keluarga terlihat bahagia. Umi sampai meneteskan air mata bahagianya begitu sampai di rumah Shofia.


Shofia datang ke ruang acata dengan digandeng oleh ibu dan adiknya. Zakaria terpesona akan kecantikan Shofia malam itu. Shofia didandani dengan make up tipis natural yang menegaskan kecantikannya.


"Matanya dijaga Zak. Jangan sampai lepas dari tempatnya" sindir Yahya. Semua orang tertawa melihat Zakaria gugup. Shofia tersenyum melihatnya.


"Zakaria kamu ini bikin malu." kata Abah.


"Maaf Bah. Shofia cantik sih." kata Zakaria sambil menggaruk tengkuknya. Semua orang tersenyum melihat tingkah Zakaria.


Keluarga Zakaria diwakili oleh seorang pria paruh baya yang merupakan adik dari Abah. Beliau mewakili keluarga Abah untuk meminang Shofia. Keluarga Shofia pun menerima dengan senang hati. Selama acara berlangsung Zakaria beberapa kali melirik ke arah Shofia.


Acara selanjutnya adalah saling tukar cincin. Umi mewakili Zakaria untuk memakaikan cincin di jari Shofia.

__ADS_1


"Mi biar Zaka sendiri. Zaka bisa kok."


"Kamu ini! Apa mau langsung disahkan saja?" kata Umi.


"Kalau Zaka siap-siap saja Mi. Shofia tuh yang masih pengen nyiksa Zaka." kata Zakaria.


"Sabar dulu ya nak Zaka. Biar Shofia nya lulus dulu." kata Mirza.


"Iya. Nunggu tiga tahun saja saya kuat. Masak tinggal nunggu satu tahun saya menyerah."


"Mohon maaf pak bu Zakaria ini memang suka bercanda." kata Umi.


"Sudah Shofia biarkan calon suamimu itu. Sini kamu sama Umi saja." Kata Umi mendekati Shofia.


"Shofia dengan ini Umi minta kesediaan kamu untuk menjadi calon menantu Umi. Semoga hubungan ini diridloi oleh Allah SWT." kata Umi


"Insya Allah saya bersedia Umi." jawaban Shofia. Umi kemudian memasangkan cincin di jari manis Shofia. Semua orang bertepuk tangan. Umi segera membawa Shofia ke dalam pelukannya.


"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih nak. Berkat kamu Zakaria semangat menempuh pendidikannya lagi." kata Umi ketika memeluk Shofia.

__ADS_1


Semua orang tersenyum bahagia. Mereka tahu kisah antara Zakaria dan Shofia. Kedua orang itu sudah memendam perasaan selama bertahun-tahun. Apalagi keluarga ndalem yang tahu betul bagaimana perjuangan Zakaria untuk mendapatkan hati Shofia. Bahkan setelah itu mereka harus berpisah untuk menata kehidupan mereka masing-masing sebelum mereka berdua dipersatukan.


Acara dilanjutkan dengan santai. Makan bersama dengan canda tawa diantara mereka.


Shofia membawa Ziana ke dalam kamarnya. Dia masih kangen dengan calon adik iparnya itu.


"Mbak aku kangen sama mbak." kata Ziana sambil memeluk Shofia.


"Aku juga kangen sama kamu Zi. Sudah lama kita tidak bertemu."


"Selama ini mbak hilang kemana? Di acara pondok tidak pernah hadir."


"Maaf Zi. Waktu itu aku masih belum siap bertemu dengan masmu. Aku takut kehilangan kontrol." kata Shofia jujur. Selama ini saat ada undangan dari pondok dia ingin sekali hadir. Tapi dia takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Dia juga takut seandainya Zakaria sudah menikah dengan wanita lain.


"Mbak salah besar jika itu yang mbak khawatirkan."


"Iya aku tahu. Masmu sudah cerita bahwa se telah kepergianku waktu itu dia juga pergi ke Kairo."


"Aku nggak nyangka akhirnya mbak mau menerima mas Zaka."

__ADS_1


"Aku juga nggak nyangka semua ini terjadi."


__ADS_2