
Jum'at pagi memang waktunya untuk bermalas-malasan. Tapi itu bukanlah sifat Shofia dan teman-temannya. Mereka selalu semangat menjalani hari jum'at untuk melakukan beberapa kursus yang diadakan di ponpes.
Hari ini Ziana sedang berhalangan, jadi dia dari tadi belum bangun. Saat Shofia membangunkannya dia tidak kunjung bangun. Tidak biasanya Ziana susah dibangunkan. Karena tidak kunjung bangun Shofia memeriksa dahi Ziana.
"Astagfirullah Zi. Dahi kamu panas sekali." Shofia panik saat menyentuh dahi Ziana.
Dengan segera dia mencari minyak kayu putih dan segera dibalurkan di telapak tangan dan kaki Ziana. Tak lupa mengoleskannya di tangannya dan didekatkan pada hidung Ziana.
Shofia semakin panik. Sudah Lama Ziana tidak kunjung sadar. Dia mau memberitahu pada keluarga ndalem tapi takutnya malah Ziana marah karena bisa ketahuan. memberitahu pengurus nanti prosesnya lama. Dan akhirnya Shofia meminta Nur memberitahu pengurus.
Pengurus segera memberi tindakan. Ziana segera dibawa ke rumah sakit. Keluarga ndalem otomatis sudah tahu jika Ziana sakit karena mobil yang mereka gunakan adalah mobil ndalem. Mobil yang biasa digunakan santri sedang mengantar santri rombongan pergi ke pasar.
Yang menyetir mobil adalah kang Arif. Santri yang memang bertugas untuk menjadi sopir untuk keluarga ndalem. Zakaria duduk di kursi samping sopir. Sesekali dia menengok ke belakanh melihat adiknya. Sedangkan Ziana bersama Shofia duduk di belakang dengan merelakan pahanya sebagai bantal untuk Ziana.
"Shof, kenapa bisa seperti ini?" tanya Zakaria sambil terus memperhatikan adiknya.
"Aku tidak tahu gus. Dia sedang halangan. Jadi sejak pagi memang belum bangun. Tapi saat aku bangunkan dia sudah seperti ini." kata Shofia sambil terus menggenggam erat tangan Ziana. Air matanya tak berhenti menangis sedari tadi. Dia benar-benar cemas.
"Biasanya kalau diberi minyak pasti segera bangun, tapi lihatlah Gus dia diam saja. Hiks hiks"
__ADS_1
"Sudah Shof jangan menangis. Ziana pasti baik-baik saja. Dia kan gadis yang kuat." Zakaria tidak tega melihat Shofia menangis. Dia mengalihkan pandangannya pada sang sopir.
"Kang ini bisa lebih cepat."
"Iya Gus." Arif pun segera menambah kecepatan.
Setibanya di rumah sakit Zakaria segera menggendong adiknya memasuki rumah sakit. Shofia dan Arif berjalan di belakangnya. Shofia segera meminta bantuan suster untuk memberi pertolongan pada Ziana.
Ziana langsung dibawa ke dalam UGD. Shofia, Zakaria dan Arif duduk di kursi tunggu di luar ruang UGD. Shofia masih menangis sambil terus merapalkan do'a untuk kesembuhan Ziana.
"Sudah dong Shof. Kamu jangan nagis terus."
"Aku khawatir Gus."
"Aku juga lagi berdo'a ini gus. Gus sendiri kan kakaknya. Tapi tidak kelihatan khawatir sama sekali."
"Lihat kamu nangis seperti itu sudah hilang khawatirku sama Ziana. Semua khawatirku semua pindah untuk kamu."
"Sempat-sempatnya."
__ADS_1
"Beneran Shof. Aku khawatir gimana kalau sampai kamu pingsan karena kebanyakan nangis."
"Mana ada yang seperti itu."
"Ada. Coba saja nangis terus."
"Nggak ah aku sudah capek nangis daritadi."
"Ya iyalah capek. Orang dari pondok tadi kamu udah nangis kayak anak kecil."
"Biarin. Lagian aku memang masih anak kecil."
"Kamu itu apanya yang kecil?"
"Umurku cuma satu tahun diatas Ziana. Jadi aku masih kecil. Kamu sendiri selalu manggil Ziana dengan bocah cilik kan?"
"Itu Ziana. Dia cuma setinggi dadaku. Masih cocok dipanggil bocah. Lah kamu? Badan sudah setinggi itu masih mau dianggap bocah?"
"Auk ah! Dasar Gus nyebelin." Shofia pun menyerah. Mode keselnya diaktifkan. Jangan lupakan wajah ditekuk dan bibir dimonyongkan. Itu langsung membuat Zakaria tersenyum. Dia lebih suka melihat Shofia cemberut dibandingkan Shofia yang menangis beberapa wakti yang lalu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, mereka membuat seseorang merasa heran dengan pembicaraan mereka berdua.
'Ini lagi nungguin orang sakit. Mereka malah berdebag yang tidak berfaedah. Sebenarnya siapa gadis ini. Kenapa dia dekat sekali dengan Gus Zakaria? Gus Zakaria sendiri sepertinya sudah biasa berbicara dengan gadis ini.Ah aku tahu gadis ini. Dia kan gadis yang beberapa waktu yang lalu jadi gosip panas di kalangan santri. Tapi apa hubungannya dengan Gus Zakaria dan juga Neng Ziana? Sepertinya mereka akrab.' batin Arif.