Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Rencana yang Gagal


__ADS_3

Pagi harinya Shofia dan Ziana menemui keluarga Rizwan. Kedua gadis itu diterima baik oleh keluarga Rizwan. Shofia dan Ziana diperkenalkan sebagai sahabat Rizwan.


Ibu Hamidah, ibunya Rizwan tidak ada diantara keluarga besarnya yang sedang berkumpul di ruang tamu penginapan. Setelah ditanyakan pada orang yang ada disana ternyata ibu Hamidah sedang berada Di Teras. Ayah Rizwan sendiri sudah meninggal dan Rizwan adalah anak sulung. Sang adik perempuan masih kuliah.


"Apa kabar bak Shofia." tanya ibu Hamidah. Ibu Rizwan. Dia segera memeluk Shofia. Dia mengenal Shofia dan Zakaria dengan baik.


"Alhamdulillah baik bu. Ibu sendiri sehat kan? Apa anak ibu yang bandel itu menyusahkan ibu?" tanya Shofia. Dia sering menjadi tempat curhat bu Hamidah.


"Sekarang akan ada yang bantu ibu jewer telinganya kalau masih bandel."


"Bu. Mana ada Rizwan bandel."


"Sekarang dia nggak bakalan bandel bu. Kalau bandel biar ditakzir santrinya nanti." kata Shofia.


"Iya Shof. Biar di arak keliling pondok sama pak Kiai." kedua wanita beda generasi itu tertawa mengejek Rizwan. Yang diejek cemberut. Dia sudah hafal jika dua wanita generasi itu selalu menggodanya. Tapi dalam hati yang paling dalam dia tersenyum senang melihat kedekatan sahabat dan ibunya.


"Emang mas Rizwan bandel bu?" tanya Ziana.


"Iya. Rizwan tu bandel. Lihat tuh telinganya saja sampai panjang kena jewer sama ibu. Kadang ibu heran. Gimana bisa anak bandel ini bisa diambil mantu sama pak kiai." kata ibu Hamidah sambil mengetuk dagunya mengamati anaknya.


"Pasti Neng itu diguna-guna bu sama anak ibu yang bandel itu." tambah Shofia.


"Tertawalah sepuas kalian!" kata Rizwan dan berlalu dari ketiga wanita itu. Dan sontak ketiga wanita itu semakin tertawa terbahak-bahak.


***


"Har. Cepat datang ke sini. Dia sudah datang." kata Rizwan dalam sambungan telfon.


"Maaf Riz. Aku tidak bisa datang. Ini aku ditugaskan di pos pengungsian banjir di Jakarta. Biasa. Tugas mulia memanggil dokter tampan ini."


"Sayang sekali Har. Gadis ini sangat sulit dibujuk. Aku sudah kesulitan membujuknya."


"Maaf ya Riz. Sepertinya belum ditakdirkan ketemu"


"Baiklah Har. Aku sangat berharap kamu berjodoh dengan Shofia."


"Siapa namanya Riz?"

__ADS_1


"Shofia. Kenapa?"


"Namanya indah."


"Orangnya bahkan lebih indah dari namanya Har. Dia sangat cantik. Rugi kalau kau tak mau."


"Iya Riz. Semoga ada jodoh sama dia."


"Aamiin. Ya sudah Har. Kamu Hati-hati disana. Semoga lancar."


"Iya Riz. Sekali lagi aku minta maaf. di hari penting mu aku tidak bisa datang. Selamat atas pernikahanmu. Hadiahnya menyusul ya."


"Aku ingin hadiah darimu itu perkenalanmu dengan Shofia Har."


"Kamu ngotot sekali sih"


"Aku ingin kalian bahagia. Aku tahu kalian dari dulu itu jomblo. Makanya cocok. sesama jomblo. hehehe"


"Baiklah Riz. Setelah tugas disini aku pindah ke Kediri. Mu gkin menetap disana. Aku sudah kangen sama Kediri."


"Itu Bagus. Nanti aku kenalkan kalian."


"Wa'alaikum salam."


Sambungan telfon berakhir. Rizwan mendesah panjang. Dia sudah sangat berharap kedua sahabatnya itu saling mengenal. Beruntung lagi bila sampai bisa berjodoh.


Dia sudah bersusah payah membujuk keduanya untuk setuju acara perjodohan itu. Bukan hal mudah juga untuk membujuk Har untuk setuju. Temannya itu dari dulu tidak pernah memiliki pacar. Jangankan pacar. Wanita yang disukai saja tidak punya.


Yang diketahui Rizwan tentang Har tidak terlalu banyak. Har lebih dekat dengan Zakaria. Karena Zakaria lah dia bersahabat dengan Har.


Rizwan kembali ke tempat yang paling membuat dia kesal hari ini. Dimana lagi kalau bukan tempat dimana tiga wanita yang hari ini kompak mengerjainya itu berada.


Rizwan celingukan mencari keberadaannya ketiga wanita itu. Saat dia ke teras tadi mereka sudah tidak ada. Entah kemana mereka tadi pergi.


"Cari siapa sih Riz.? Dari tadi budhe perhatiin celingukan terus." tanya budhe Dian.


"Ibu mana Budhe?"

__ADS_1


"Di kamar ibumu. Riz mereke udah pada ad calon belum? Kalau belum kenalin sama mas mu dong."


"Yang satu Belum sih budhe. Tapi Rizwan sudah ada calon buat dia"


"Kenalin aja dulu sama Anton."


"Dia anak pondok Budhe. nggak cocok sama mas Anton. Mas Anton kan sudah punya pacar."


"Tapi budhe senangnya yang macam teman-temanmu itu Riz. Apalagi yang tinggi. Sudah cantik, sopan lagi. beda sama pacarnya Anton."


'Kalau minta jodoh yang baik untuk anaknya ya anaknya dulu harus baik. Kalau ingin anaknya berjodoh dengan gadis yang sopan ya anaknya dulu dididik menjadi sopan. Lah ini dulu aja suka Ngatain ibu waktu aku dipondokkan. Sekarang mintanya menantu yang anak pondok. Shofia pula. Mana cocok. Dilirik aja nggak bakalan sama Shofia.' batin Rizwan.


Rizwan masih sangat ingat bagaimana budhenya itu melarang sang ibu untuk memasukkan Rizwan ke pondok. Juga umpatan-umpatan yang intinya mengolok anak pondok. Namun sekarang apa coba? Mana pantas anaknya yang urakan itu menikah dengan santri. Ckckck


"Maaf Budhe. Tapi aku sudah janji sama temanku. Nanti kalau nggak cocok baru aku kenalin mas Anton."


Rizwan segera pergi mencari ibunya. Dia tak mau jika Budhenya terus mendesaknya. Dia sudah hafal betul bagaimana sifat budhenya itu.


Setelah tiba di depan kamar sang ibu, Rizwan mengetuk pintu sembari mengucapkan salam dan memanggil sang ibu.


"Bu. Shofia di dalam?" tanya Rizwan ketika mendapati sang ibu yang membuka pintu.


"Baru saja keluar Riz. Ada apa?"


"Kabar buruk bu. Har tidak bisa datang. Padahal rencananya mau Rizwan kenalkan sama Shofia."


"Yah sayang sekali nak. Kalau lihat mereka berdua memang cocok. Ibu juga mendukung kalau Shofia nikah sama Har. Har itu sifatnya sama kayak Zakaria. Tampannya juga hampir sama. Kamu ini yang paling buluk dari ketiganya."


"Ibu ini! Anak sendiri selalu diolok-olok."


"Sudah sejak kecil kamu itu selalu ibu bilang ganteng. Tapi semenjak ibu kenal sama Zakaria dan Har pandangan ibu langsung berubah. Apalagi Har. Ibu saja yang sudah tua tidak mau lepas kalau sudah melihatnya."


"Huh ibu. Aku kan memang anak ibu. Ya ibu harus memuji anak ibu ganteng dong."


"Iya kamu memang anak ibu yang paling ganteng. Tapi tetap Har yang nomer satu. Zakaria nomor dua dan kamu nomor tiga. Itu sudah hasil seleksi alam Riz. Terima aja kalau memang nomor tiga. hihihi." Rizwan semakin cemberut. Apa itu?! Ibunya sendiri bahkan bilang kalau dia kalah tampan. Tidak ingat saja dari kecil kalau hanya dirinya yang dipuja sang ibu...


Hamidah sangat suka menggoda anaknya itu. Apalagi masalah tingkat ketampanan. Sang anak selalu marah jika dia membandingkan ketampanannya dengan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Rizwan juga mengakui jika diantara mereka bertiga, dialah yang berwajah pas-pasan.


__ADS_2