
"Kenapa kamu nggak bilang sebelumnya Jo?" tanya Shofia saat keduanya sudah berada di dalam kamar Shofia. Shofia dan Jo duduk di berdampingan di tepian kasur.Keluarga Jo sudah pulang. Keluarga Shofia juga sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
"Dan kamu akan menghindar lagi... " Jo menatap lekat wajah istrinya.
"Maaf. Aku hanya... "
"Tak perlu dijelaskan Shof. Ayo istirahat. Sekarang kamu pasti lelah."
"Baiklah." Shofia kemudian naik ke atas kasur diikuti Jo. Shofia segera merebahkan dirinya.
"Apa kamu nggak gerah tidur dengan memakai jilbab itu? Nggak baik lo." kata Jo sambil membelai jilbab Shofia. Kini mereka berbaring sambil berhadapan.
"Aku malu Jo."
"Kenapa malu? Aku kan suamimu sekarang. Duduklah." Shofia kembali duduk. Menundukkan kepalanya.
"Aku bantu lepasin ya." Shofia hanya mengangguk. Tangan Jo segera mengambil bros yang digunakan untuk mengaitkan jilbab persegi empat itu. Setelah berhasil dia menarik kain itu perlahan.
Tak sampai disitu. Jo meraih pita rambut yang mengikat rambut panjang Shofia. Shofia selalu melipat rambutnya agar tidak kelihatan dari luar. Jo melepaskan pita itu dengan perlahan takut akan menyakiti Shofia.
"Nah begini kan kalau dibuat tidur akan terasa nyaman." kata Jo sambil menguraikan rambut Shofia yang baru lepas dari tali itu. Seketika harum rambut Shofia menguar menggelitik jantung Jo. Jo dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
"Ayo tidur." kata Jo setelah sebelumnya mendaratkan ciuman singkat di kening Shofia. Dia menarik Shofia agar terbaring di sampingnya.
"Hari ini aku sangat bahagia Shof." Jo menatap lekat wajah Shofia yang baru kali ini dia melihat Shofia tanpa menggunakan kain penutup kepala. Kecantikan Shofia semakin terpancar dengan adanya anak rambut yang sedikit berantakan tanpa tali.
"Aku juga bahagia Jo." Shofia tersenyum.
Jo meraih tangan Shofia. Menggenggamnya kemudian mencium keduanya bergantian. Saat Jo mencium tangan kiri Shofia, dia melihat cincin di jari tengah Shofia. Shofia yang sadar akan hal itu segera memegang cincin itu dan memutarnya pelan.
"Ini adalah cincin mantan calon suamiku dulu Jo. Kamu nggak marah kan kalau aku memakainya?" tanya Shofia khawatir. Dia sadar bahwa tidak baik memikirkan pria lain sekarang.
"Mengapa aku harus marah? Seharusnya aku berterima kasih padanya karena dia pernah membuatmu bahagia." Jo mencium telapak tangan Shofia.
"Namanya Zakaria Husain Fuadi."
"Siapa Shof?"
"Zakaria Husain Fuadi. Kenapa?"
"Zaka yang punya pondok Miftahul Huda?"
"Iya. Kamu kenal?"
"Ya. Kami kawan baik. Jadi kamu orang yang akan dikenalkan Rizwan padaku?"
"Apakah kamu Mas Har itu Jo?"
"Ya Shof. Wah ternyata takdir mempermainkan kita sampai seperti ini ya." Jo mencium cincin yang melingkar di jari manis Shofia. Dia sangat bersyukur bisa menjadikan Shofia istrinya.
"Kata Rizwan kamu menolak dikenalkan padaku Jo. Kenapa?"
"Tentu saja karena aku harus berusaha mencuri hatimu. Kalau aku mau dikenalkan dengan orang lain kan itu berarti aku tidak serius Shof."
__ADS_1
"Tapi kamu sudah menolakku Jo."
"Tapi kan aku nggak tahu kalau yang akan dikenalkan denganku itu kamu."
Shofia kembali teringat pembicaraannya da Rizwan melalui sambungan telfon.
Flash back on....
πShof maaf ya. Temanku ternyata tidak jadi mau dikenalkan denganmu.
π Tidak apa-apa Riz.
π Aku benar-benar tidak enak padamu Shof.
π Tak masalah Riz. Jodoh sudah ada yang ngatur. Kita hanya bisa berusaha. Sedangkan hasilnya ditentukan Oleh Allah.
Flash back off...
"Tapi kan itu sudah dua bulan yang lalu Jo. dan kita baru bertemu bahkan belum ada satu bulan kan?"
"Waktu aku tahu aku dipindah tugaskan di Kediri, Aku memutuskan untuk kembali mencarimu."
"Apa kamu yakin jika aku masih single waktu itu?"
"Tentu saja. Aku tahu dirimu itu sulit ditaklukkan."
"Tapi Gus Zaka bisa menaklukkan hatiku."
"Itu karena aku yang mengajarinya."
Flash back on....
Seorang santri sedang dihukum oleh pengurus karena dia tidak bisa menggagalkan Nadzoman yang diajarkan. Sia disuruh untuk menata sandal santri yang ada di rak khusus di pondok pesantren Al-ikhlas, Malang.
Santri itu adalah Jo. Jo yang tidak ada dasar ilmu keagamaan tentu saja kesulitan untuk mencerna ilmu baru yang dia dapat. Waktu itu membaca Al-Qur'an saja dia masih belum bisa. Apalagi harus menghafalkan bait-bait nadzom. Namun Jo mempunyai tekad yang kuat. Dia selalu berusaha sebaik mungkin. Tapi apa boleh buat jika hasil optimalnya masih belum bisa memenuhi standar sang Ustadz.
"Kang sedang apa disini?" tanya santri lain yang sudah akan kembali ke pondok. Dia adalah Zakaria.
"Oh ini kang. Saya dihukum karena tidak hafal nadzoman." jawab Jo sambil tersenyum. Dia bahkan tidak malu mengakui bahwa dia sedang dihukum..
"kalau tidak salah. Kamu santri baru yang baru pindah itu ya?"
"Benar. Kenalkan saya Jauhar." Jo mengulurkan tangannya.
"Zakaria. Panggil saja Zaka."
Mulai saat itu Jo dan Zakaria serta berteman. Zakaria dengan telaten mengajari banyak pelajaran agama yang belum Jo fahami. Mereka juga terkadang menjadi santri yang bandel. Mereka kadang bekerja sama untuk pergi ke luar pondok yang itu adalah larangan bagi santri.
Jo dan Zakaria adalah santri dengan jiwa muda yang masih menggebu. Mereka berdua kadang merasa bosan dan ingin mencari hiburan di luar pondok walau hanya dengan jalan-jalan kemana saja kaki melangkah. Alias tak tentu arah.
Suatu hari anggota mereka bertambah. Saat itu Rizwan ingin merasakan sensasi melanggar aturan pondok. Rizwan yang mengenal Zakaria minta ikut saat mereka melakukan aksi kabur abal-abal.
"Har. Ini kenalkan anggota baru kita. Rizwan." keduanya bersalaman. Dan itulah awal dari kelompok yang sering kabur dan membuat pengurus kalang kabut karena tak ada yang bisa menangkap basah aksi mereka.
__ADS_1
Dan Jo juga sering mengajari Zakaria dan santri lain bermain gitar. Namun Rizwan tidak mau belajar karena dia tidak berminat.
Flash back off....
"Begitulah cerita kami Shof. Sudah sekarang kita tidur ya. Besok kita akan sibuk." kata Jo meraih tibuh Shofia dalam pelukannya. Keduanya menikmati saat itu.
Pelukan keduanya merambatkan perasaan tenang di hati masing-masing. Tubuh mereka saling menghangatkan dalam pelukan. Jo menenggelamkan Shofia dalam dada bidangnya. Dia beberapa kali mencium pucuk kepala Shofia.
Shofia juga menikmati pelukan Jo. Dia menikmati hangatnya dada pria yang menjadi suaminya itu. Shofia juga begitu menikmati aroma musk yang menguar dari dalam tubuh Jo. Semakin lama dia mencari kenyamanannya sendiri.
"Aku mencintaimu Shof."
"...." Shofia masih diam. Dia belum tidur. Tapi dia malu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Shof."
"Hem"
"Apa kamu juga mencintaiku?"
"Apakah itu penting sekarang Jo?"
"Tentu saja. Aku hanya ingin memastikan jika istriku juga mencintaiku."
"...." Shofia melepaskan diri dari pelukan. Dia memajukan wajahnya dan mencium bibir Jo singkat.
"Kamu memancingku Shof? Aku sudah membayar lunas lo. Aku tidak akan segan sekarang."
Shofia kembali merona. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Jo. Kembali mencari kenyamanan disana.
"Aku tidak memancing Jo. Itulah caraku mengungkapkan kalau aku juga mencintaimu."
Jo mengangkat wajah Shofia. Diciuminya wajah itu Berkali-kali. Mulai dari bibir, pipi, mata. hidung, alis tak ada yang terlewat. Sebelum dia menghentikan aksinya dia mencium bibir ranum Shofia lama.
"Sudah. Cukup untuk saat ini. Lebih baik kita tidur atau kalau tidak kita tidak akan bisa menghadiri acara besok." Jo menarik Shofia kembali dalam pelukannya. Diciumnya pucuk kepala Shofia Berkali-kali. Tangan kiri Jo melingkar di pinggang Shofia. Tangan kanan Shofia juga memeluk tubuh Jo. Keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.
ππππ
LIKE, VOTE AND KOMENTNYA JANGAN LUPA YA KAKAK... π
Sedikit curhat ya...
Beberapa hari yang lalu Author tukang halu ini sempat kecewa lo saat tahu jika cuma ada dua bintang β untuk ceritaku π Sedih ya π’
Tapi ya sudahlah... penilaian orang kan tidak bisa kita salahkan π€
Tapi Bisakan Author halu ini minta kalau tidak suka ya jangan dibaca. Gitu aja. Jangan memberi nilai yang bisa membuat mental Author down π
Membuat cerita itu tidak mudah lo! Dibutuhkan fikiran dan mood yang baik. Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk mengetik cerita. βΊ
Bahan bakar semangat Author buat ngelanjutin karya adalah dari like sodara-sodara semua. Walaupun kadang hanya tinggal klik saja itupun terlewati atau mungkin karena sinyal yang jelek (Seperti di tempat Author yang notabene bisa dikatakan pedalaman sehingga untuk Up satu episode saja harus pergi keluar rumah) Author bisa memaklumi semua itu π
Tapi jika Author lihat nilainya tak sesuai harapan tentu sedih juga kan π
__ADS_1
Jadi tolong hargai hasil karya orang lain. Karena karya itu dibuat dengan bersusah payah menguras otak, waktu dan juga tenagaπ
Okeh π