Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

Pagi ini setelah sarapan, Jo mengajak Shofia berjalan-jalan di sekitar villa yang mereka sewa. Pemandangan yang indah sangat memanjakan mata.


Di sepanjang jalan tangan mereka saling bertautan. Mereka berjalan sambil bercanda. Nanti sore mereka akan kembali ke rumah. Jadi mereka memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.


Shofia dan Jo menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan mereka. Di lingkungan itu kekeluargaan masih sangat terjalin. Bertegur sapa adalah hal yang paling utama dalam hidup bermasyarakat.


"Wah kalian pasangan yang serasi." kata seorang ibu yang sedang menyapu di halaman rumahnya ketika melihat Shofia dan Jo.


"Terima kasih bibi."


"Kalian pengantin baru ya?"


"Ah iya Bi."


"Semoga rumah tangga kalian langgeng. Awet sampai jadi kakek nenek."


"Aamiin. Terima kasih bi."


Shofia dan Jo kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Dulu mereka pernah kesana bersama rombongan PRAMUKA saat di SMP. Jo ingin mengajak Shofia kembali ke tempat itu.


"Kamu ingat tempat ini sayang?"


"Tentu saja. Karena tempat inilah aku sangat menyukai gunung. Waktu kuliah aku beberapa kali ikut Elin dan Edi untuk mendaki."


"Benarkah?"


"Iya. Aku selalu menyukai gunung. Selalu keindahan tersembunyi yang dapat kita nikmati."


"Kamu benar. Nah sekarang kamu lihat di sana." Jo menunjuk pemandangan kota Kediri yang terlihat indah dipandang dari atas. Tadi malam hanya kelihatan Lampu-lampu nya saja. Dan sekarang Shofia melihat banyak rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang terlihat sangat kecil.


"Indah sekali." Shofia sangat takjub melihat pemandangan di hadapannya. Mereka seperti berada di atas awan.


"Kamu ingat, dulu kamu merengek tidak mau pulang pada kak Farid karena ingin melihat pemandangan ini?"


Shofia tertawa mendengar perkataan Jo. Bagaimana mungkin dia melupakan hal yang sangat berkesan itu.


Flash Back On....


"Ayo semua kembali ke truk." teriak Kak Farid. Salah satu pembina di SMP Merpati. Rombongan PRAMUKA itu memang menggunakan truk sebagai alat transportasi mereka.


Para anggota PRAMUKA yang baru saja dilantik menjadi Penggalang Terap itu segera naik ke atas truk. Mereka menggunakan dua truk yang dibedakan berdasarkan kelas mereka.


Di atas truk sudah ada dua pembina yang membantu peserta naik dan juga mengabsen mereka. Setelah semua naik ternyata ada dua siswa yang belum naik. Mereka adalah Jo dan Shofia.

__ADS_1


"Masih ada yang belum naik?" tanya Farid selaku pemimpin rombongan.


"Ada dua siswa yang belum naik Kak." jawab Riska. "Pasangan terfenomenal." lanjutnya.


"Ck. Pada situasi yang tidak tepat Sempat-sempatnya mereka pacaran." jawab Riko yang sudah faham siapa yang dimaksud. Dia pernah ingin menembak Shofia, namun niatnya digagalkan oleh Jo.


"Sudah-sudah. Lebih baik kita cari dulu. Doni dan Rudi cari di air terjun." perintah Farid. Prosesi pelantikan anggota tadi berlangsung di bawah air terjun Ironggolo, bisa saja mereka mssih berada di sana. Doni dan Rudi segera melakukan perintah sang ketua.


"Kris ikut aku cari di sekitar sini. Shofia itu suka keluyuran kalau dia penasaran." kata Farid dan diangguki kakak pembina yang lain. Mereka sudah hafal bagaimana Jo dan Shofia yang selalu kompak dalam segala hal.


Farid dan Kris menemukan Shofia dan Jo pada jarak seratus meter dari tempat parkir truk mereka. Mereka segera menghubungi Doni dan Rudi agar mereka menghentikan pencarian dan kembali ke truk.


"Lihatlah Rid. Kamu aja kalah sama mereka." Kris geleng-geleng kepala melihat Shofia dan Jo malah asik melihat pemandangan kota Kediri sambil berfoto ria. Di tangan Shofia sudah terkumpul banyak bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju tempat itu.


"Hem. Melihat mereka aku yakin kamu juga iri." Farid tersenyum miring. Dia tahu sahabatnya itu menaruh hati pada Shofia. Para pembina PRAMUKA saat itu semua masih siswa SMA yang tak jauh dari SMP Merpati.


"Woy kalian!" teriakan Kris seketika menghentikan aksi kedua siswa tukang keluyuran itu. Mereka berdecak kesal karena dengan cepat mereka dapat ditemukan. Padahal mereka masih belum puas disana.


"Kenapa wajahnya ditekuk?" Farid menyadari perubahan wajah yang ditunjukkan Shofia.


"Sebentar lagi ya Kak. Disini indah." kata Shofia memelas.


"Ayo balik. Semua sudah kumpul." kata Kris.


"Nggak ada. Ayo kembali." jawaban Farid membuat Shofia semakin cemberut dan melangkahkan kakinya dengan menghentakkan kakinya keras. Jo mengikutinya dari belakang. Dia memandang tajam pada kedua kakak pembinanya yang telah membuat suasana hati Shofia menjadi mendung.


"Bi, saya minta bunga mawarnya satu ya. Pacar saya ngambek nggak mau pulang." kata Jo pada pemilik rumah.


Setelah dia mendapatkan bunga mawar yang dia inginkan, Jo segera menyamakan langkahnya dengan Shofia. Dia harus segera mengembalikan Mood gadis di sebelahnya sebelum semua orang terkena dampak kekesalannya.


"Nih." Jo mengulurkan tangkai bunga mawar itu di depan wajah Shofia. Seketika wajah Shofia berbinar senang. Langsung diraihnya bunga mawar itu. Menghirup harum bunga mawar yang bafu diberikan Jo.


"Aduh." tanpa sengaja tangan Shofia tertusuk duri bunga mawar itu. Tangan itu sedikit mengeluarkan darah. Jo segera meraih tangan itu dan sekitarnya darah Shofia yang keluar.


"Aish Jo. Kenapa kamu memberiku bunga yang masih ada durinya?" tanya Shofia setelah Jo selesai dengan aktifitasnya menghentikan darah Shofia.


"Pemandangan tadi seperti bunga mawar. Indah namun perlu perjuangan untuk menikmati."


"Maksudnya?"


"Pemandangan tadi indah. Tapi kalau kamu setiap hari melihatnya, itu akan menjadi pemandangan yang biasa. Jadi kamu harus rela tidak melihatnya untuk beberapa lama agar pemandangan itu tetap menjadi indah di matamu." kata Jo.


"Kamu benar Jo. Ayo kita pulang. Tapi janji ya kapan-kapan kamu ajak aku kesini lagi" Shofia mengulurkan jari kelingkingnya. Jo menyambut kelingking Shofia dengan kelingkingnya sendiri.

__ADS_1


"Janji." kata Jo.


Mereka pun meninggalkan tempat itu dengan bergandengan tangan. Meninggalkan dua kakak pembina yang dari tadi jadi baper melihat interaksi antara Jo dan Shofia.


Kini keduanya sama-sama setuju jika hanya Jo yang dapat mengerti bagaimana memperlakukan Shofia.


"Aku kalah sama Jo." kata Farid.


"Kita semua kalah Bro. Tidak ada yang bisa semudah itu membujuk seorang gadis yang ngambek." kata Kris. Dia ingat bagaimana sulitnya dia membujuk pacarnya ya mbk ngambek.


"Kau benar. Sepertinya kita perlu belajar dari Jo untuk menaklukkan hati seoarang wanita."


"Heem. Kau benar."


Flash Back off....


"Terima kasih sudah menepati janjimu Sayang." Shofia memeluk Jo dari samping. Jo mencium pucuk kepala Shofia.


"Apapun untukmu My wife."


"Aku nggak nyangka kita kesini lagi setelah sekian lama."


"Ya. Apalagi sekarang kamu sudah jadi istriku."


"Kamu benar. Jika lam tidak melihat pemandangan ini, pemandangan ini masih terlihat indah bahkan lebih indah."


"Aku memang selalu benar sayang."


"Terima kasih sudah menjadi suami terbaik Jo... "


"Kamu pun istri terbaik Shof... "


*


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾


Like 👍nya jangan sampai tidak disentuh 😘


VOTE, Koment dan Sartiknya juga ditunggu 😊

__ADS_1


__ADS_2