Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Ternyata Kamu Itu Nomer Tiga


__ADS_3

Malam semakin larut. Acara tasyakuran sudah selesai pukul sembilan malam tadi. Kini semua orang sudah kembali ke tempatnya masing-masing untuk beristirahat.


Namun tidak untuk sepasang suami istri yang merasa belum puas dengan kebersamaan mereka. Shofia dan Jo tengah berada di kursi sebelah ndalem. Dalam kegelapan malam mereka masih asyik bercengkrama.


Keduanya membicarakan banyak hal. Mereka seperti tidak pernah kehabisan bahan untuk dijadikan bahan pembicaraan.


"Sayang, kita masuk sekarang yuk." ajak Jo pada Shofia.


"Sebentar lagi ya. Aku masih belum mengantuk."


"Ini sudah terlalu malam. Lihat, sudah jam sebelas." Jo memperlihatkan jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Sebentaar lagi. Ya."


"Baiklah. Aku ambil gitar dulu, oke?"


"Oke." Shofia memandang punggung Jo yang melangkah menjauhinya.


Shofia memindai sekitar tempatnya berada. Disini dulu ia banyak memiliki kenangan sederhana yang mendekatkannya dengan sosok Zakaria.


Dirabanya kursi yang ia duduki. Disanalah dia duduk saat Zakaria mengiringinya menyanyi saat dia merindukan sosok Jo. Dan, sekarang dia malah duduk disana berdua dengan Jo. Benar-benar takdir telah menyiapkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga olehnya. Disaat dia memikirkan Jo, Zakaria datamg menemaninya. Dan di saat sekarang dia mengingat Zakaria, Jo lah yang duduk menemaninya.


Shofia memandang ruang kosong di sebelah kantor informasi. Disanalah dulu Zakaria pernah menggodanya. Dan disanalah Zakaria mendapat julukan "Gus Nyebelin" dari Shofia. Benar-benar kenangan yang tak terlupakan.


"Ngelamunin apa sih Yang?" Jo duduk di samping Shofia kembali. Di tangannya sudah ada gitar Zakaria. Shofia tersenyum melihat itu.


"Hanya mengingat masalalu. Disini banyak sekali kenangan yang aku lalui saat masih mondok. Bersama teman-temanku dan bersama... Gus Zaka."


"Kenanglah yang indah-indah saja. Oke?"


"Hem."


"Sekarang, aku akan menyanyikan lagu yang spesial untukmu."


"Lagu apa?"


"Dengarkan dan nikmati. Kita berduet. Kamu tahu lagu ini sayang. "


Pasha feat Rossa


..."Kupinang Kau Dengan Bismillah"...


Jo


Tuhan memberikanku cinta


Untuk ku persembahkan hanyalah padamu

__ADS_1


Shofia


Dia anugrahkanku kasih


Hanya untuk berkasih berbagi denganmu


Jo dan Shofia


Atas restu Allah kuingin milikimu


Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku


Restu Allah ku mencintai dirimu


Jo


Ku pinang kau dengan bismillah


Huuu


Hampa terasa bila ku tanpamu


Jo dan Shofia


Hidupku terasa mati jika ku tak bersamamu


Shofia


Shofia dan Jo


Ku bersumpah sampai mati


Hanyalah dirimu


******


Kedua orang itu tersenyum setelah menyelesaikan lagu yang mereka nyanyikan. Kemudian mereka menyanyikan lagu-lagu lainnya yang juga merupakan lagu romantis. Kadang mereka berduet, kadang juga bernyanyi sendiri.


Dari kejauhan, ada tiga pasang mata yang sedari tadi memperhatikan kebahagiaan Shofia dan Jo dari tempat berbeda.


Flash Back on...


Ziana, berada di dalam kamarnya waktu itu. Dia baru saja ingin merebahkan tubuhnya untuk tidur. Namun sayup-sayup dia mendengar ada orang yang berbicara.


Setelah menanamkan pendengaran, dia tahu bahwa suara itu berasal dari luar Ndalem. Diapun membuka sedikit jendelanya. Kini nampaklah di kedua matanya bahwa Shofia dan Jo sedang bersiap-siap ingin menyanyi.


"Aku bahagia sekarang mbak Shofia telah mendapatkan kebahagiaannya. Mbak Shofia memang pantas mendapatkan mas Har yang baik dan penyayang.

__ADS_1


Mbak Shofia pasti bahagia hidup bersama mas Har. Walaupun mbak shofia tidak jadi menikah dengan mas Zaka, tapi menikah dengan mas Har itu sama saja bagiku. Mas Har dan Mas Zaka sama-sama kakakku.


Aku masih tidak percaya rasanya jika mas Har adalah cinta pertama mbak Shofia yang dulu selalu membuatku penasaran. Ternyata orang yang membuatku penasaran sering berada di dekatku.


Bodohnya aku dulu tidak menyadarinya. Kalu aku menyadarinya dan mengenal jika mas Har itu adalah mas Jo sejak lama, pasti mbak Shofia sudah lama bertemu dengan mas Har.


Eh tapi kalau aku menganalinya dari dulu, pasti lisan cinta Zakaria dan Shofia tidak akan pernah ada. Memang Allah telah merencanakan kehidupan ini dengan begitu sempurna.


Allah Memberi kebahagiaan pada mas Zaka dengan pernah mengenal dan mencintai serta dicintai mbak Shofia. Walau pada akhirnya mas Zaka tidak dapat bersatu dengan mbak Shofia.


Aku harap, mbak Shofia dan mas Har mendapatkan kebahagiaan mereka selamanya. Semoga rumah tangga mereka dirahmati oleh Allah SWT. Semoga tidak ada batu kerikil pada pernikahan mereka yang dapat menggoyahkannya.


Di samping kamar Ziana, Rizwan dan Zahra pun ikut menjadi saksi kebahagiaan Shofis dan Jo. Mereka ikut merasa bahagia atas kebahagiaan dua orang sahabat yang memang pantas mendapat kebahagiaan mereka sekarang.


Flash Back off....


"Aku masih belum bisa sepenuhnya percaya jika Shofia lah yang dikejar oleh Har." kata Rizwan menatap kedua orang yang tanpa malunya sedang bermesraan di luar Ndalem tengah malam itu. Yah walaupun saat itu sudah sepi.


Tapi tidakkah mereka merasa mengganggu tidur orang dengan suara mereka? Ah, tapi mengingat keduanya mempunyai suara yang merdu, pastilah itu sama sekali tidak mengganggu, bahkan Mungkim menjadi hiburan untuk menemani istirahat mereka.


"Kenapa?"


"Aku dulu sering mendengar Zaka dan Har menceritakan kisah masa lalu Har mengenai teman masa kecilnya yang membuat Har ingin berubah menjadi lebih baik."


"Ow. Jadi itu yang membuat kang Har berubah?"


"Ya. Jika Har dalam kesulitan, dia selalu berkata dia harus bisa untuk menjadi layak bagi seseorang. Dia selalu menyemangati dirinya dengan bilang "This is for you Shof" dan aku baru ingat sekarang jika memang nama gadis itu adalah Shofia. Pantas saja saat aku ingin mengenalkanku pada Shofia, Har seperti tertarik saat mendengar namanya."


"Itulah Jodoh Kang. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang menyangka. Dulu kang Har dan Kang Zaka seperti saudara. Keduanya saling mempengaruhi. Kang Har menjadi pribadi yang berbeda karena pengaruh kang Zaka. Sedangkan yang Zaka sendiri juga berubah. Keduanya seperti menjadi gabungan dari keduanya. Kang Zaka yang alim dan kang Har yang gaul."


"Kamu benar. Zaka menjadi Gus gaul dan Har menjadi Dokter alim. Hahahaha."


"Dan keduanya untuk mbak Shofia. Sungguh beruntung menjadi mbak Shofia yang begitu dicintai oleh dua orang yang sangat tampan."


"Sayang... aku juga tampan."


"Iya kang. Kamu juga tampan. Bagiku kamu tetap nomer satu."


Cup. Rizwan mencium pipi istrinya iti mendengar pujian dari wanita yang telah berbadan dua itu.


"Tapi setelah aku pikirkan lebih jauh kang, Bemar kata ibu."


"Apa yang benar?" Rizwan mengernyit.


"Ya benar kata ibu jika kamu nomer tiga."


Rizwan mendengus kesal mendengar kalimat itu keluar dari mulut yang tadi berucap manis padanya.

__ADS_1


"Yayayaya kurasa ibu sudah berhasil mempengaruhimu."


"Hahaha. Jangan marah Akangku tersayang. Bagi adek, akanglah yang paling tampan dan sempurna." Zahra menangkup kedua pipi Rizwan mesra. Dia tidak tega menggoda suaminya itu lebih lama.


__ADS_2