Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kata Orang Ini Namanya Morning Kiss


__ADS_3

Pada jam tiga pagi Shofia terbangun dari tidurnya. Dia tak mendapati pria yang semalam telah sah menjadi suaminya. Dia segera turun dari ranjang untuk mencari Suaminya. Shofia segera mengikat rambutnya serta memakai Kerudungnya asal.


Ketika hendak membuka pintu, tak disangka pintu itu terbuka lebih dulu. Jo berdiri memegang handle pintu dari luar. Wajah dan rambutnya basah. Tetes-tetes air masih tersisa dari ujung rambut dan dagunya.


"Dari mana Jo?" tanya Shofia sambil membekap mulutnya yang menguap karena masih mengantuk.


"Dari kamar mandi. Kamu kenapa bangun?


"Aku juga mau ke kamar mandi. Kamu habis ambil air wudlu ya?" tanya Shofia saat menyadari bukan hanya wajah Jo yang basah. Namun Lengan Jo juga basah sampai siku dan celana yang dipakai Jo dilipat sampai lutut.


"Iya. Aku mau Sholat malam."


"Kalau gitu tunggu aku ya. Kita Jama'ah."


"Oke."


Shofia segera berjalan menuju kamar mandi dan menyelesaikan ritualnya disana. Setelah itu dia kembali ke kamar dan melaksanakan Sholat malam bersama Jo, suaminya.


Mereka Sholat malam dimulai dengan sholat Tahajjud, Sholat taubat, Sholat Hajat dan Sholat witir. Tak lupa keduanya melakukan sujud syukur untuk mensyukuri apa yang Allah berikan dalam kehidupan mereka.


Untuk menunggu waktu Subuh. Shofia membaca ayat suci Al-Qur'an. Sedangkan Jo lebih memilih berdzikir. Keduanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Setelah mendengar adzan subuh selesai berkumandang. Jo mengajak Shofia untuk kembali Sholat berjamaah.


Shofia mencium punggung tangan Jo saat mereka selesai melaksanakan dzikir sesudah Sholat subuh. Setelah Shofia melepaskan mukena yang dia pakai dan melipatnya, Jo memanggilnya.


"Sini Shof." Shofia segera maju ke depan Jo. Jo meraih tangan Shofia. Menaruhnya di kedua bahunya. Dia sendiri melingkarkan tangan kirinya di pinggang Shofia. Menariknya agar tubuh mereka merapat. Tangan kanan Jo menyentuh tengkuk Shofia.


Shofia meremang. Ada gelayar halus dalam tubuhnya. Dia sungguh menikmati sentuhan Jo yang terasa penuh cinta. Tubuhnya seperti tersengat listrik saat bibir Jo menyentuh bibirnya.


Tangan Jo menekan tengkuk Shofia untuk memperdalam Ciuman mereka. Tanpa sadar Shofia membuka mulutnya karena gugup. Tak menyianyiakan kesempatan. Jo segera memasukkan lidahnya untuk bermain di dalam mulut Shofia yang hangat. Jo mengabsen seluruh isi dari mulut Shofia.


Dia memainkan lidahnya dengan sangat lihai seperti dia sudah ahli dalam berciuman. Padahal ini juga adalah ciuman pertama untuk Jo. Lidahnya mempermainkan apa yang ada di dalam mulut Shofia.

__ADS_1


Shofia hanya diam tanpa membalas karena dia tidak tahu caranya. Tapi tak dipungkiri jika dia juga menikmati ciuman panas dari Jo. Jo baru melepaskan ciumannya saat keduanya kehabisan nafas.


Setelah ciuman selesai. Keduanya terengah-engah sambil tersenyum penuh arti.


"Kata orang Ini namanya Morning kiss. Jadi setiap pagi sebelum keluar kamar. Kita harus sarapan ini dulu." kata Jo berbisik di telinga Shofia. Dia memeluk istrinya Posesif.


"Pagi ini aku menjelajahi yang ada di dalam. Aku tak mau jika bibirmu bengkak pagi ini. Tapi nanti malam aku akan menghabisi bibir ini sayang." lanjut Jo sambil mengusap pelan bibir Shofia. wajah Shofia yang malu terlihat sangat menggemaskan bagi Jo. Ingin rasanya Jo melanjutkan aksinya.


Namun ia harus bisa menahannya. Mereka tidak mungkin melakukan hal lebih hari ini. Hari ini adalah hari penting untuk SMP Merpati dan mereka berdua dibutuhkan disana. Karena alasan itulah Jo harus meredam hasratnya untuk tidak memangsa istri yang telah ia bayar lunas itu.


"Ya Sudah. Sekarang aku rasa kita harus keluar kamar sayang. Jika terlalu lama berdua seperti ini tidak akan baik untuk kita." panggilan sayang dari Jo membuat perasaan Shofia menghangat.


Jo telah memanggilnya dengan panggilan sayang. Tapi dia masih memanggilnya hanya dengan nama, padahal Jo adalah suaminya sekarang. Tak penting status sebelumnya. Yang pasti sekarang dia tak boleh memanggil suaminya hanya dengan namanya bukan? Itu tidak sopan.


"Jo. Kamu memanggilku dengan sayang. Kamu minta aku panggil apa? Tak mungkin kan jika aku hanya memanggil namamu. Itu tidaklah Sopan." pertanyaan polos dari Shofia membuat Jo tersenyum.


"Eemm kalau di depan orang tuamu atau orang lain. Kamu bisa panggil aku Mas. Kedengarannya manis. Tapi saat kita berdua atau dengan teman-teman kita, kamu bisa panggil aku Sayang juga. Setuju?"


"baiklah. Aku coba ya. Mas hari ini ingin sarapan apa? hahaha mulutku rasanya kaku Jo. Eh maksudku sayang."


"Tidak apa-apa sayang. Lama kelamaan akan terbiasa" kata Jo sebelum mencium kening Shofia.


"Baiklah sayang." kali ini kata Shofia mengucapkan kata sayang sudah dengan luwes. Bahkan terasa seperti desahan yang menggelitik telinga Jo. Sekali lagi Jo harus menahan hasratnya. Jika tidak. Sekali lagi ini akan bahaya untuk keduanya.


Kini Shofia dan Jo sudah berada di luar kamar. Jo menghampiri sang ayang mertua yang sedang mencuci mobil di halaman depan. Dia jadi ingat bahwa mobilnya tidak ada disini. Itu artinya hari ini Shofia dan dirinya akan berangkat bersama.


"Kamu juga mau mencuci mobil Jo?" tanya Mirza yang melihat Jo memperhatikan Mobil Shofia.


"Iya ayah."


"Itu peralatannya." Mirza menunjuk peralatan yang tadi dia pakai untuk mencuci mobilnya. Biasanya setiap pagi dia akan mencuci kedua mobil itu bergantian. Namun sepertinya mulai sekarang pekerjaannya akan berkurang.


Jo segera memulai aksinya mencuci mobil. Dia mengambil selang dan menyiram mobil itu. Setelahnya dia menggosok pelan Body mobil dengan spon yang telah diberi sampo Khusus mobil. Jo membersihkan setiap Body mobil dengan teliti.

__ADS_1


"Mobil itu dibeli Shofia dengan uangnya sendiri." Mirza mulai cerita. Jo mendengarkan sambil meneruskan pekerjaanya.


"Aku tidak menyangka, bahwa sejak kuliah dia telah bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya. Aku dengar posisinya juga bagus waktu itu. Tapi karena ada suatu masalah dia memilih keluar dari sana."


"Masalah apa yah?"


"Apalagi kalau bukan masalah laki-laki Jo. Kau tahu sendiri kan anak itu. Dia selalu dikerubungi laki-laki. Apalagi waktu itu dia sudah bertunangan dengan nak Zakaria. Shofia tidak mau membuat Zakaria merasa kurang nyaman."


"Shofia dan Zaka apa sudah pacaran lama?"


"Kamu kenal Zakaria?"


"Iya. Dia dulu teman saya saat di pondok."


"Ooh. Mereka berdua tidak pernah pacaran Jo. Kamu tahu sendiri kan kalau Shofia itu suka menghindar. Walaupun Shofia sempat dihukum waktu di pondok karena diduga berpacaran dengan Zakaria. Tapi aku percaya jika Shofia benar."


"Zakaria juga orang yang baik ayah. Aku juga yakin jika semua itu hanya sebatas dugaan."


"yah Kau benar nak. Setelah Shofia lulus mereka berpisah karena Shofia kuliah di Surabaya."


"Dan Zakaria akhirnya mau kuliah di kairo karena Shofia tidak ada di pondok."


"ya Kamu benar lagi Jo. Dia juga seperti kamu. Setelah dia menemukan Shofia dia langsung melamarnya. Namun karena saat itu Shofia belum lulus kuliah kami para orang tua hanya mengikat mereka dalam pertunangan. Kami tidak menyangka jika ikatan pertunangan selama hampir setahun itu putus karena kematian."


"Saya juga kaget waktu mendengar berita kematian Zakaria. Waktu itu saya ditugaskan di kalimantan. Jadi saya tidak bisa hadir."


"Itu sudah menjadi garis hidup Shofia. Makanya waktu kamu melamar Shofia. Aku minta kamu langsung menikahinya. Aku tidak mau Sampai Shofia merasakan sakit untuk kedua kali."


"Saya mengerti Yah."


Kini Jo telah selesai mencuci dan mengeringkan mobil menggunakan kanibo.


"Saya berjanji akan membahagiakan Shofia. Akan saya ganti tahun-tahun yang dilalui Shofia dengan kesedihan dengan kebahagiaan."

__ADS_1


"Aku percaya padamu nak." Mira menepuk pelan pundak Menantunya.


__ADS_2