
Grifin masih berbicara di atas panggung. Dia akan mengumumkan jika Cristin yang akan menjadi penerus bisnis perhotelan yang dia miliki dan dia juga akan mengumumkan status janda yang baru disandang oleh Crisin.
Cristin tersenyum dengan manis, matanya sibuk mencari Orland. Rasanya sudah tidak sabar turun dari panggung dan menghabiskan waktunya bersama dengan kekasihnya. Mata Cristin terus mencari, senyumnya semakin lebar saat melihat Orland. Pria itu terlihat menikmati segelas minuman, matanya tidak lepas dari Zion yang sedang berbicara dengan Gail karena Gail sudah turun dari atas panggung. Saat itu Gail jadi pusat perhatian, tidak saja Zion, beberapa pengusaha juga mendekatinya untuk membicarakan bisnis.
Gail mendalami perannya dan melakukannya dengan sangat baik. Dia berpura-pura sebagai pemilik Weyland Corporation menggantikan bosnya.
Di atas sana, Grifin mulai mengumumkan apa yangg hendak dia umumkan karena itu tujuannya mengadakan pesta itu.
"Ladies dan Gentleman," semua tamu melihat ke arahnya saat Grifin. Grifin mengangkat gelas anggur yang ada di tangan setelah para tamu melihat ke arahnyya.
"Pesta ini tidak saja menjadi pesta ulang tahunku tapi di pesta ini aku ingin mengumumkan jika putriku Cristin Bailey akan melanjutkan bisnis yang aku miliki dan kami juga ingin merayakan status barunya yang sudah menjadi janda," ucap Grifin tanpa ragu. Orang-Orang harus tahu jika putrinya sudah terlepas dari Johan.
Para tamu mulai berbisik membicarakan status Cristin yang tiba-tiba. Ternyata desas desus pernikahannya tidak berjalan lancar sangatlah benar.
Cristin mengangkat dagu dan tersenyum dengan manis, dia bangga dengan status barunya tapi tidak dengan Johan.
Johan sangat marah mendengarnya, ternyata mereka tidak saja merayakan ulang tahun Grifin tapi mereka juga merayakan status Cristin yang sudah berpisah dengannya. Hal itu membuatnya merasa terhina, rasanya sudah tidak sabar membunuh mereka semua.
"Kau benar-benar telah membuang batu permata, Johan. Lihatlah, dia mewarisi semua bisnis milik ayahnya. Seandainya kau tetap bersama dengannya, bisa kau bayangkan bagaimana kehidupanmu saat ini, bukan?" ucap Dean.
"Diam kau, Dean! Kau lihat, anak buahmu gagal membunuh pria itu!" ucap Johan sambil menahan kekesalan di hati.
"Ck, aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa gagal tapi kali ini, tidak mungkin gagal. Kita biarkan pesta itu berjalan seperti semestinya dan pada saat yang tepat, kita culik Cristin Bailey. Lagi pula dia yang paling kau inginkan dari pada kematian pria itu, bukan?"
"Yeah, kau benar. Pria itu memang tidak berarti apa-apa karena yang aku inginkan hanya Cristin saja. Malam ini akan menjadi malam terakhirnya berpesta karena setelah ini dia akan melewati malam-malam yang menyakitkan dan mengerikan," ucap Johan.
Mereka kembali mengawasi, kesabaran kunci dari kesuksesan yang akan mereka raih. Walau harus menunggu sedikit lama, tapi waktu yang tepat akan segera datang.
Cristin dan keluarganya masih berada di atas panggung untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Pengusaha yang mengelilingi Gail sudah pergi, tinggal Zion saja karena itu kesempatan yang bagus untuknya.
__ADS_1
"Tuan Weyland, aku Zion Dmytry, apa kau masih ingat denganku?" tanya Zion.
"Tentu saja, Tuan Dmytry. Terima kasih kau sudah mau menerima undanganku dan datang ke mari," ucap Gail basa basi.
"Anda yang mengundang aku secara langsung, bagaimana mungkin aku bisa menolak? Apalagi pertemuan ini untuk bisnis, aku tidak mungkin melewatkannya, bukan?"
"kau benar, jadi? Apa kita bisa langsung membahas bisnis atau kau mau menikmati pesta ini terlebih dahulu?"
"Tentu saja, lebih baik kita membahas bisnis," ucap Zion penuh semangat.
Gail mengangguk, mereka mencari sebuah ruangan yang bisa mereka gunakan untuk berdiskusi secara pribadi. Orland mengikuti mereka secara diam-diam, dia harus mengawasi Gail agar tidak masuk ke dalam perangkap Zion.
Zion sudah membawa proposal kerja sama yang menjanjikan banyak keuntungan. Jika Weyland Corporation setuju menerima tawaran kerja sama itu maka mereka akan untung besar.
Mereka sudah mendapatkan ruangan yang mereka mau, mereka juga sudah berada di dalam sana. Proposal yang dibawa oleh Zion sudah berada di atas meja, dia harap pria itu tertarik.
Gail diam saja, dia pura-pura sibuk membaca isi proposal yang diberikan oleh Zion. Tawaran kerja sama yang memberikan keuntungan tinggi namun tidak meyakinkan.
"Bagaimana?" tanya Zion tidak sabar.
"Bagaimana jika kau mendengar tawaran dariku, Tuan Dmytry," ucap Gail.
"Katakan padaku apa yang hendak kau tawarkan??" tanya Zion.
"Kau bisa mempelajarinya, aku jamin kau tidak akan rugi," Gail juga memberikan proposal yang sudah dia siapkan.
Zion tidak bersuara, sudah dia duga pria itu tidak akan tertarik dengan tawaran yang dia berikan begitu saja. Jika begitu dia harus melakukan rencana kedua, sebab itu dia mengajak Isabel.
"Bagaimana jika kita membahas hal ini lebih lanjut sambil minum, Tuan Weyland?" ajak Zion.
__ADS_1
"Terdengar tidak buruk, aku tidak menduga kau juga hendak memberikan penawaran," ucap Gail. Sesungguhnya proposal yang dia buat hanya untuk pengalih saja.
"Aku juga tidak tahu ternyata kau mencariku untuk mengajak aku bekerja sama," ucap Zion sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, lupakan proposal milikku. Aku akan melihat punyamu tapi jika tidak menarik maka lupakan!" ucap Gail seraya beranjak.
Zion mengumpat, jika tidak menarik? Dia bisa melihatnya jika pria itu tidak tertarik sama sekali dengan proposal yang dia berikan. Bukankah itu berarti proposalnya sudah pasti ditolak?
Tidak, bagaimanapun dia menginginkan kerja sama itu. Jika dia gagal maka dia akan mengecewakan ayahnya. Cukup mendapatkan tanda tangan pria itu saja, maka semua akan berjalan dengan sesuai rencana.
Gail sudah beranjak dari tempat duduknya, dia hendak melangkah keluar tapi tiba-tiba saja sebuah benda keras memukul begian tengkuknya. Gail terkejut, namun sudah terlambat karena dia jatuh pingsan.
Zion segera menangkap tubuh Gail sebelum jatuh di atas lantai. Seringai menghiasai wajah, sekarang giliran Isabel yang harus mendapatkan tanda tangan pria itu.
Zion membawa Gail keuar dari ruangan sambil melihat sana sini dan setelah itu, dia melangkah menuju lift sambil menarik tubuh Gail yang dia papah.
Orland melihatnya dari balik persembunyian, sudah dia duga Zion akan melakukan hal itu. Dia pasti ingin mengambil jalan pintas agar tujuannya tercapai.
Sebuah kamar menjadi tujuan di mana Isabel sudah menunggu. Pintu diketuk, Isabel membuka pintu kamar itu dan membiarkannya masuk kedalam. Beruntungnya acara di adalah di hotel sehingga mereka tidak perlu bersusah payah.
"Cepat!" Isabel melihat sana sini dan menutup pintu setelah Zion membawa Gail masuk ke dalam.
Zion membaringkan Gail ke atas ranjang dan setelah itu merenggangkan otot tangannya. Sial, pria itu sungguh berat.
"Lakukan dengan benar, Isabel. Jangan mengecewakan aku karena jika kau gagal maka semuanya akan jadi kacau," ucap Zion.
"Tidak perlu khawatir," Isabel mengambil gelas anggur dan melihat isinya, "Sisanya serahkan padaku," ucapnya.
"Aku percayakan padamu," setelah berkata demikian Zion keluar dan pergi ke ruang pesta, sedangkan Isabel melihat Gail yang tidak sadarkan diri dengan seringai menghiasi wajah. Dari mana dia harus memulai? Rasanya sudah tidak sabar, tidak saja akan mendapatkan kerja sama itu tapi pemuda tampan dan kaya raya itu akan menjadi miliknya. Gelas anggur sudah berada di tangan, sudah saatnya menjadikan pria itu sebagai miliknya.
__ADS_1