Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Konsultasi


__ADS_3

Hari itu, Cristin pergi berkonsultasi bersama dengan ibunya, karena tahu Johan mengikuti putrinya dan takut terjadi sesuatu pada putrinya jadi Mariana menemani Cristin.


Lagi pula mereka sudah lama tidak pernah menghabiskan waktu bersama sebagai ibu dan anak. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk mereka berdua.


Seorang wanita sudah duduk bersama dengan mereka. Wanita itu seorang pakar yang bisa membantu Cristin untuk mengajukan surat perceraian.


"Jadi, katakan padaku kenapa anda ingin menggugat siuami anda?" tanya pakar itu.


"Selingkuh dan alasan dia menikahi aku," jawab Cristin.


"Tolong katakan dengan jelas agar aku paham."


"Di malam pernikahan kami aku melihatnya bercinta dengan wanita lain dan setelah itu dia berkata jika dia menikah aku karena uang," ucap Cristin.


"Lalu? Apa ada hal lain?"


"Tidak, malam itu juga aku pergi karena aku tidak mau memiliki suami seperti itu!" ucap Cristin.


"Bagaimana menurutmu, Mam? Apakah putriku bisa mengajukan surat perceraian?" tanya Mariana.


"Seperti yang kita tahu, Nyonya. Di dalam pernikahan selalu kasus perselingkuhan yang menjadi hubungan suami istri menjadi retak. Memang tidak semua orang memiiliki hati yang memaafkan tapi biasanya kami membutuhkan pasangan yang berkonsultasi dengan kami agar pasangan itu memiliki kesempatan untuk saling memaafkan sehingga hubungan pernikahannya dapat bertahan."


"OH, No.. No!" tolal Cristin.


"Aku tidak mau, aku juga tidak mau menjalani masa ujian pra nikah dengannya agar hubungan kami bisa kembali. Sampai kapan pun aku tidak mau lagi mempertahankan pernikahan ini!" ucap Cristin lagi.


"Kami harus memberikan kesempatan untukmu Nyona agar kau tidak menyesali keputusanmu kelak."


"Tidak, Mam. Aku sudah memutuskan hal ini sejak lama dan jalan kami untuk tetap bersama sudah tidak ada lagi. Aku sudah tidak mengharapkan pernikahan ini lagi, aku ingin cepat berpisah dengannya!"


"Apa suami anda tahu jika anda ingin bercerai dengannya?"


"Dia pasti sudah tahu karena aku sudah mengutarakan niatku untuk bercerai dengannya saat malam pernikahan kami."


"Itu sudah beberapa tahun yang lalu, bagaimana jika suami Nyonya sudah berubah?"


"Walau dia sudah berubah tapi aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan. Aku benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini, Mam. Sebab itu aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu," ucap Cristin.


"Baiklah, bukannya aku tidak mau membantu, sebagai seorang pakar pernikahan aku harus tahu dan aku juga bertugas untuk menyatukan hubungan yang sudah tidak harmonis dan jika kedua belah pihak sepakat untuk bercerai maka aku akan membantu."

__ADS_1


"Kedua belah pihak?" tanya Cristin.


"Benar, sebab itu aku minta kerja sama Nyonya untuk datang dengan suami Nyonya minggu depan."


"Oh, sial!" umpat Cristin.


"Mam, di sini putriku yang dirugikan. Suaminya tidak akan menceraikan putriku dengan alasan-alasannya, apakah putriku harus bertahan dengan pernikahan yang bahkan belum dia jalani dengan suaminya yang bejat itu? Mereka bahkan belum pernah tinggal bersama setelah acara pernikahan jadi hubungan mereka hanya sebuah status belaka," ucap Mariana.


"Jangan salah paham, aku hanya memintanya datang berdua agar aku bisa menilai sikap suaminya sehingga aku bisa mengambil keputusan. Nyonya tidak perlu khawatir, aku pasti akan membantu tapi aku menginginkan kehadiran mereka berdua sebagai suami istri."


Cristin menghela napas, sudah dia duga tidak mudah. Tapi jika dia menginginkan perceraian itu maka dia harus mengikuti aturan yang ada.


"Baiklah, aku akan usahakan datang dengannya minggu depan," ucap Cristin.


"Aku senang mendengarnya, percayalah padaku, walau anda enggan tapi cara ini lebih baik dari pada anda bertemu dengannya lau bertengkar. Aku akan menilai semua sikap kalian nanti jadi jangan khawatir."


Cristin mengangguk dan kembali menghela napas, aturan tetap aturan. Sekarang dia jadi tahu kenapa banyak orang yang tidak mau terikat dengan tali pernikahan. Ternyata untuk menikah sangat mudah tapi untuk berpisah itu sulit.


Proses perceraian memang tidak mudah tapi dia harap setelah dia datang bersama dengan Johan, proses perceraian mereka bisa berjalan dengan lancar dan semoga saja Johan tidak mempersulitnya walau dia tahu pria itu pasti akan mempersulit perceraian mereka.


Setelah selesai berkonsultasi, Cristin dan ibunya pamit pergi. Walau dia sudah setuju akan datang bersama dengan Johan tapi ke mana dia harus mencari pria itu?


"Tenang saja, kita pasti akan bertemu dengannya," ucap ibunya.


"Kita akan bertemu di mana? Aku benar-benar tidak tahu di mana dia berada."


"Tidak perlu khawatir, Cristin. Dia sedang mencari keberadaanmu jadi Mommy yakin kita pasti akan bertemu. Sekarang lebih baik kita pergi ke tempat ramai, kita pergi ke tempat-tempat yang biasanya kau kunjungi dulu, siapa tau dia mencarimu di sana!"


"Mommy tahu dari mana jika dia sedang mencari aku?" tanya Cristin heran.


"Ketahuilah, Sayang. Dia sudah mengikutimu dari beberapa hari yang lalu."


"Apa?" Cristin terkejut. Jadi Johan sudah mengikutinya dari beberapa hari yang lalu? Tapi kenapa dia tidak tahu dan dari mana ibunya tahu?


"Mom, dari mana kau tahu?" tanya Cristin.


"Dari belahan jiwamu!" jawab ibunya menggoda.


"Mommy sembarangan bicara!" wajah Cristin memerah, sedangkan ibunya tertawa.

__ADS_1


Kenapa Orland bisa tahu jika Johan mengikutinya? Sebaiknya dia waspada tapi dia juga berharap bisa bertemu dengan suami baj*ngannya itu.


Cristin dan ibunya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk menghabiskan waktu berdua di sana. Selama di perjalanan Cristin teringat dengan si pria menyebalkan. Dia jadi ingin tahu, apa yang sedang dilakukan oleh pria itu? Menyebalkan, padahal sudah siang tapi belum juga menghubunginya. Awas saja jika sampai jam makan siang belum menghubunginya, akan dia gigit lehernya sampai puas.


Mereka masuk ke dalam sebuah butik, ibunya mulai memilih beberapa baju sedangkan Cristin tidak fokus dan terlihat tidak bersemangat.


"Cristin," ibunya memanggil, dia sangat heran melihat keadaan putrinya yang tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan sedari tadi.


"A-Ada apa, Mom?"


"Ada apa denganmu, Sayang? Apa kau sudah lapar? Jika kau sudah lapar kita pergi makan terlebih dahulu," ucap ibunya.


"Tidak, Mom. Aku belum lapar."


"Lalu? Kenapa kau melamun dan tidak fokus? Apa ada yang kau pikirkan atau ada seseorang yang sedang kau pikirkan?" tanya ibunya menggoda.


"Tidak, aku tidak melamun. Aku juga tidak memikirkan pria menyebalkan itu!" ucap Cristin


"Wah, pria menyebalkan mana yang kau maksud? Apa dia adalah Orland?" goda ibunya lagi.


"Ck, Mommy menyebalkan!!" Cristin memalingkan wajah, apa dia sedang memikirkan pria itu? Tidak, dia merasa ada yang aneh pada dirinya.


"Tidak perlu malu, Sayang. Jika kau sedang memikirkannya sebaiknya kau segera menghubunginya. Tidak baik menahan rindu."


"Mommy!" Cristin hampir berteriak. Ibunya hanya tertawa, putrinya memang lain di mulut lain di hati.


"Ck, aku mau pergi saja!" ucap Cristin.


"Hei, kau mau ke mana?" tanya ibunya.


"Kamar mandi, nanti aku kembali lagi."


"Wah, apa kau mau menghubunginya di sana? Tidak perlu menghubunginya di tempat itu, Mommy tidak akan mendengar dan menggganggu!" ibunya masih menggoda putrinya.


"Ck, Mommy benar-benar menyebalkan!" Cristin menghentakkan kakinya dan melangkah pergi. Ibunya kembali tertawa, dia benar-benar senang menggoda putrinya. Siapa suruh lain di mulut lain di hati?


Cristin melangkah menuju kamar mandi sambil melihat sana sini. Ibunya tidak sedang mengikutinya, bukan?


Dirasa aman, ponsel pun diambil. Dia masih terus melangkah dan mencari tempat duduk. Cristin duduk di sebuah kursi kosong setelah menemukannya dan menunggu orang yang dia hubungi menjawab panggilan darinya. Dia sungguh tidak menyadari jika seorang pria sedang melangkah ke arahnya dengan cepat. Pria itu tersenyum karena dia sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2