
Sesuai dengan permintaan Orland, sebuah undangan dikirimkan ke rumah Louis Dmytry pagi itu. Yang menerima undangan itu adalah Isabel Dmytry.
Dia memang selalu berada di rumah dan tidak melakukan apa pun. Isabel melihat kartu undangan itu dengan teliti. Karena tidak tertarik, Isabel melemparkannya ke hadapan Zion.
"Undangan untukmu," ucapnya seraya melangkah pergi.
"Dari siapa?" Zion melihat kartu undangan tersebut dengan enggan.
"Entahlah, kau bisa melihatnya sendiri!" Isabel mengambil semangkuk sereal dan duduk tidak jauh dari Zion. Walau mereka sudah memiliki perusahaan milik Orland tapi mereka tidak bisa bertindak sesuka hati. Dia sangat ingin keliling dunia dan hidup glamour seperti sosialita lainnya namum sayang, dia tidak bisa menggunakan uang perusahaan sesuka hati.
Zion melihat kartu undangan itu dan meraihnya, dia menebak itu hanya sebuah undangan dari seorang rekan atau sahabatnya saja yang suka pesta.
Kartu undangan dibuka, Zion masih terlihat enggan tapi tidak lama kemudian matanya terbelakak melihat nama Weyland Corporation.
"Oh my God!" Zion mulai bersemangat dan membaca isi undangan. Isabel melirik ke arahnya sejenak dan setelah itu dia kembali menikmati serealnya.
Mereka diundang oleh Weyland Corporation dalam acara ulang tahun Grifin Bailey yang ke enam puluh lima tahun. Acara itu akan diadakan di sebuah hotel mewah milik Grifin Bailey. Entah ada hubungan apa antara Grifin Bailey dan pemilik perusahaan Weyland, itu tidaklah penting yang penting mereka diundang secara exclusive oleh Weyland Corporation.
Apa perusahaan itu sengaja mengundang mereka di sana untuk membahas bisnis yang selalu tertunda? Itu bisa saja terjadi, di sana juga dia bisa mengenal banyak pengusaha. Ini benar-benar kesempatan yang tidak boleh dia lewatkan.
Zion beranjak, dia butuh ponselnya sekarang juga. Ini kesempatan emas yang tidak boleh dia lewatkan sama sekali, dia akan mengatakan pada ayahnya nanti. Ayahnya pasti akan senang karena ayahnya sudah menantikan hal itu sejak lama.
Setelah mendapatkan ponselnya, Zion menghubungi Weyland Corporation tanpa ragu. Sesuai dengan perintah, Gail yang akan berperan seperti yang sudah-sudah.
"Weyland Corporation?"
"Selamat siang, Sir. Aku Zion Dmytry dari perusahaan Dmytry. Aku baru saja mendapatkan undangan dari anda."
"Bagus jika begitu, apa kau bersedia hadir?" sela Gail.
__ADS_1
"Tentu, tentu saja aku bersedia hadir. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini apalagi undangan ini langsung dari anda," ucap Zion.
"Aku sangat senang mendengarnya, Tuan Dmytry. Anggap sebagai permintaan maafku karena telah mengecewakan anda beberapa kali. Aku pasti akan membahas bisnis dengan anda di sana tapi semua tergantung dengan performa anda," ucap Gail.
"Tentu saja, aku tidak akan mengecewakan dirimu!" ucap Zion.
"Aku menanti, Tuan Dmytry. Jika kau mengecewakan maka lupakan!!" setelah berbicara demikian, Gail menutup teleponnya.
"Bagaimana, Gail?" tanya Orland yang mendengar sedari tadi.
"Tentu saja dia bersedia, Sir. Apa kau benar-benar akan bekerja sama dengannya?" tanya Gail ingin tahu.
"Tentu saja tidak, Gail. Zion tidak sepintar yang terlihat. Dia masih mudah dikuasai oleh emosi. Buatlah sebuah permainan tapi kau juga harus berhati-hati karena dia licik."
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Sir?" tanya Gail ingin tahu.
"Aku pasti akan melakukan apa yang kau perintahkan, Sir. Aku akan membantumu sampai kau mendapatkan perusahaan ayahmu lagi," ucap Gail.
"Terima kasih, kau sudah mengatakannya. Musuh mulai masuk perangkap dan aku percaya denganmu, Gail. Hanya kau saja yang aku percaya jadi jangan khianati aku seperti asisten ayahku dulu."
"Tentu tidak," ucap Gail. Mana mungkin dia menngkhianati orang yang telah menolongnya?
Orland percaya dengan pria itu jadi dia membicarakan rencananya dengan Gail. Tidak ada yang dia sembunyikan bahkan dia meminta Gail mencari mantan asisten ayahnya karena dia juga ingin pengkhianat itu hancur bersama dengan keluarga pamannya.
Sementara itu, Zion sedang berbangga diri di hadapan keluarganya. Dia harus menunjukkan pada ayahnya jika dia sudah hampir berhasil tapi dia juga punya rencana jika sampai dia gagal bekerja sama dengan Weyland Corporation.
"Jadi kita diundang ke acara pesta?" tanya ibunya. Dia pecinta pesta tentu dia sangat senang mengetahui hal itu.
"Ya, pesta ulang tahun Grifin Bailey."
__ADS_1
"Oh my God, Zion. Kenapa bisa?" tanya ibunya tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka diundang oleh pemilik hotel itu?
"Itu tidak penting, Mom. Yang paling penting adalah, Weyland Corporation mengundang aku untuk menjalin kerja sama. Saat kita sudah bisa menggandeng perusahaan bergengsi itu, perusahaan kita akan semakin maju dan kehidupan kita akan semakin lebih baik lagi," ucap Zion.
"Jadi aku bisa pergi ke luar negri kapan pun aku mau?" tanya ibunya. Itu impiannya sejak lama.
"Tentu, tapi aku butuh kerja sama Isabel!" ucap Zion. Sesungguhnya dia memiliki rencana lain. Menjebak pemilik perusahaan itu bukanlah buruk. Lagi pula Isabel tidak akan rugi apa pun nantinya.
"Apa maksudmu?" tanya Isabel dengan nada tidak senang.
"Ikut aku ke pesta, Isabel. Kau harus mengambil peranmu nanti. Aku ingin kau mendekati pemilik Weyland Corporation dan menggodanya," ucap Zion.
"Apa kau sudah gila, Zion?!"
"Isabel, kau tidak rugi. Jika kau bisa menggodanya dan menghabiskan malam dengannya, tidak saja perusahaan kita akan semakin maju tapi kau juga akan punya kehidupan yang nyaman. Aku dengar pemilik perusahaan itu masih muda, sekarang saatnya bagi kita untuk mengepakkan sayap. Kau tidak mau sampai Orland kembali lalu meremehkan kita, bukan? Gunakan kesempatan ini agar kita tidak jadi pecundang!"
"Yang diucapkan oleh Zion sangat benar, Isabel. Dulu aku sangat iri melihat ayah Orland sukses, aku ingin seperti dirinya tapi tidaklah mudah. Sekarang kita tinggal mengembangkan perusahaan yang sudah kita dapatkan jadi jangan sia-siakan. Apa kau ingin hidup seperti dulu lagi?" ucap ayahnya.
"Tentu saja tidak, Dad. Aku tidak sudi kembali seperti dulu lagi, akan aku lakukan. Hanya menggodanya saja, bukan? Bukan hal sulit tapi jangan katakan aku harus menggodanya hanya karena kau tidak yakin bisa bekerja sama dengannya!" Isabel menatap ke arah Zion dengan lantang.
"Dengar, Isabel. Aku memang tidak yakin, sebab itu kau berperan sangat penting. Sudah aku katakan kau tidak rugi, dia juga bukan orang tua."
"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya isabel.
"Belum tapi aku yakin seratus persen jika pemilik Weyland Corporation adalah seorang pemuda."
"Baiklah, baik. Akan aku lakukan!" ucap Isabel setuju. Lagi pula dia memang ingin menjerat seorang pemuda kaya yang bisa memberikannya harapan cerah. Dia tidak mau mendapatkan seorang pemuda sampah, jangan sampai dia bertemu pemuda seperti itu.
Zion terlihat puas, Isabel sudah setuju maka tinggal menunggu waktu pesta itu datang. Kesuksesan berada di depan mata, siapa pun pemilik Weyland Corporation nanti pasti akan masuk ke dalam perangkapnya. Seperti yang Orland katakan, Zion pria licik tapi tetap saja dia tidak tahu jika itu adalah jebakan.
__ADS_1