Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Jangan Terburu-buru


__ADS_3

Hari itu, Zion akan pergi ke Weyland Corporation. Dia harus menyelesaikan apa yang sedang terjadi dengan cepat. Dia juga harus meminta pria yang dia temui malam itu untuk menyerahkan semua foto memalukan adiknya terlepas siapa pun pria itu.


Pagi itu Gail juga sudah tiba, ada beberapa hal yang hendak dia lakukan sebelum menjemput bosnya. Sesungguhnya hanya alasan, dia datang lebih pagi untuk melihat seseorang terlebih dahulu seperti yang dia lakukan beberapa hari belakangan.


Gail melihat jam yang melingkar di tangan. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia rasa bosnya tidak ingin diganggu karena masih pagi dan dia yakin bosnya pasti sedang bersama dengan kekasih galaknya. Sampai sekarang dia masih berharap semoga dia tidak mendapat kekasih yang galak seperti kekasih bosnya.


Saat itu Orland memang sedang bersama dengan Cristin karena Cristin menginap di rumahnya. Mereka berdua merayakan kebebasan Cristin karena Johan sudah di penjara.


Cristin masih tidur dengan nyenyak di atas ranjang, sedangkan Orland sudah terbangun sejak tadi. Segelas susu sudah berada di tangan dengan sepiring roti bakar.


Sarapan diletakkan di atas meja dan setelah itu Orland menghampiri Crisitn. Ciumannya mendarat di bahu Cristin, wajah cantiknya bahkan diusap dengan perlahan.


"Cristin, kau bilang ingin berenang pagi ini?" bisik Orland seraya mencium pipinya.


"Hm, aku masih mengantuk!" Cristin berbalik dan memeluknya.


"Ayolah, aku sudah buatkan sarapan. Jangan sampai dingin, nanti jadi tidak enak."


"Biarkan aku tidur sebenar lagi, Orland!" pinta Cristin karena dia memang masih mengantuk.


"Segeralah bangun, jika tidak aku akan melemparmu ke dalam kolam renang," ucap Orland bercanda.


"Coba saja jika kau berani, aku akan menendangmu sampai ke Mars!" ucap Cristin dan tidak lama kemudian, teriakan Orland terdengar karena Cristin menggigit bahunya dengan keras.


Dia benar-benar sudah terbiasa, dia rasa dia akan mendapatkan gigitan dari Cristin setiap pagi setelah mereka menikah.


Cristin sudah tidak menggigit lagi karena Orland diam saja bahkan Orland sudah tidak mempedulikan rasa sakinya.


"Kenapa tidak berteriak lagi?" tanya Cristin seraya memandanginya dengan tatapan heran.


"Aku sudah terbiasa" ucap Orland sambil tersenyum.


"Menyebalkan, sudah tidak menyenangkan lagi!" Cristin memukul dadanya, sedangkan Orland terkekeh.


"Pantas saja Gail pernah berkata jika kau begitu galak."


"Dia pernah mengatakan hal itu padamu?"


"Yeah, dia pernah bertanya padaku kenapa aku bisa menyukai dirimu yang galak dan menyebalkan."

__ADS_1


"Ck, aku harap dia mendapatkan wanita yang lebih galak dan menyebalkan dari pada aku!" ucap Cristin.


"Hei, apa ini semacam sumpah?"


"Tidak, ini semacam doa," jawab Cristin.


"Jika begitu, aku akan mengaminkannya. Semoga saja dia mendapat yang lebih galak darimu!," ucap Orland.


Mereka berdua tertawa, Orland memeluknya dan mencium pipinya. Mata Cristin terpejam, menikmati ciuman yang Orland berikan.


"Apa yang mau kau lakukan hari ini, Sayang?"


"Entahlah, aku tidak punya rencana."


"Pikirkanlah, aku akan membawamu pergi ke mana pun kau mau!"


Cristin tersenyum, mereka berdua saling pandang. Dia memang tidak punya rencana, dia juga enggan pergi bekerja. Rasanya ingin selalu berdua seperti itu tanpa pergi ke mana pun.


"Bagaimana?" tanya Orland seraya mengusap wajahnya.


"Entahlah, apa ada ide?"


"Hei, kau terlihat tidak sabar!"


"Yeah, aku memang sudah tidak sabar. Aku tidak sabar menjadikan kau sebagai milikku karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai aku menunda lama sehingga kau diambil oleh pria lain sehingga hanya ada rasa sesal saja. Pria yang jauh lebih baik dari pada aku banyak di luar sana jadi jangan sampai kau bertemu dengan mereka lalu kau berpaling karena aku terlalu lama mengukuhkan hubungan kita."


"Hal itu tidak mungkin terjadi, Orland," Cristin mengusap wajahnya dengan perlahan, "Bagiku kau sudah cukup dan aku tidak butuh yang lainnya!"


Orland tersenyum, dia sangat senang mendengarnya tapi bukan berarti dia akan menunda. Tinggal sedikit lagi, dia pasti akan melamar Cristin dan memberikan kejutan pada keluarga pamannya karena semua sudah berada di dalam kendalinya.


"Jika begitu bangunlah, setelah sarapan dan berenang kita pergi memilih gaun pengantin dan aku membelikannya untukmu."


"Baiklah," Cristin beranjak dari atas tempat tidur. Dia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, sedangkan Orland mengambil ponsel yang ada di atas meja karena dia ingin menghubungi Gail.


Saat itu Zion belum tiba, Gail juga sedang menyiapkan beberapa berkas yang harus bosnya periksa nanti. Ketika ponselnya berbunyi, Gail menjawabnya dengan cepat apalagi itu dari bosnya.


"Jemput aku jam sepuluh nanti, Gail!" perintah Orland.


"Yes, Sir. Kemarin Nona Isabel datang ke kantor," ucap Gail. Dia memang belum mengatakan hal ini pada bosnya.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?" tanya Orland ingin tahu.


"Dia meminta pertanggungjawaban dariku karena aku sudah tidur dengannya."


"Ha... Ha... Ha... Ha...!" Orland tertawa terbahak, Cristin sampai mengintip dari balik pintu kamar mandi karena mendengar tawanya. Dia bahkan melihat Orland dengan tatapan heran, apa ada hal yang begitu lucu sampai membat Orland tertawa seperti itu?


"Sungguh luar biasa, dia. berani memintamu bertanggung jawab untuk sesuatu yang sudah dia dan Zion rencanakan. Lalu apa yang kau katakan padanya?" Orland semakin ingin tahu. Dia tidak menyangka ternyata Isabel begitu tidak tahu malunya sampai meminta Gail melakukan hal itu.


"Aku bilang akan menuntutnya karena dia sudah berani menjebakku. Aku rasa setelah ini aku harus menyebar video dan juga foto memalukannya ke internet agar mereka mendapatkan pelajarannya."


"Tahan dulu, Gail. Jangan terburu-buru. Isabel sudah datang, kemungkinan hari ini Zion akan datang untuk menemuimu jadi jangan menyebarkannya terlebih dahulu. Lakukan nanti di saat yang tepat dan ingat, jika Zion benar-benar datang, lakukan yang terbaik dan setelah itu lemparkan umpan!" perintah Orland.


"Baik, Sir. Aku akan memerintahkan seseorang menyambutnya dengan baik jika dia datang. Aku pasti melakukan yang terbaik untukmu."


"Aku serahkan dadamu!!" Seringai menghiasi wajah, Zion dan Isabel juga pamannya, tinggal menunggu waktu saja maka kehancuran akan menghampiri mereka.


Setelah berbicara dengan Gail, Orland berdiri di depan jendela dan diam saja. Tatapan matanya menerawang jauh, sebentar lagi dia akan mengambil semua yang ayahnya miliki dan membuat ayahnya bangga. Setelah bertahun-tahun kejadian itu, dia tahu ayahnya kecewa tapi sekarang, dia akan memulihkan nama baik ayahnya yang sudah dia hancurkan. Tunggu saja, dia benar-benar sudah tidak sabar.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Cristin. Cristin sedang mengeringkan rambutnya yang basah karena dia baru saja mandi.


"Kenapa kau mandi? Bukankah kau bilang mau berenang?" Orland sudah melangkah mendekatinya.


"Tidak jadi, setelah sarapan kita pergi jalan-jalan saja."


"Baiklah, berikan handuknya padaku!"


"Jadi?" Cristin duduk di sebuah kursi, sedangkan Orland berdiri di belakangnya sambil mengeringkan rambutnya.


"Apa yang membuatmu tertawa sepeti itu?" Cristin mendongak dan memandanginya.


"Aku sedang menertawakan kehebatan sepupuku, Sayang."


"Benarkah?" Cristin mengernyitkan dahi. Apakah begitu lucu sampai membuat Orland tertawa seperti itu?


"Yes, mau dengar?"


"Tentu, terdengar menyenangkan."


Orland tersenyum, rambut Cristin masih dikeringkan. Dia yakin seratus persen Zion pasti akan datang dan memang, Zion sudah tiba di kantornya saat itu sambil membawa dokumen yang ditandatangani oleh Gail.

__ADS_1


__ADS_2