
Pagi itu terasa berbeda bagi Orland, walau mereka sudah tidur bersama waktu camping tapi pagi ini terasa berbeda. Orland tersenyum karena Cristin memeluknya dengan erat. Semoga saja Cristin menginap di rumahnya lebih lama sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama seperti itu.
Ciuman Orland mendarat di dahi Cristin, ini bukan pertama kali dia menjalin hubungan tapi entah kenapa rasanya begitu berbeda dengan Cristin. Apa karena dia wanita yang sudah membayarnya? Rasanya ingin menawarkan diri lagi pada wanita itu agar Cristin membelinya. Tidak perlu mahal, satu dolar pun dia bersedia.
Tangan Orland tidak berhenti mengusap punggung Cristin, ciumannya juga kembali mendarat di dahi Cristin. Sentuhan yang dia berikan membuat Cristin terbangun, Cristin melihat sekelilingnya dan setelah itu melihat ke arahnya.
"Good morning, Cristin," ucap Orland seraya mencium pipinya.
"Kenapa kau tidur denganku?" Cristin pura-pura lupa.
"Kau yang ingin tidur denganku, Sayang."
"Tidak mungkin!" ucap Cristin seraya memutar tubuhnya agar Orland tidak melihat wajahnya yang memerah.
Orland tersenyum dan memeluk Cristin dari belakang, bibirnya bahkan sudah berada di tengkuk wanita itu dan bermain di sana. Cristin menggigit bibir, menahan geli akibat sentuhan bibir Orland.
"Orland!" Cristin hendak menyingkir tapi Orland memeluknya erat.
"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, Cristin," ucap Orland.
"A-Apa?" Cristin jadi gugup sendiri karena tangan Orland yang bermain di perutnya, sedangkan bibir Orland masih bermain di tengkuknya dan bahunya.
"Apa kau tidak mau membeli aku lagi, Cristin?"
"What?" Cristin sedikit tidak mengerti.
"Apa kau tidak mau membeli aku lagi? Kali ini murah, satu dolar pun aku terima dan ini khusus untukmu saja!"
"Tidak mau!" Cristin mencubit lengan Orland yang tidak berhenti di dalam bajunya.
"Hei.. Hei! Kenapa kau mencubit lenganku?"
"Lengan nakal ini pantas di cubit!" Cristin semakin mencubitnya dengan keras. Orland berteriak, bahu Cristin pun menjadi sasaran empuk bagi gigi Orland.
Cristin juga berteriak tapi tidak lama kemudian teriakannya menjadi gelak tawa karena rasa geli yang disebabkan oleh gigi dan tangan Orland. Dia bahkan meringkuk karena rasa geli.
"Orland, stop! Apa kau ingin membuat aku mengompol!" pinta Cristin.
"Ups, aku berhenti!" Orland menghentikan aksinya. Cristin beranjak dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi dengan terburu-buru. Jangan sampai mengompol karena itu sangat memalukan.
Setelah Cristin masuk ke kamar mandi, Orland mengambil ponselnya dan beranjak menuju jendela. Dia ingin menghubungi Gail dan mengatakan jika dia tidak ke kantor hari ini karena dia mau berduaan saja dengan Cristin di rumah.
Orland berbicara dengan Gail sambil melihat ke arah taman, dia tidak menyadari kehadiran Cristin yang melangkah mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Orland tersenyum, Senyumnya semakin lebar saat Cristin melihatnya dari samping sambil memberikan sebuah isyarat seperti bertanya dengan siapa dia sedang berbicara saat ini.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti, Gail. Laporkan padaku jika terjadi sesuatu," ucap Orland. Pembicaraan pun berakhir, Orland berbalik dan memeluk Cristin.
"Apa sudah selesai, Nona?"
"Tentu saja!" Cristin tersenyum saat Orland mencium pipinya.
"Jadi, bagaimana dengan tawaranku tadi, Cristin?"
"Yang mana?" tanya Cristin.
__ADS_1
"Hei, jangan katakan kau lupa padahal belum lama aku mengatakannya!"
"Ck, jangan mengatakan yang tidak-tidak! Aku tidak berminat membelimu lagi!"
"Kenapa? Apa ada yang salah denganku?"
"Bodoh! Kau pacarku sekarang, untuk apa aku membelimu!" ucap Cristin dengan wajah yang memerah.
Orland terkejut, pacar? Jadi Cristin sudah menganggapnya sebagai pacar?
"Ta-Tapi kau tidak boleh melakukan apa pun padaku karena...," ucapan Cristin terhenti tapi teriakannya terdengar karena tiba-tiba saja Orland mengangkat tubuhnya dan memutarnya berkali-kali. Itu karena dia sangat senang karena Cristin sudah menganggapnya sebagai kekasihnya.
"Orland, kepalaku pusing!" teriak Cristin sambil memukul bahu Orland.
"Oh, sial! Aku juga!" Orland menurunkan Cristin dari gendongannya. Mereka berdua tampak sempoyongan.
"Kau benar-benar menyebalkan!" teriak Cristin.
"Sorry, Sayang. Aku terlalu senang!"
"Sana pergi!" ucap Cristin seraya mendorongnya.
"Hei, jangan dorong!" Orland menarik tangan Cristin secara refleks. Karena mereka sama-sama masih pusing, jadi mereka berdua hilang keseimbangan.
"Orland!" teriak Cristin karena Orland menariknya. Tidak saja Cristin, Orland juga berteriak. Suara tubuh mereka yang terjatuh di atas lantai terdengar, kepala Orland bahkan terbentur lantai dengan keras.
"Aw, kepalaku!" teriak Orland.
"Kau yang salah!" Cristin beranjak dari atas tubuh Orland. Beruntungnya dia jatuh di atas pelukan pria itu.
"Apa kau baik-baik saja, Orland?"
"Siapa kau?" Orland balik bertanya.
"Ini aku, ada apa denganmu?" Cristin menatapnya dengan tatapa curiga.
"Kau siapa? Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Orland lagi.
"Jangan menakuti aku, Orland!"
"Mana ayah dan ibuku?" Orland beranjak dan duduk di atas lantai.
"Orland!" Cristin berteriak dan memeluk Orland. Jangan katakan Orland amnesia karena terbentur lantai karena itu tidaklah lucu.
"Jangan menakuti aku!" Cristin mengulangi ucapannya.
"Memangnya kau siapa?" Orland masih bertanya.
"Aku pacarmu, jangan pura-pura lupa!"
"Oh ya? Apa buktinya?"
"Apa harus bukti?" Cristin menatap Orland dengan lekat, dia jadi curiga.
__ADS_1
"Tentu saja, katakan jika kau mencintai aku maka aku akan percaya!" pinta Orland.
"Baiklah," Cristin tersenyum dan memeluknya kembali. Ingin menipunya? Tidak akan mudah!
"Ini buktinya!" teriak Cristin dan setelah itu Cristin menggigit bahu Orland dengan keras.
Orland berteriak, aduh. Bukannya mendapat ungkapan cinta tapi justru satu gigitan dia dapatkan.
"Apa masih mau menipu aku?" Cristin tersenyum dengan ekspresi puas.
"Teganya!" Orland mengusap bahu.
"Lain kali jangan diulangi! Awas saja kau masih menipu aku dengan pura-pura amnesia!" ancam Cristin.
"Bagaimana jika aku tidak pura-pura?" tanya Orland.
"Jika hanya karena terbentur lantai saja sudah memmbuat amnesia berarti kau dan aku selesai!"
Orland terkekeh dan menarik Cristin mendekat. Cristin kembali ke pelukannya dan setelah itu mereka berdua berbaring di atas lantai.
"Maafkan aku, aku hanya ingin mendengar ungkapan perasaanmu saja," ucapnya seraya mencium dahi Cristin.
"Sudahlah, tapi lain kali jangan mengulanginya lagi!"
"Aku tahu, jadi?" tangan Orland sudah berada di wajah Cristin dan mengusapnya perlahan.
"Apanya yang jadi?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Nona? Aku ingin mendengarnya, katakan jika kau menyukai aku," pinta Orland.
"Aku?" Cristin tampak ragu.
"Hm," Orland mencium pipinya, dia sangat menanti Cristin mengatakannya.
"Tell me if you love me, Cristin."
Cristin menggigit bibir, kenapa dia begitu sulit mengatakan perkataan seperti itu? Jujur saja, lidahnya jadi kelu. Rasanya perkataan itu sulit dia ucapkan.
"Cristin?" Orland sangat heran karena Cristin diam saja.
"Apakah harus, Orland? Aku benar-benar belum bisa mengucapkannya!"
"Kenapa?" Orland sangat heran. Kenapa Cristin tidak bisa mengucapkan perkataan itu?
"Entahlah, aku sulit mengucapkannya."
"Baiklah, aku tidak memaksa. Aku akan menunggu kau mengatakan hal. Sebaiknya kira sarapan terlebih dahulu, kau sudah lapar bukan?"
"Aku benar-benar minta maaf."
"Sudahlah," Orland mencium pipinya dengan lembut.
Mereka berdua beranjak, Cristin keluar dari kamar itu saat Orland masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Kenapa dia belum bisa mengucapkan perkataan seperti itu? Apa dia masih ragu dengan Orland. Dia rasa tidak, mungkin saja dia masih enggan mengucapkan kata cinta karena dia trauma tapi seiring berjalan waktu, dia pasti bisa mengucapkan tiga kata kramat untuk pasangan kekasih itu.