
Selama dua hari, Gail benar-benar mengawasi tapi sayangnya sudah tidak ada yang mengikuti karena anak buah Dean merubah rencana mereka dan saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk rencana besar mereka.
Seperti misi semula, mereka harus membunuh Orland dan menculik Cristin. Mereka akan melakukan misi ini sekaligus. Mereka akan membagi diri menjadi dua kelompok, yang satu mencegat Orland dan menghabisinya, sedangkan satu kelompok lagi menculik Cristin. Misi itu akan dilakukan secara bersamaan di saat mereka sedang tidak bersama agar tidak ada yang menyadari keberadaan mereka.
Mereka memang sengaja mundur apalagi ada dua pengawal bayangan yang selalu bersama dengan Cristin. Jika sampai kedua pengawal itu mengetahui keberadaan mereka maka rencana mereka semua akan gagal.
Gail sangat berharap bertemu dengan orang-orang yang mengikuti waktu itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi. Padahal dia sudah menyimpan banyak senjata apinya di mobil, dia benar-benar sudah siap menyerang saat musuh kembali mengikuti tapi sepertinya dia harus menahan diri untuk sesaat. Orland tidak tahu sama sekali jika mobilnya penuh dengan senjata api milik Gail karena pria itu menyembunyikannya dengan sangat baik.
Selama dua hari itu pula, Johan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Uang yang dia dapatkan sudah cukup banyak, dia sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Lauren karena dua sudah sangat merindukan kekasihnya. Selama dua hari itu pula dia tidak bisa menghubungi Lauren dan sampai saat ini dia belum bisa menghubungi Lauren namun semua itu tidak jadi soal karena dia berniat memberikan kejutan untuk Lauren.
Johan langsung menuju rumah sakit, dengan seikat bunga di tangan. Dia ingin memberikan kejutan untuk Lauren, keadaannya pasti akan baik-baik saja saat ini. Dengan semangat tinggi, Johan mencari keberadaan Lauren. Dia mencari ruangan di mana Lauren dirawat tapi sayangnya tidak ada pasien bernama Lauren yang sedang dirawat.
Johan terlihat bingung, dia bahkan meminta perawat yang sedang bertugas untuk mengeceknya lagi namun memang tidak ada pasien yang bernama Lauren. Hal itu membuat Johan berpikir, apakah Lauren sudah pulang ke rumah? Dia harap demikian tapi entah kenapa dia punya firasat buruk. Rasanya tidak mungkin apalagi dia sudah meminta Lauren untuk menunggunya di rumah sakit.
"Aku membawanya dua hari yang lalu, dia melakukan pencucian darah. Coba periksa sekali lagi!" pinta Johan pada seorang perawat.
"Jika begitu tunggulah sebentar," sang perawat mulai memeriksa. Johan benar-benar cemas, dia harap apa yang sedang dia pikirkan saat ini tidaklah benar.
__ADS_1
Setelah sekian lama menunggu, sang perawat melihat ke arahnya. Johan benar-benar sudah sangat ingin tahu apalagi sedari tadi firasatnya buruk.
"Apa yang kau cari Nona Lauren Wills?" tanya sang perawat itu.
"Ya, benar. Ruangan mana dia sedang di rawat?" tanya Johan dengan cepat.
"Apa kau keluarganya?" saat mendengar pertanyaan itu, Johan semakin yakin jika sudah terjadi sesuatu dengan Lauren.
"Apa yang telah terjadi dengannya?" teriak Johan lantang. Dia semakin terlihat frustasi, jangan katakan Lauren pergi saat dia sedang tidak ada.
"Sial, tidak mungkin!" Johan mengusap wajah, matanya sudah terasa panas. Rasanya ingin berteriak, dia bahkan tidak sanggup menahan air mata.
Seorang petugas membawanya menuju ruangan, tentunya yang mereka tuju adalah ruang mayat karena Lauren meninggal tidak lama setelah dia dirawat. Dia sudah tidak sanggup menahan penyakitnya lagi, sebab itu dia sudah punya firasat ketika Johan pergi menjalankan bisnis, itu adalah hari terakhir mereka bertemu dan memang itulah yang terjadi. Lauren sangat ingin pergi dalam pelukan Johan tapi sayangnya tidak bisa, dia bahkan tidak meninggalkan satu pesan pun karena dia meniggal saat waktu menunjukkan pukul dua pagi. Dia sendirian, dia menahan rasa sakit sendirian sampai akhirnya dia sudah tidak bisa bertahan lagi.
Satu keinginannya adalah, dia ingin meminta maaf pada Johan karena telah mempersulit hidupnya selama ini dan dia ingin meminta Johan mengiklaskan dirinya. Dia juga ingin meminta Johan melupakan semuanya dan memulai hidup baru namun sayang keinginan terakhirnya tidak bisa tersampaikan.
Sebuah lemari pendingin mayat di dorong saat Johan sudah berada di ruang mayat. Johan tidak sanggup melihat wajah Lauren yang sudah pucat dan tubuhnya terbujur kaku. Teriakannya terdengar, begitu juga dengan tangisannya. Dia tidak menduga jika dua hari yang lalu menjadi hari terakhir mereka bersama.
__ADS_1
Dia ditinggal sendiri, untuk menangisi kepergian Lauren. Penyesalan memenuhi hati, rasa bersalah menjadi satu dalam hatinya.
"Kenapa kau meninggalkan aku begitu cepat? Kenapa kau pergi di saat aku tidak ada?!" Johan memeluk jasad Lauren dengan erat, padahal dia sudah bersumpah untuk menjaga dan melindungi Lauren tapi apa yang terjadi?
"Kenapa kau tidak bisa bertahan hanya untuk dua hari saja, Lauren? Tinggal sedikit lagi aku pasti mendapatkan ginjal untukmu tapi kenapa kau tidak bisa menunggu?" jika dia tahu dua hari lalu menjadi hari terakhir mereka maka dia tidak akan pergi berbisnis. Dia akan memilih bersama dengan Lauren dan menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Dia sungguh tidak menduga Lauren pergi begitu saja. Seandainya dia tidak membuang waktu dan mendapatkan ginjal Cristin lebih cepat? Dia rasa Lauren tidak akan pergi darinya.
"Lauran!" Johan berteriak memanggil namanya dan menangis dengan keras sambil memeluk tubuh Lauren dengan erat, dia tidak akan membiarkan kematian Lauren menjadi sia-sia. Dia bersumpah akan membalas kematian Lauren. Semua yang terjadi karena pria yang bersama Cristin, jika dia tidak menolong Cristin maka saat ini semua rencananya sudah berjalan dengan lancar.
Akan dia hancurkan, dia bersumpah akan hal itu. Lauren tidak akan mati sendirian karena Cristin akan menemani kematiannya nanti.
"Aku tidak akan membiarkan kematianmu menjadi sia-sia, Lauren. Kau tidak akan sendirian, aku akan membuat Cristin menemani kematianmu. Aku bersumpah akan hal itu. Maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Maafkan aku karena aku tidak bisa menemani kepergianmu, jika aku tahu maka aku tidak akan pergi. Aku benar-benar sudah gagal dan tidak bisa menepati sumpahku pada keluargamu, maafkan aku!" bahu Johan gemetar, air matanya tumpah. Johan mempererat pelukannya, Dia tidak menyangka hal itu akan terjadi, dia tidak menduga mereka akan berpisah.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Cristin. Aku akan membuatmu menderita sebelum kau mati. Aku pasti akan melakukannya demi sumpahku pada Lauren, setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku pasti membuat perhitungan denganmu!" ucap Johan dan setelah itu teriakan Johan kembali terdengar.
Johan meratapi kematian Lauren begitu lama, sambil menahan rasa hancur dan kesedihan yang teramat dalam, Johan mengurus semua yang perlu dia urus dan setelah itu Johan membawa jenazah Lauren pergi dari rumah sakit. Dia tidak terima kematian Lauren, tidak. Pada saatnya tiba nanti, Lauren pasti akan melihat kematian Cristin.
Johan memandangi wajah kekasihnya yang sudah tidak bernyawa, rasa sesak memenuhi hati. Kali ini dia akan melakukan sumpahnya agar Lauren bisa mati dengan tenang.
__ADS_1