
Cristin sedang berada di kamar tamu saat itu. Sebentar lagi mereka akan berbeque di sisi kolam renang. Begitu mereka kembali, semua alat-alat untuk barbeque sudah siap di sisi kolam renang.Tentunya semua itu disiapkan oleh pelayan pribadi Orland.
Cristin menolak saat Orland memintanya menyimpan barang-barangnya dan mandi di dalam kamarnya, dia lebih memilih kamar tamu. Jangan sampai ada yang salah paham, tidak, bukan itu. Dia takut mereka kelepasan sehingga melakukan hubungan terlarang. Walaupun mereka sudah pernah melakukannya, tapi untuk kali ini dia tidak mau melakukan hubungan itu dengan mudahnya.
Air masih menetes dari rambut Cristin saat dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dia memilih mandi terlebih dahulu sebelum mereka menikmati malam mereka berdua. Sesungguhnya dia sudah tidak sabar, ini pertama kalinya dia melakukan hal itu. Sebenarnya apa saja yang dia lakukan dengan Johan dulu?
Dari pada memikirkan pria itu lebih baik dia menikmati waktunya bersama dengan Orland. Dia ingin membuat kenangan lain bersama dengan Orland. Entah kenapa dia berharap mereka berjodoh sehingga kali ini dia tidak gagal.
Setelah memakai bajunya, Cristin keluar dari kamarnya. Dia masih asing dengan kastil itu, dia bahkan lupa yang mana kamar Orland karena di sana banyak kamar dengan pintu yang sama. Sebaiknya dia mencari Orland karena dia tidak tahu di mana kolam renang.
"Orland," Cristin memanggil dan melihat sana sini.
Ck, kenapa begitu sunyi? Cristin berjalan ke ruangan lain, matanya masih melihat sana sini. Rasanya ingin berteriak keras tapi dia terkejut saat Orland menariknya dan memeluk pinggangnya.
"Apa yang kau cari?" tanya Orland seraya mengusap wajahnya.
"Tentu saja mencarimu," Cristin tersenyum.
"Kau sangat wangi, Cristin," Orland mencium lehernya untuk menghirup wangi tubuhnya.
"I-Ini hanya wangi sabun saja," ucap Cristin dengan wajah memerah.
Orland tidak menjawab dan memeluk Cristin dengan erat sehingga tubuh mereka berdua merapat. Cristin tersenyum tipis dan mengusap rambut hitamnya. Entah kenapa dia menyukai kebersamaan mereka yang seperti itu. Tidak perlu kata-kata manis, tapi tindakan seperti itu sudah membuatnya sangat senang.
"Orland, kau ingin memeluk aku sampai kapan?" tanya Cristin. Walau dia senang tapi mau sampai kapan mereka berpelukan seperti itu. Apa Orland tidak tahu? Mereka sudah seperti patung pajangan.
"Aku enggan melepaskanmu, Cristin. Rasanya aku ingin memelukmu sampai pagi."
"Aku tidak mau, peluk patung sana!" ucap Cristin sinis.
Orland terkekeh dan mencium pipinya, "Bagaimana jika malam ini aku memelukmu sampai pagi?" tanyanya.
"Dalam mimpimu!" ucap Cristin seraya mencubit perut Orland.
"Aw!" teriakan Orland terdengar, lagi-lagi satu cubitan dia dapatkan.
"Tidak saja suka mengigit, ternyata kau juga suka mencubit!" ucapnya seraya mengusap perutnya.
"Salahkan tanganku!" ucap Cristin.
"Oh, ya? Jika begitu kemarikan tanganmu!"
"Oh, tidak!" Cristin mengambil langkah seribu karena Orland mengejarnya.
"Orland, pria sejati tidak boleh membalas!" teriak Cristin sambil berlari.
__ADS_1
"Kemarilah, Cristin. Aku menginginkan tanganmu," ucap Orland.
"Apa, untuk apa?"
"Untuk aku gigit sampai pagi!"
"Oh, tidak!" Cristin membuka sebuah pintu. Dia tidak tahu pintu itu terhubung ke mana tapi langkah Cristin terhenti saat melihat taman yang indah dan kolam renang yang luas.
"Wow!" perkataan itu terucap di bibir melihat indahnya tempat itu.
"Bagaimana, apa sudah siap barbeque?" Orland meraih pinggangnya. Mereka melangkah mendekati kolam renang dengan perlahan, tentunya Cristin melihat tempat itu dengan teliti.
"Wah, kastil ini benar-benar bagus!" Cristin mulai berlari ke arah kolam renang. Dia benar-benar mengagumi tempat itu.
"Apa kau suka tempat ini, Cristin?" Orland melangkah di belakangnya. Senyum menghiasi wajahnya, dia senang jika Cristin menyukai tempat itu.
"Ya, tempat ini benar-benar bagus! Oh, besok aku mau berjemur di sana!" Cristin menghampiri kursi malas yang ada di sisi kolam renang, dia juga menjatuhkan dirinya di sana.
Cristin menghirup angin yang berhembus, sepertinya dia akan betah berada di tempat itu. Dia tahu Castil itu dihuni oleh seorang pria tua tapi dia tidak menyangka Jika Orland membeli tempat itu. Bisa dia tebak, harga kastil itu tidaklah murah.
"Aku senang jika kau suka, tapi masih banyak yang belum kita lakukan, Nona," Orland mengulurkan tangannya ke arah Cristin.
"Oh, aku hampir lupa!" Cristin beranjak, mereka segera menghampiri alat barbeque yang sudah siap.
"Kau potong dagingnya dan gunakan tusukan di sana. Jangan lupa sayurnya sementara aku menyalakan arang."
Cristin mengangguk, mudah. Dia pikir tinggal di potong, sedangkan Orland lupa jika Cristin Nona muda yang tidak pernah melakukan hal demikian.
Orland mulai membakar arang, sedangkan Cristin mulai memotong daging kecil-kecil. Sayur juga dipotong kecil-kecil dan setelah itu dia mulai menusuknya tapi tunggu, kenapa tidak bisa? Cristin tampak berusaha tapi sia-sia karena kecilnya daging dan sayur.
"Orland," dia mulai bingung.
"Ada apa?" Orland melihat ke arahnya.
Cristin mengangkat tusukan sate juga sayur yang sudah dia potong sambil berkata, "Tidak bisa aku tusuk," ucapnya.
"Yang benar?" Orland mendekatinya. Dia tampak terkejut melihat daging dan sayur yang sudah dipotong oleh Cristin.
"Apa yang kau lakukan, Nona? Apa kau ingin membuat sup?" Orland menggeleng, dia lupa Cristin adalah si Nona muda yang tidak biasa melakukan hal itu.
"Sorry," Cristin tersenyum dengan ekspresi wajah tidak bersalah.
"Sudahlah, sini aku ajari. Tapi aku rasa urusan di ranjang tidak perlu aku ajari, bukan?" goda Orland.
"Orland!" Cristin menatapnya dengan tatapan galak.
__ADS_1
Orland hanya terkekeh, Cristin masih menatapnya dengan tatapan galak. Rasanya ingin menggigit Orland sampai habis tapi sebaiknya dia kembali memotong daging dan sayur.
"Potong yang benar, jika sekecil itu bagaimana bisa dibakar," ucap Orland.
"Sorry, ini pertama kalinya bagiku."
"Baiklah, aku yang potong kau yang tusuk. Jangan katakan jika kau tidak tahu atau kau ingin aku?" perkataan Orland terhenti karena Cristin mencubit bibirnya.
"Stop, aku tahu apa yang mau katakan!" ucap Cristin kesal. Bibir Olrand dilepaskan, tusukan diangkat dan di arah ke wajah Orland seperti sedang mengancam.
Mereka berdua sibuk, Orland mulai memanggang setelah mereka selesai menusuk daging dan juga sayur. Orland meminta Cristin untuk menunggu di gajebo yang ada di sisi kolam renang, jangan sampai Cristin terkena bara yang panas.
Cristin menunggu sambil menikmati angin malam yang berhembus karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kolam renang diterangi oleh sinar lampu sehingga tidak gelap. Beberapa lilin juga menyala di sisi kolam renang.
Orland mendekatinya dengan makanan yang sudah matang dan sebotol minuman yang akan menemani malam mereka berdua.
"Apa sudah lama menunggu?" tanya Orland basa basi seraya duduk di sisi Cristin.
"Tidak," Cristin memandanginya sambil tersenyum.
"Baiklah, makan ini!" Orland memberikan daging yang sudah dipanggang.
"Thanks," Cristin mengambilnya dan menikmatinya. Segelas minuman bahkan di berikan untuknya.
"Bagaimana, kau suka tidak?"
"Tidak buruk, terima kasih sudah mengajak aku melakukan hal menyenangkan ini!"
"Tidak perlu dipikirkan, Sayang. Ayo bersulang untuk malam indah kita," Orland mengangkat gelas yang ada di tangan, begitu juga dengan Cristin. Suara gelas yang beradu terdengar, minuman pun di teguk sampai habis.
Gelas kosong diletakkan di samping dan setelah itu mereka menikmati makanan mereka. Malam indah mereka belum berakhir apalagi ada yang hendak Orland bicarakan tapi untuk saat ini, dia ingin mereka seperti itu sebentar. Mereka saling menyuapi satu sama lain, suara dentingan gelas pun lagi-lagi terdengar.
Teriakan Orland terdengar saat Cristin sengaja mengigit lidahnya saat dia hendak memberikan daging dari mulutnya.
"Cristin!"
"Sorry," Cristin pura-pura tidak bersalah.
Gelas disingkirkan dan setelah itu, Orland menerkamnya sehingga Cristin jatuh berbaring. Cristin terkejut dan berteriak tapi tidak lama kemudian teriakannya tidak terdengar lagi saat Orland mencium bibirnya.
Mereka berdua saling pandang, Orland mengusap wajah Cristin sambil tersenyum. Kedua tangan Cristin sudah melingkar di leher Orland, matanya tidak lepas dari wajah tampan pria itu.
"I love you, Cristin."
Cristin tersenyum, matanya bahkan sudah terpejam saat Orland mencium bibirnya. Malam indah mereka masih panjang, mereka berdua berbaring sambil menikmati indahnya langit malam yang ditaburi bintang.
__ADS_1