
Tidak lama kepergian Zion, Orland masuk ke dalam cafe. Dia sengaja menunggu pria itu pergi karena dia tidak mau Zion bertemu dengannya sehingga membuat pria itu curiga. Tidak boleh terlalu cepat sebelum pria itu masuk ke dalam jebakan yang sudah dia siapkan.
Mata Orland mencari sosok cantik sang kekasih hatinya. Senyum terukir di bibir saat melihat Cristin sedang memesan sesuatu karena minuman yang baru dia pesan sudah dia gunakan untuk menyiram pria jahat. Rasanya sedikit menyesal, seharusnya dia memesan kopi hitam super panas sehingga Zion Dmytry akan jera menghasut orang.
Tidak saja minuman, dia juga memesan sepotong kue dan es cream untuk meredakan panas di hatinya.
Orland mendekati Cristin sambil tersenyum, walau dia tidak ada di sana tapi dia bisa tahu apa yang Cristin bicarakan dengan Zion. Sesungguhnya dia kesal karena Zion memfitnah dirinya tapi dia senang Cristin tidak mempercayai apa yang Zion ucapkan.
Cristin terkejut saat melihat Orland melangkah mendekatinya. Dia baru teringat dengan ponsel. Semua gara-gara pria jahat bernama Zion Dmytry itu.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Cristin saat Orland duduk di sampingnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak datang, Sayang. Aku tidak suka ada yang mengganggu dirimu."
"Hanya seekor hama, tidak perlu dipikirkan!" ucap Cristin. Dia yakin Orland sudah tahu semua yang dia bicarakan dengan Zion.
"Kau benar dan aku tidak suka hama itu mengganggumu apalagi dia ingin menghasutmu."
"Sudahlah, jadi dia sepupumu?" tanya Cristin.
"Yeah, seharusnya kau sudah tahu. Maaf aku tidak bisa masuk dan memukul wajahnya karena dia telah mengganggumu. Aku tidak ingin dia curiga sehingga semua rencanaku gagal."
"Tidak apa-apa, Orland. Aku sudah memberinya sedikit pelajaran tapi aku heran, bukankah masalah supir pribadi itu hanya mantan kekasihmu saja yang tahu? Lalu kenapa sepupumu juga bisa mengetahui kebohongan yang aku ucapkan waktu itu?"
"Seperti yang aku duga, Cristin. Mereka berdua bekerja sama. Tapi kebohongan yang kau ucapkan sangat berguna karena dengan kebohongan itu, satu kali tepuk dua lalat bodoh mati."
Cristin tersenyum, padahal dia hanya ingin melihat reaksi mantan kekasih Orland saja tapi kebohogan itu justru memberi keuntungan pada mereka.
__ADS_1
Orland meraih tangan Cristin dan mencium punggung tangannya. Dia benar-benar bertemu dengan wanita hebat seperti Cristin. Cristin tidak lemah juga tidak cengeng, dia sungguh suka dengan pribadinya yang seperti itu.
"Orland, sepertinya mulai besok aku akan sibuk sehingga kita tidak bisa leluasa bertemu lagi," ucap Cristin.
"Kenapa?" tanya Orland.
"Mulai besok aku harus bekerja, sudah saatnya aku belajar karena aku harus menggantikan posisi ayahku suatu saat nanti. Sebab itu aku akan menjadi manager di sebuah hotel milik ayahku dan aku tidak bisa pergi seenak hatiku lagi," jelas Cristin.
"Tidak masalah, Cristin. Kita bisa bertemu setelah selesai bekerja tapi bisakah kau meluangkan waktu besok siang?"
"Besok? Aku rasa?"
"Cristin, ini sangat penting," sela Orland. Ekspresi wajahnya terlihat serius. Dia harap Cristin bisa meluangkan waktunya agar mereka bisa pergi bersama untuk melihat bukti yang didapatkan oleh sahabat Gail. Tadinya dia ingin memberikan kejutan tapi mengingat waktu Cristin tidak banyak dan dia juga ingin Cristin segera berpisah dengan suaminya, jadii dia memutuskan mengajak Cristin dan setelah itu mereka bisa pergi ke pakar pernikahan bersama-sama untuk memberikan bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Johan.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu serius?" tanya Cristin heran.
"Benarkah? Apa kau tidak bercanda?" Cristin menyela dengan ekspresi terkejut.
"Tentu saja tidak tapi dengarkan ucapanku sampai selesai jika tidak aku akan mencium bibirmu sampai habis!"
"Ck, kau kira bibirku permen kapas!" Cristin membuang wajahnya memerah ke samping.
Orland terkekeh, dia kembali mencium punggung tangan Cristin. Sesungguhnya dia lebih suka mencium bibir Cristin tapi saat ini dia ingin serius.
"Dengar, besok jam dua siang bukti itu akan diberikan jadi aku ingin mengajakmu pergi untuk melihat bukti-bukti itu dan setelah melihatnya kita bisa langsung pergi ke pakar pernikahan untuk menunjukkan bukti-bukti itu. Semakin cepat semakin baik karena aku sudah tidak sabar kau berpisah dengannya."
"Ke-Kenapa jadi kau yang tidak sabar?"
__ADS_1
"Hei, kau tidak lupa dengan ucapanmu jika kita akan menikah setelah kau berpisah dengan Johan, bukan?"
Cristin diam, itu hanya ucapan asal yang dia lontarkan saat itu tapi kenapa Orland menganggap serius ucapannya?
"Cristin, seharusnya kau tahu aku serius denganmu. Setelah kau berpisah dengan Johan dan setelah aku mendapatkan perusahaan ayahku kembali, maukah kau menikah denganku? Aku tidak akan mengecewakan dan mengkhianati dirimu seperti Johan mengkhianati dirimu. Lagi pula kau sudah tahu semua tentang aku, bukan? Kau juga tahu, tidak ada yang aku sembunyikan darimu!" Orland mengatakan perkataan itu dengan eskpresi serius, dia juga menatap Cristin dengan tajam.
"Apa ini lamaran, Orland?" tanya Cristin.
"No, ini pertanyaan! Aku tahu kau pernah gagal dalam pernikahan dan aku tahu kau trauma akan hal itu oleh sebab itu aku ingin kau memikirkannya mulai sekarang karena pada saat waktunya sudah tiba, aku akan melamarmu dan aku harap kau tidak menolak lamaran dariku!"
Cristin tersenyum, tentu dia tahu jika Orland serius tapi dia tidak mau menjawab terlalu cepat seperti yang pernah dia lakukan. Lagi pula dia masih memiliki banyak waktu sampai di mana hari Orland melamarnya. Dia bisa menilai pria itu lebih banyak dan mengenal pria itu lebih jauh.
"Baiklah, aku akan memikirkannya mulai sekarang," ucap Cristin.
"Aku senang mendengarnya," Orland tersenyum. Dia memang sengaja memberi Cristin waktu untuk memikirkan hal itu karena dia tahu, untuk orang yang pernah gagal dalam pernikahan apalagi seperti Cristin pasti tidak akan langsung bisa menjawab 'Yes' ketika dilamar.
Cristin pasti akan menolak karena trauma dan kegagalan yang pernah dia alami. Oleh sebab itu dari pada dia gagal nantinya bukankah meminta Cristin memikirkan hal itu adalah jalan terbaik? Dia yakin pada saat waktunya sudah tiba, Cristin pasti sudah mengambil keputusan dann tidak akan menolak lamaran darinya.
Cristin tersenyum, dia akan memikirkan hubungan mereka dengan serius mulai sekarang.
"Jadi, besok kau bisa pergi bersama denganku, bukan?" tanya Orland.
"Tentu saja, Orland. Aku akan datang menemuimu agar kita bisa pergi bersama."
"Aku yang akan menjemputmu, kita pergi setelah makan siang."
"Baiklah," jawab Cristin. Dia jadi sangat ingin tahu, bukti apa yang didapatkan oleh sahabat Gail? Apa bukti kebersamaan Johan dengan wanita yang dia lihat beberapa tahu lalu? Rasanya sudah tidak sabar melihat bukti itu dan dia juga tidak sabar melemparkan bukti itu ke wajah Johan sehingga dia tidak bisa mengelak nanti apalagi dua hari lagi mereka memang harus bertemu untuk membahas pernikahan mereka lebih lanjut tapi dia yakin, dengan adanya bukti perceraian mereka akan segera terjadi.
__ADS_1
Mereka masih berada di cafe itu, menikmati minuman dan kue yang Cristin pesan. Setelah selesai, Cristin mengajak Orland pergi untuk mencari hadiah yang akan dia berikan untuk ayahnya. Rasanya ingin hari cepat berlalu karena dia sudah tidak sabar menjadi janda. Sesungguhnya tidak dia saja, Orland yang paling tidak sabar menunggu Cristin menjadi janda.