
Sebuah pesawat baru saja mendarat, tentu pesawat itu tidak datang dari kota besar dan pesawat itu tidak sebesar pesat komersil lainnya karena pesawat itu datang dari tempat terpencil yang memiliki beberapa penumpang saja.
Seorang pria turun dari pesawat itu sambil menggunakan sebuah kaca mata hitam. Pria itu memandangi bandara sambil tersenyum, bertahun-tahun dia pergi dan hari ini akhirnya dia kembali lagi dan tentunya pria itu adalah Johan.
Johan sengaja pergi ke kota terpencil agar tidak mudah ditemukan dan tentunya dia kembali seorang diri, tidak dengan Lauren. Kekasihnya itu akan menyusul bulan depan. Mereka melakukan hal itu agar Cristin tidak curiga. kepulangannya tentu saja untuk memperbaiki hubungannya dengan Cristin.
Jika dia pulang bersama Lauren, bisa-bisa Cristin akan tahu bahwa dia masih menjalin hubungan dengan Lauren. Hal itu tidak boleh terjadi karena dia ingin menipu Cristin nanti setelah mereka bertemu. Dia akan pura-pura menyesal dan mengatakan pada Cristin jika dia sudah tidak menjalin hubungan lagi dengan Lauren.
Dia tahu Cristin pasti masih marah dan ingin bercerai dengannya tapi sampai kapan pun, dia tidak akan menceraikan Cristin. Tujuannya masih tetap sama, mendapatkan uang dari Cristin lalu mengambil ginjalnya untuk Lauren tapi sebelum tujuannya tercapai, dia harus berusaha mendapatkan kepercayaan Cristin terlebih dahulu dan juga mengambil hatinya lagi.
Kaca mata dilepas, Johan tersenyum. Dia sudah tidak sabar untuk mencari keberadaan Cristin. Tidak sulit mencari wanita itu, dia selalu berada di tempat-tempat yang berkelas tinggi. Pesta para bangsawan, butik mahal, di sanalah dia selalu berada tapi sayangnya, dia tidak tahu jika Cristin sudah berubah dan sudah meninggalkan hidup glamournya.
Johan melangkah, dengan penuh percaya diri. Sebelum mencari keberadaan Cristin, dia akan mencari sahabatnya terlebih dahulu dan tidak lupa, menghubungi Lauren adalah hal pertama yang harus dia lakukan.
Ponsel sudah berada di tangan, dia harus mengatakan pada Lauren jika dia sudah tiba di New York. Sambil melangkah keluar, Johan menghubungi kekasihnya yang tidak akan dia tinggalkan bahkan dia akan melakukan apa pun agar Lauren tetap hidup.
"Johan. apa kau sudah sampai?" suara Lauren terdengar senang.
"Aku baru saja tiba, Sayang," jawab Johan, kaca mata kembali digunakan.
"Aku sangat senang mendengarnya tapi aku sudah sangat merindukan dirimu," ucap Lauren dengan suara manjanya.
"Sabarlah, Lauren. Bulan depan kita akan bersama kembali. Aku akan mencari rumah yang layak kau tinggali nanti. Kita juga tidak boleh terlihat bersama agar Cristin tidak curiga sehingga dia semakin ingin berpisah denganku."
"Aku sangat tidak suka kau akan kembali dengannya, kau tahu dari dulu aku tidak suka!" ucap Lauren. Lagi-Lagi dia harus merelakan Johan mendekati Cristin dan menjalin hubungan dengannya.
"Hei, aku harus melakukan hal ini untukmu. Bersabarlah, setelah tujuan kita tercapai, dia tidak lebih dari alat yang telah kita gunakan saja!"
"Aku tahu, aku harap kali ini tidak lama sampai harus menghabiskan waktu selama bertahun-tahun seperti dulu!" ucap Lauren.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, Lauren. Dulu begitu lama karena aku benar-benar harus berjuang lama untuk mendapatkan dirinya tapi sekarang berbeda, aku hanya perlu meyakinkan dirinya dan memperbaiki hubungan kami. Percayalah, membujuk Cristin tidak akan memakan waktu lama karena dia pasti masih mencintaiku," ucap Johan dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, sial. Lagi-Lagi aku harus berbagi dirimu dengan wanita kaya itu!" Lauren terdengar tidak senang. Walau sesungguhnya dia kesal tapi demi ginjal yang dia inginkan, dia harus bersabar dan membiarkan Johan melakukan perannya.
"Jangan marah, aku akan membelikan sesuatu yang kau sukai nanti setelah kau datang," bujuk Johan.
"Baiklah, walau sesungguhnya aku kesal tapi untuk kali ini saja. Toh pada akhirnya dia akan mati."
"Yang kau katakan benar, jadi jangan marah seperti itu. Aku sudah harus pergi, aku tunggu kedatanganmu, Sayang."
Lauren mengumpat setelah pembicaraan mereka selesai. Cristin Bailey benar-benar sebuah ancaman baginya. Dia benci dengan wanita itu. Jika tidak karena uang dan ginjal yang dia inginkan, sudah dia pukul wajah Cristin sampai babak belur tapi dia harus bersabar dan membiarkan Johan mendekati wanita kaya itu lagi.
Kabar kepulangan Johan itu tentu sudah sampai di telinga Orland. Mereka sedang bersiap-siap akan kembali. Beberapa waktu berada di sana sudah meninggalkan kesan mendalam untuk mereka. Orland juga sudah mendapatkan apa yang dia mau, hubungannya dengan Cristin jadi semakin dekat. Pastinya dia akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin.
Saat itu Cristin sedang merapikan barang-barangnya di dalam kamarnya, sedangkan Orland berada di kamarnya. Orland berdiri di depan jendela di mana dia bisa melihat danau dari sana. Dia tampak serius karena dia sedang berbicara dengan Gail yang memberikan laporan jika Johan baru saja kembali.
"Yes, Sir. Dia baru saja terlihat keluar dari bandara," jawab Gail.
"Apa dia kembali sendiri atau ada orang lain bersama dengannya?" Orland bertanya demikian karena dia ingin tahu apakah Johan kembali dengan seorang wanita atau tidak. Bisa saja dia kembali dengan wanita selingkuhannya yang disebutkan oleh Cristin.
"Dia hanya seorang diri saja."
"Baiklah, terus awasi," perintah Orland.
"Yes, Sir!" ucap Gail.
Orland mencengkeram ponselnya dengan erat, tidak akan dia biarkan pria itu kembali hanya untuk menyakiti Cristin. Dia harap Cristin tidak mudah termakan oleh bujuk rayu suaminya. Dia juga sangat berharap Cristin bisa berpisah dengan suaminya dengan mudah.
Orland mengusap rambutnya, sial. Kenapa dia jadi terobsesi pada istri orang? Tapi dia tidak akan melakukan hal itu jika wanitanya bukan Cristin. Terserah orang mau berkata apa tentang dirinya, yang pasti dia tidak akan menyerah. Orland keluar dari kamarnya, ransel yang ada di atas ranjang diambil, rasanya enggan kembali tapi pekerjaan sudah menunggu dan dia tidak boleh lengah sebelum dia bisa mendapatkan perusahaan ayahnya kembali.
__ADS_1
Ransel diletakkan di atas lantai setelah dia keluar. Orland melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Cristin dan masuk ke dalamnya. Senyum menghiasi wajah saat dia melihat obat serangga Cristin tersusun di atas meja. Sepertinya dia tidak berniat membawa obat-obat serangga itu kembali.
"Apa sudah selesai? Jika belum aku akan membantu," ucapnya.
"Tidak perlu, barangku tidak banyak. Seperti yang kau tahu, isi ranselku hampir semuanya obat serangga!"
Orland tersenyum dan menghampirinya. Cristin diam saja saat pria itu memeluknya dari belakang dan mencium pipinya, rasanya sudah terbiasa.
"Aku sangat tidak ingin kembali," ucap Orland. Jika mereka selalu berada di tempat itu maka Johan tidak akan bisa menemukan mereka.
"Kenapa?" kini Cristin bersandar di dadanya, hanya hari ini karena setelah ini mereka akan pulang.
"kau tahu, aku sangat ingin kita selalu seperti ini."
"Aku tidak!" ucap Cristin.
Orland tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahu Cristin, "Ijinkan aku seperti ini sebentar," pintanya.
Cristin tidak melarang, mereka seperti itu untuk beberapa saat. Sepertinya sudah cukup, mereka harus kembali sebelum gelap.
"Orland, ayo kita pulang," ajak Cristin.
"Ayo, besok istirahat saja di rumah dan setelah keadaanmu lebih baik baru kita lanjut memperbaiki proposal."
"Terima kasih, Orland. Kau mau repot-repot membantu aku memperbaiki proposal aneh itu," ucap Cristin. Walau mereka belum selesai tapi dia sangat terbantu berkat pria itu.
"Sudahlah, ayo pergi," Orland menggandeng tangannya saat mereka keluar dari kamar bahkan sampai mereka tiba di mobil. Setelah semua barang sudah dinaikkan, mereka pergi meninggalkan cabin itu. Mata Cristin masih melihat danau, semoga dia bisa kembali ke tempat itu lagi.
Mereka segera kembali tepi entah kenapa, tiba-tiba saja Cristin merasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan memang, Johan akan segera mencari keberadaannya untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.
__ADS_1