Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Lain Di Mulut Lain Di Hati


__ADS_3

Hari itu Johan pergi menuju rumah Cristin untuk mengintai keberadaan istrinya. Dia harap bisa melihat Cristin dan bertemu dengannya.


Sudah beberapa tahun berlalu, sejak malam pernikahan mereka. Dia sudah tidak melihat Cristin lagi. Istrinya pasti bertambah cantik, dia tahu itu karena uang bisa mengubah apa saja tapi mau secantik apa pun istrinya, mau sekaya apa pun tapi dia tidak bisa meninggalkan Lauren.


Semua orang pasti menganggapnya bodoh, semua orang akan mengatainya pria paling bodoh karena lebih memilih Lauren dari pada Cristin Bailey tapi satu hal yang tidak diketahui oleh orang banyak yang membuatnya tidak bisa meninggalkan Lauren dan dia juga akan menyelamatkan hidup kekasihnya dengan cara apa pun.


Johan menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah bercat putih bak istana itu. Rumah itu tetap saja megah seperti dulu, tidak berubah sama sekali.


Dulu Cristin selalu mengajaknya ke sana, dia bahkan sampai hapal apa saja yang ada di dalam sana. Lukisan mahal dengan harga jutaan dolar, barang-barang antik koleksi ayah Cristin tersusun rapi dan juga koleksi anggur yang bernilai fantastis. Walau begitu dia mendekati Cristin hanya untuk memanfaatkan uang yang dia punya saja karena cintanya hanya untuk Lauren.


Jika dia bertemu dengan Cristin terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Laurent, dia pasti akan memilih Cristin tapi kejadian itu? Dia tidak akan lupa dan tidak akan menyesal karena telah memilih Laurent.


Dengan sebuah teropong di tangan, Johan mulai mengintai. Dia bahkan tahu di mana saja para penjaga menjaga rumah mewah itu, sebab itu dia bisa mengintai rumah itu tanpa ketahuan.


Dia harap, sangat berharap bisa bertemu dengan Cristin hari ini agar keinginannya bisa cepat terwujud. Dia tidak boleh lengah sehingga usahanya tidak membuahkan hasil.


Di dalam sana, Cristin sedang sarapan bersama kedua orangtuanya dan tentunya dia diintrogasi oleh kedua orangtuanya karena mereka sangat ingin tahu bagaimana Cristin bisa mengenal Orland. Dilihat dari hubungan mereka sepertinya mereka sudah sangat akrab dan sudah lama saling mengenal. Mereka menebak Cristin dan Orland teman satu sekolah atau bisa saja mereka kenal saat putri mereka masih bekerja dulu.


Cristin sangat heran karena pandangan kedua orangtuanya tidak lepas darinya. Dia bahkan menatap mereka dengan tatapan curiga, apa lagi yang direncanakan oleh kedua orangtuanya?


"Kenapa kalian melihat aku seperti itu?" tanya Cristin.


''Kami hanya ingin tahu, dari mana kau mengenal Orland?" tanya ibunya.


"Karena pekerjaan," jawab Cistin.


"Pekerjaan? Apa kau kenal dengannya sewaktu kau masih bekerja dulu?" tanya ibunya lagi dengan rasa penasaran memenuhi hati.


"Tidak, aku baru mengenalnya setelah aku pulang dari Italia untuk mengajukan proposal," jawab Cristin. Dia berkata seperti itu karena dia tidak mau kedua orangtuanya tahu di mana mereka saling mengenal.


"Bohong!" ucap ayah dan ibunya secara bersamaan.


"Kenapa kalian begitu kompak?" Cristin memandangi kedua orangtuanya sejenak dan setelah itu dia kembali menikmati sarapannya.


"Tentu saja, kami suami istri tentu harus kompak!!" ucap ayahnya.

__ADS_1


"Itulah yang namanya cinta, Sayang. Kami berdua bagaikan magnet," ucap iibunya seraya mencium pipi suaminya.


"Oke, baiklah. Jangan mengumbar kemesraan di depan mataku!"


"Kenapa? Kau mengganggap cinta itu ilusi, bukan? Seharusnya kau tidak tergangu melihat kemesaran kami," goda ibunya.


"Mom, jangan menggodaku!" Cristin memalingkan wajahnya sambil bersedekap dada.


"Oke, baiklah. Jangan marah. Sekarang beri tahu kami, di mana kau bisa mengenal Orland?"


"Ck, kenapa kembali ke pertanyaan itu lagi?" Cristin tampak cemberut.


"Itu karena kami ingin tahu. Jangan menipu kami, kalian terlihat begitu akrab jadi kami tidak akan percaya jika kalian baru saling mengenal. Jika kau tidak mau menjawab maka kami akan pergi dan bertanya pada Orland."


"Apa? Jangan!" cegah Cristin dengan cepat.


"Jadi?"


"Ck, baiklah," Cristin menghela napas. Sepertinya dia tidak bisa menghindari rasa penasaran kedua orangtuanya.


"Sebenarnya kami saling mengenal ketika malam pernikahanku," ucapnya.


"Kami bertemu di stasiun. Setelah melihat kelakukan bejat yang dilakukan oleh Johan, aku pergi dari rumah untuk mencari ketenangan dan menangisi pengkhianatan yang Johan lakukan dan tanpa sengaja aku bertemu dengannya yang sedang putus asa di stasiun."


"Wah, benarkah?" tanya ibunya.


"Kali ini aku tidak berbohong, Mom. Kami bertemu di sana dan aku menyelamatkan dirinya yang sedang putus asa pada malam itu."


"Jadi kau wanita hebat yang dia maksud waktu itu?" tanya ayahnya. Dia ingat dengan ucapan Oland pada malam pesta.


"Entahlah, aku tidak merasa. Aku hanya menolongnya saja, hanya itu. Aku sudah mengatakannya jadi jangan bertanya lagi!" pinta Cristin.


"Baiklah, kami sudah tidak penasaran lagi tapi sekarang kami ingin tahu bagaimana dengan hubunganmu dengannya. Aku perhatikan kau tampak nyaman dengannya."


"Mom, nyaman bukan berarti suka! Aku tidak mau memikirkan hal seperti itu, lagi pula aku belum bercerai. Aku hanya ingin menikmati setiap momen menyenangkan yang aku lalui. Jika aku terus memikirkan cinta yang hanya aku anggap sebagai ilusi, aku rasa sebaiknya aku jadi biarawati saja."

__ADS_1


"Oh, no!" ucap ibunya.


"Tidak boleh, kau tidak boleh jadi biarawati!" cegah ibunya.


"Sebab itu aku tidak mau memikirkan cinta, aku ingin menikmati apa yang aku lakukan saat ini. Biarkan mengalir begitu saja dan yang pasti, satu hal yang sangat aku inginkan saat ini adalah, aku ingin segera bercerai dengan Johan."


"Baiklah, walau kau masih menganggap cinta itu ilusi tapi setidaknya kau tidak begitu menutup diri dan membiarkan Orland mendekatimu."


"Aku tidak membiarkan pria menyebalkan itu mendekati aku tapi dia yang memaksa!" Cristin kembali memalingkan wajah cemberutnya.


Ayah dan ibunya saling pandang, mereka juga tersenyum melihat putri mereka yang sepertinya lain di mulut lain di hati.


"Aku mau pergi," ucap Cristin sambil beranjak.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya ibunya.


"Aku mau ke kantor Orland untuk memperbaiki proposal."


"Wah, ada yang rindu rupanya," goda sang ayah.


"Dad!" Cristin berteriak dengan wajah memerah. Kedua orangtuanya tertawa, sedangkan Cristin keluar dari dapur sambil menggerutu.


Kedua orangtuanya menyebalkan, sebaiknya dia segera pergi untuk memperbaiki propoposal. Cristin mengganti pakaiannya, tas diambil dan setelah itu dia keluar dari kamar.


"Mom, Dad, aku mau pergi!" teriaknya karena kedua orangtuanya masih berada di dapur.


"Hati-Hati, Sayang," teriak ibunya pula.


Kunci mobil sudah berada di tangan, Cristin keluar dari rumah tanpa tahu jika Johan sedang mengintai di luar sana.


Johan tersenyum, sudah dia duga Cristin akan semakin cantik tapi kecantikan yang dia miliki tidak berarti karena dia harus berkorban untuk hidup Lauren.


Teropong diturunkan, mesin mobil dinyalakan karena dia harus mengikuti Cristin. Mobil yang dibawa oleh Cristin keluar dari pagar dan berjalan pergi, sedangkan Johan mulai mengikutinya.


Cristin tidak menyadari jika ada yang mengikutinya. Selama di perjalanan dia sibuk berbicara dengan bosnya.

__ADS_1


Johan masih terus mengikuti, Cristin pasti akan pergi ke pusat perbelanjaan karena dia tahu kegiatan Cristin hanya berbelanja. Dia akan pura-pura bertemu dengan Cristin dan terkejut melihatnya. Bermain sedikit drama memang diperlukan, dia akan pura-pura menyesal agar Cristin memaafkan dirinya.


Dia terus mengikuti mobil Cristin tapi Johan sangat heran saat Cristin berputar arah tidak menuju pusat perbelanjaan. Ke mana Cristin akan pergi? Tapi ke mana pun itu, dia akan mengikutinya dan dia menebak Cristin akan pergi ke pusat perbelanjaan lainnya tapi apa demikian?


__ADS_2