
Orland menghentikan mobilnya karena mereka sudah tiba. Sebuah gunung yang memiliki hutan lebat menjadi pilihan.
Bukan tanpa alasan Orland memilih tempat itu, walau mereka harus berjalan kaki untuk mendapatkan spot yang bagus tapi hasilnya tidak akan mengecewakan.
Tempat itu menjadi pilihan favorite bagi pecinta hiking, tidak saja menawarkan pemandangan indah langit pada malam hari yang dapat dilihat dengan jelas tapi di sana juga terdapat sebuah danau yang indah.
Di sisi danau terdapat sebuah cabin, Orland berniat mengajak Cristin menghabiskan waktu di Cabin tersebut setelah mereka menikmati alam dan tentunya Cristin tidak boleh tahu karena itu akan menjadi kejutan untuknya nanti tapi untuk permulaan dia akan membawa Cristin menikmati camping mereka di tempat lain.
Cristin memandangi hutan sambil mengusap lengan, jujur saja dia tidak suka dengan alam liar karena dia takut dengan binatang buas.
"Kita sudah tiba, ayo turun," ajak Orland.
"Kau yakin akan mengajak aku menginap di hutan?" tanya Cristin.
"Tentu saja, kau pasti akan suka."
"Ck, kau lihat aku? Apa saat ini aku terlihat senang?"
Orland tersenyum dan meraih tangannya, Cristin melotot saat pria itu mengecup punggung tangannya.
"Tidak seburuk yang kau kira, sungguh. Hanya satu malam saja dan setelah itu kita pindah tempat."
"Benar hanya satu malam saja?" tanya Cristin memastikan.
"Apa kau ingin kita menginap di hutan tiga malam?"
"Tidak!" Cristin menarik tangannya dengan cepat.
"Jika begitu, ayo bergegas. Kita harus sampai tujuan sebelum gelap."
Cristin mengangguk, mereka segera turun dari mobil. Orland mengeluarkan tas mereka terlebih dahulu, dia bahkan membawa dua tas sekaligus karena ransel Cristin dia yang membawakan.
Walau Cristin ingin membawanya tapi dia sudah berjanji pada ibu Cristin jika dia yang akan membawakan tas itu apalagi tasnya lumayan berat.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Cristin saat mereka sudah melangkah memasuki hutan.
"Tentu saja, tidak perlu khawatir," ucap Orland.
"Apa jauh?" tanya Cristin lagi sambil menyemprot sana sini dengan sebotol obat serangga yang dia bawa.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membawamu terlalu dalam tapi jangan jauh-jauh, nanti kau akan tersesat."
"Tersesat?" Cristin menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling hutan.
"Tentu, kau tidak mau hal itu terjadi, bukan?"
"Tentu saja tidak mau!" Cristin mempercepat langkah sehingga dia tidak terlalu jauh dari Orland. Jangan sampai dia tersesat di hutan dan sendirian di dalam hutan mengerikan itu.
Orland hanya tersenyum, senyumnya bahkan tidak hilang karena tingkah Cristin yang menyemprotkan obat serangga ke sana kemari sambil menggerutu.
"Serangka sialan, jangan terbang di dekatku!" ucap Cristin sambil menyemprotkan obat serangganya.
"Pergi kalian dan dekati pria menyebalkan itu!!" ucap Cristin lagi.
Orland terkekeh, dia ingin lihat, berapa lama obat serangga itu akan bertahan? Semakin cepat habis semakin bagus, hal itu bisa dia gunakan untuk menakuti Cristin nantinya.
"Apa masih lama? Oh my God, aku sudah tidak tahan dengan serangga--serangga ini. Sepertinya aku sudah gila mau melakukan hal ini denganmu," ucap Cristin kesal.
"Sabarlah, kita baru setengah jalan," ucap Orland dengan santai.
"Apa? Baru setengah jalan?" tanya Cristin tidak percaya. Mereka sudah berjalan cukup juah tapi baru setengah jalan?
"Minum," Orland memberikan botol air sambil tersenyum, sedangkan Cristin melotot dan segera menyambar botol air yang Orland berikan.
"Apa kakimu sakit?" Orland berjongkok dan meraih satu kakinya. Cristin terkejut, hampir saja dia tersedak air minumnya.
"Apa yang mau kau lakukan?" Cristin hendak menarik kakinya tapi Orland sudah meletakkan kaki Cristin di atas pahanya. Sepatu yang Cristin kenakan pun dibuka, Orland memijat pergelangan kakinya dengan perlahan.
"Ini pertama kalinya bagimu, kau pasti belum terbiasa," ucapnya seraya memberikan pijatan lembut.
"Hm, semua ini karena ide gilamu!" ucap Cristin seraya membuang wajah.
Orland hanya tersenyum, dia masih memberikan pijatan di kaki Cristin. Cristin cuek saja, matanya melihat sana sini, melihat hutan yang begitu lebat.
"Apa masih sakit??" tanya Orland.
"Tidak, terima kasih."
"Jika begitu ayo kita kembali jalan, sebentar lagi akan gelap," ucapnya seraya memakaikan sepatu Cristin kembali.
__ADS_1
Cristin mengangguk dan mengambil senjatanya yaitu obat serangga. Mereka kembali berjalan, Orland membantu Cristin sesekali saat mereka harus melewati jalan yang sedikit sulit. Cristin benar-benar sudah lelah, ini pertama kalinya dia berjalan begitu lama apalagi mereka harus melewati medan yang sulit.
"Apa belum sampai??" tanya Cristin seraya menghentikan langkahnya.
"Sedikit lagi, berikan tanganmu," Orland mengulurkan tangannya karena mereka harus melewati sebuah pohon tumbang.
"kau, benar-benar menyebalkan," Cristin meraih tangan Orland dan kembali berkata, "Lain kali jangan bawa aku ke hutan, tapi bawa aku ke Paris!" ucapnya lagi.
"Pasti, kita akan bulan madu di sana!" goda Orland.
"Sembarangan!" ucap Cristin kesal.
Orland terkekeh, sangat menyenangkan menggoda Cristin apalagi ketika dia memberikan tatapan matanya yang tajam seperti saat ini, hal itu semakin membuatnya ingin menggoda Cristin.
Cristin mendengus dan melangkah pergi, Orland tersenyum dengan lebar. Cristin benar-benar kesal tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat pemandangann indah yang ada di depan matanya.
"Wah, apa kita akan berkemah di sini?" kini dia terlihat begitu bersemangat.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" Orland mendekatinya dan meletakkan ransel yang dia bawa karena mereka sudah tiba di spot yang akan mereka gunakan untuk berkemah.
"Yes, setidaknya ini setimpal dengan usahaku!" ucap Cristin. Walau harus berjalan jauh dan melelahkah, tapi tempat itu begitu indah. Dia harap bisa melihat kunang-kunang nanti malam.
"Aku senang jika kau senang. Setidaknya tidak sia-sia aku membawamu ke sini."
"Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Istirahat saja dahulu, setelah itu kita membangun tenda."
"Tenda?" Cristin tampak kebingungan. Apakah dia sudah memasukkan kembali tenda yang dia keluarkan tadi? Entah kenapa dia tidak ingat. Semalam dia sudah memasukkannya tapi tenda itu dia keluarkan lagi saat dia membongkar ranselnya. Cristin berpikir dan tiba-tiba saja wajahnya pucat.
"Kenapa? Kau tidak mungkin tidak membawanya, bukan?" kini Orland melihat ke arahnya.
"Si-Sial, tendaku ketinggalan," jawab Cristin. Celaka, dia terlalu sibuk dengan obat serangganya sampai dia lupa untuk memasukkan kembali tenda yang baru saja dia beli ke dalam ransel. Padahal dia sudah menyiapkan tenda itu agar dia tidak satu tenda dengan Orland.
"Wah, aku jadi sangat bersemangat," Orland menggosok kedua telapak tangannya dan segera menghampiri ransel yang dia tinggalkan.
"Tendaku terbuka lebar untukmu, Nona. Jika kau ingin menumpang nanti malam aku akan sangat senang dan jika tidak, kau bisa tidur di luar."
Cristin mengumpat, pasti pria itu sengaja. Hari sudah mau gelap, mereka tidak mungkin bisa kembali ke mobil karena risiko kembali saat gelap sangat berbahaya dan rawan akan tersesat di hutan. Dia juga tidak mau tidur sendirian di luar. Sial, semua gara-gara obat serangga.
__ADS_1
Orland mendirikan tendanya sambil bersiul, sedangkan Cristin menatapnya dengan kedongkolan di hati. Padahal dia sangat ingin menjauhi pria itu tapi entah kenapa mereka justru semakin dekat.