Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Restu


__ADS_3

Seikat bunga dan sebotol anggur sudah berada di atas meja. Bunga dan anggur itu akan Orland bawa ke rumah Cristin nanti. Saat itu waktu baru saja menunjukkan pukul lima sore, Orland masih belum pergi karena dia baru saja selesai mandi.


Dia tahu kedua orangtua Cristin pasti akan membahas masalah pernikahan. Dia sudah siap, lagi pula dia serius dengan Cristin bahkan dia sudah sangat ingin memiliki Cristin.


Orland sedang memakai bajunya saat ponselnya berbunyi, itu pasti dari Cristin yang sudah tidak sabar dan benar saja, tebakannya tidak salah. Tidak ingin membuat Cristin marah dan menunggu, Orland segera menjawab. Senyum menghiasi wajah saat mendengar suara kekasih hatinya.


"Kau jadi datang, bukan?" tanya Cristin.


"Tentu saja, Sayang. Aku tidak mungkin lupa."


"Segeralah datang," pinta Cristin. Entah kenapa hari ini dia merasa begitu bosan. Biasanya dia menghabiskan waktu bersama dengan Orland jika tidak pergi bekerja tapi hari ini, dia benar-benar bosan di rumah apalagi kedua keponakannya pergi ke taman bermain dengan yang lainnya.


"Kau terdengar begitu merindukan aku?"


"Uhm, aku memang merindukanmu, Orland. Aku bosan sendirian di rumah!"


"Sepertinya kita memang harus segera menikah agar kita segera memiliki anak supaya kau tidak bosan."


"Berapa anak yang kau inginkan, Orland?" tanya Cristin ingin tahu.


"Delapan," jawab Orland.


"What the hell!" Cristin hampir memekik. Orland terkekeh, dia hanya bercanda untuk itu. Dia juga tidak tega melihat Cristin melahirkan banyak anak untuknya.


"Kenapa tidak sebelas anak sehingga kau bisa membentuk menjadi tim sepak bola!" ucap Cristin.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Tapi aku anak tunggal, tidak punya saudara sepertimu jadi aku menginginkan beberapa anak supaya anak kita tidak kesepian seperti aku."


"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. Segeralah datang, kita bahas masalah itu lebih lanjut!"


"Sebentar lagi aku akan berangkat, Sayang."


"Aku tunggu," ucap Cristin. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Orland, padahal hanya tidak bertemu satu hari saja tapi dia begitu merindukan pria itu.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Orland, Cristin keluar dari kamar. Dia sudah terlihat cantik dengan gaun motif bunga yang dia kenakan. Cristin menghampiri ibunya yang sedang sibuk mengatur pada pelayan yang sedang menata makanan.


"Letakkan di sana, pelan-pelan," ucap Mariana.


"Mom, mana Daddy?" tanya Cristin.


"Daddy dan kakakmu sedang rapat," jawab ibunya.


"Rapat? Apa ada pekerjaan mendadak?"


"Bukan rapat pekerjaan tapi sebentar lagi Orland akan diintrogasi oleh mereka."


"Wow, dulu mereka tidak melakukan hal itu pada Johan?" Cristin mengambil kentang gorang yang ada di atas meja dan memakannya.


"Sebab itulah, kali ini mereka ingin melakukannya karena mereka takut kau kembali mengulangi hal yang sama."


Cristin tersenyum, dia bisa mengerti. Dia tidak akan melarang kakak dan ayahnya melakukan hal itu. Lagi pula dia yakin Orland tidak akan keberatan. Cristin memilih membantu ibunya sambil menunggu kedatangan Orland dan tidak lama kemudian, terdengar suara bel di depan pintu.


"Biar aku!" Cristin sudah berlari menuju pintu dan membukanya.


"Kau terlihat begitu bersemangat," Orland juga memeluknya padahal dia sedang membawa bunga dan angggur.


"Sudah aku katakan, aku sangat merindukan dirimu."


"Baiklah, ambil bunganya," ucap Orland seraya mencium pipinya.


"Untukku?" pelukan mereka terlepas, Cristin mengambil bunga yang diberikan oleh Orland.


"Yes, aku belum cukup berani memberikan bunga untuk ibumu atau kakak iparmu," ucap Orland bercanda.


"Awas jika kau berani!"


Orland terkekeh, tentu dia tidak berani dan tentunya tidak mungkin dia lakukan.

__ADS_1


"Ayo, keluargaku sudah menunggu kedatanganmu sedari tadi," ucap Cristin seraya meraih lengannya.


Mereka melangkah masuk, Cristin mencium aroma bunga yang diberikan oleh Orland sesekali. Walau itu hanya bunga tapi dia sangat senang, lagi pula jangan dilihat barangnya tapi lihatlah siapa yang memberikannya dan orang yang memberikan bunga itu adalah orang yang sangat spesial baginya.


Kedua orangtua Cristin menyambut kedatangan Orland, mereka mengajak Orland ke meja makan karena saat itu memang sudah jam makan malam.


Botol anggur yang dibawa Orland diambil oleh Cristin dan diletakkan di atas meja. Mereka akan menikmati anggur itu bersama hidangan pencuci mulut nantinya.


Mereka terlihat akrab, Edrick juga sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Orland dan setelah selesai menikmati makanan. Grifin meminta perhatian mereka semua karena ada yang hendak dia sampaikan.


"Aku sangat berterima kasih kau mau datang untuk makan malam bersama dengan kami, Orland," ucap Grifin.


"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih karena kalian mau mengundang aku," ucap Orland pula.


"Jika begitu, seharusnya kau sudah tahu kenapa aku meminta kau datang kemari, bukan?"


"Tentu, aku tahu kalian pasti ingin membahas masalah pernikahan kami karena aku sudah melamar Cristin," ucap Orland tanpa ragu.


"Benar, kami memang ingin membahas hal ini denganmu," ucap Edrick.


"Seperti yang kau tahu, Orland. Dengarkan aku dan jangan menyela ucapanku sebelum aku selesai. Putriku sudah pernah menikah dan ini pernikahan kedua yang akan dia jalani walau yang pertama langsung kandas begitu saja. Aku sudah mendengar dari Cristin jika kalian akan menikah secara sederhana dan aku tidak keberatan tapi sebagai ayahnya, aku tidak ingin putriku mengalami kegagalan dalam menikah untuk yang kedua kalinya. Cristin putriku satu-satunya, dia sedikit egois, sifatnya kau juga sudah tahu dan aku rasa kau sudah mempertimbangkan hal ini baik-baik sebelum kau melamarnya. Setelah kalian menikah dia akan menjadi beban-mu dan kau harus bertanggung jawab atas dirinya. Tidak ada manusia yang sempurna, kau harus menerima semua kekurangan yang ada pada Cristin begitu juga dengan Cristin. Seandainya suatu saat nanti kalian berselisih jalan, jangan pernah menggunakan kekerasan untuk menyakiti putriku. kembalikan dia secara baik-baik pada kami seperti saat kau membawanya. Kami tidak akan mempermasalahkannya dan kami akan menganggap jika Cristin sedang tidak beruntung saja," ucap Grifin panjang lebar.


Semua diam, tidak ada yangg bersuara. Cristin menunduk sambil menahan air mata. Dia tidak menyangka akan mendengar ayahnya berbicara seperti itu.


"Aku tidak mungkin melakukan hal itu," ucap Orland.


"Aku tahu menjadi suami istri bukanlah perkara mudah tapi aku serius ingin menikahi Cristin. Setelah tinggal bersama, kami bisa saling melengkapi kekurangan yang ada pada diri kami. Aku tahu sifat Cristin, begitu juga Cristin. Jika kami tidak saling memahani satu sama lain, bagaimana kami bisa menjadi seperti pasangan yang lainnya? Aku juga tahu ini bukan pernikahan pertama Cristin tapi aku berani bersumpah jika ini akan menjadi pernikahan kedua dan setelah itu dia tidak akan pernah menikah lagi kecuali aku mati karena aku akan mencintainya sampai mati. Walau Cristin marah padaku, seandainya dia sudah bosan padaku, aku akan berusaha semampuku untuk membuatnya jatuh cinta lagi padaku!" ucap Orland tanpa ragu. Dia tahu keluarga Cristin pasti tidak ingin pernikahan Cristin gagal lagi dan dia berani bersumpah jika dia tidak akan mengecewakan Cristin dan keluarganya.


Keluarga Cristin saling pandang, mereka terlihat puas dengan jawaban yang diberikan oleh Orland. Mereka tahu pemuda itu serius tapi mereka ingin melihat keseriusannya.


"Baiklah, kau juga sudah melamarnya jadi segeralah menikah. Hanya disaksikan oleh keluarga saja jadi tidak perlu menunda terlalu lama," ucap ayah Cristin.


"Terima kasih atas restu yang kalian berikan. Kami akan segera menikah dalam waktu dekat ini," memang tidak ada alasan untuk menunda apalagi mereka juga sudah tidak sabar.

__ADS_1


Cristin tersenyum dan terlihat bahagia, kali ini dia benar-benar menemukan pria yang tepat walau sedikit terlambat tapi tidak jadi soal. Untuk mendapatkan kebahagiaan memang tidak mudah dan sekarang, kebahagian yang sangat dia inginkan sudah berada di depan matanya.


__ADS_2