
Hari sudah siang, setelah makan siang Orland mengajak Cristin pergi ke makam kedua orangtuanya. Dia sudah berjanji akan mengenalkan wanita yang dia sukai kepada orangtuanya jadi hari ini akan dia lakukan karena setelah ini, dia akan melamar Cristin.
Dia sudah memerintahkan Gail pulang untuk mengambil cincin ibunya karena dia akan melamar Cristin menggunakan cincin ibunya. Saat Gail pergi, mereka sudah berada di makam. Cristin tidak bertanya saat Orland menggandeng tangannya dan membawanya menuju makam kedua orangtuanya.
Dia bahkan melihat sana sini, jujur dia tidak suka berada di kuburan karena dia merasa tempat itu sangat menakutkan. Orland tahu karena Cristin terlihat gelisah jadi dia menggenggam tangan Cristin dengan erat tanpa mau melepaskannya.
"Jadi yang ingin kau kenalkan adalah orangtuamu?" tanya Cristin.
"Yes, aku sudah berjanji akan mengenalkan dirimu pada mereka jadi aku harus menepatinya walau aku belum mengambil kembali perusahaan ayahku."
"Kau pasti akan mengambilnya kembali, bukan?" Cristin bersandar di bahunya.
"Yeah, tapi sekarang aku ingin memperkenalkan dirimu terlebih dahulu."
Mereka masih melangkah melewati makam-makam yang ada dan setelah itu, langkah Orland terhenti di depan sebuah makam di mana kedua orangtuanya disemayamkan.
"Hai, Mom, Dad. Putra tidak berguna kalian datang lagi," ucap Orland.
"Hei, kenapa berkata seperti itu?" Cristin berbisik sambil menyenggol lengannya.
"Aku memang tidak berguna, mereka tahu itu."
"Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, Orland. Kedua orangtuamu pasti bisa memahami hal itu. Bukankah sekarang kau sudah berubah? Jangan menghukum diri untuk suatu kesalahan yang pernah kau lakukan karena mereka tidak akan suka tapi tunjukkan pada mereka jika kau sudah berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan itu."
"Kau benar tapi perasaan bersalah selalu menyelimuti hati setiap kali aku datang ke sini."
"Itu karena kau belum berdamai dengan dirimu, Orland. Sebesar apa pun kesalahan seorang anak, orangtua pasti memaafkan tapi terkadang satu kesalahan yang diperbuat oleh orangtua, kita akan selalu mengingatnya. Kau tahu pepatahnya, bukan?"
"Kenapa kau jadi bijak, eh?"
"Oh, tidak! Apa aku kerasukan arwah seorang Nanny?" ucap Cristin bercanda.
Orland terkekeh dan merangkul pinggangnya, senyum juga menghiasi wajah. Rasanya sedikit berbeda karena ada Cristin.
"Sorry Mom, aku tidak membawakan bunga kesukaanmu tapi aku membawa seseorang yang sangat ingin aku perkenalkan pada kalian, aku rasa kalian akan suka."
Cristin hanya tersenyum tanpa tahu harus berkata apa.
"Kenalkan calon istriku Mom, Dad. Cristin adalah orang yang telah membantu aku waktu itu. Aku bisa seperti ini berkat dirinya."
"Hei, kau sedang mengenalkan calon istrimu atau penyelamatmu?" protes Cristin.
"Dua-Duanya, kau adalah penyelamatku yang akan menjadi istriku!"
__ADS_1
"Tapi kau belum melamar aku, Tuan Dmytry!"
"Sebentar lagi akan aku lakukan," ucap Orland.
"Oh yeah?"
"Hm, tunggu saja!"
"Jangan lakukan di makam, jika tidak aku akan menendangmu!" ancam Cristin.
Orland terkekeh, tangan Cristin diraih dan diangkat karena dia ingin mencium punggung tangannya.
"Kita jadi berdebat dan kedua orangtuaku menonton," ucapnya.
"Mereka harus tahu bagaimana sifat calon menantu mereka," ucap Cristin.
"Aku suka kau yang seperti ini!" Orland merangkul pinggangnya kembali, mereka berdiri di depan makam cukup lama tanpa banyak bicara sampai Gail sudah kembali. Dia sudah mendapatkan cincinnya tapi dia tidak berani mengganggu bosnya.
"Apa kita akan berdiri di sini sampai malam?" tanya Cristin sambil berbisik.
"Tidak, ayo ikut aku!" tangan Cristin diraih dan setelah itu, Orland mengajaknya menyelusuri jalanan setapak yang akan membawanya ke sebuah tempat yang cukup indah di dekat pemakaman itu.
Gail mengikuti langkah mereka, Cristin melihat sana sini saat mereka sudah tidak berada di area pemakaman lagi. Jalanan yang mereka lalui cukup terjal dan berbatu membuat Cristin sedikit kesulitan apalagi sepatu hak tingginya tidak cocok digunakan ditempat seperti itu.
"Kita mau ke mana, Orland?" Cristin mulai kewalahan.
Cristin terengah-engah, entah ke mana Orland hendak membawanya yang pasti mereka berjalan cukup jauh. Dia jadi teringat dengan Camping yang mereka lakukan saat itu.
"Lagi-Lagi hutan, aku benci hutan!" ucapnya.
"Kau tidak akan menyesal, Sayang. Percayalah."
Mereka terus melangkah dan setelah melewati beberapa pohon besar, Cristin sudah sangat kesal namun kekesalan hatinya tiba-tiba sirna saat Orland mengajaknya ke sisi tebing. Mata Cristin terbelalak melihat indahnya air terjun yang ada tidak jauh dari mereka dan indahnya pemandangan alam yang ada di sana.
"Wow, aku tidak menyangka ada tempat indah seperti ini di dekat makam," ucap Cristin.
"Sudah aku katakan kau tidak akan menyesal, tempat ini bagaikan mutiara tersembunyi."
"Kau benar," Cristin memejamkan mata, menghirup udara segar dan menikmati semilir angin yang berhembus.
Orland meminta Gail memberikan cincinnya, tentunya tanpa sepengetahuan Cristin. Cristin masih memejamkan mata menikmati suasana nyaman tempat itu. Suara burung, deburan air terjun dan angin yang berhembus benar-benar membuat perasaannya nyaman.
"Tempat ini benar-benar menenangkan," Cristin membuka mata dan terkejut saat melihat Orland sudah berlutut di hadapannya dengan sebuah kotak cincin yang sudah terbuka.
__ADS_1
"Orland?" Cristin menutup mulut, dia tahu apa yang hendak Orland lakukan.
"Cristin Bailey, will you marry me? To be my wife?" tanya Orland seraya mengangkat kotak cincinnya.
"Apa kau membawa aku ke sini untuk ini?"
"Yes, aku memang sudah sangat ingin melamarmu. Jadi, apa kau bersedia, Cristin?"
"Of course," jawab Cristin sambil mengangguk. Senyum penuh kebahagiaan juga menghiasi wajah.
"Yes!" Orland melompat karena senang. Cincin milik ibunya pun dikenakan di jari manis Cristin dan beruntungnya cincin itu muat.
"Terima kasih, Sayang," Orland menariknya mendekat dan mencium bibirnya, "I love you," ucapnya lagi.
Cristin memeluknya erat saat Orland kembali mencium bibirnya. Mereka berdua terlihat bahagia, walau ini bukan pertama kalinya dia dilamar tapi kali ini Cristin yakin jika dia tidak akan salah memilih.
"Oh, aku sangat senang!" ucap Orland.
"Aku juga," Cristin tersenyum, Orland bahkan menggendong tubuhnya dan memutarnya beberapa kali.
"Stop. Orland. Bagaimana jika kita berdua jatuh ke bawah!" ucap Cristin. Mereka berdua sedang berdiri di sisi tebing yang curam. Bisa celaka jika mereka berdua sampai jatuh ke bawah sana.
"Kau benar, aku tidak mau pernikahan kita diadakan di alam baka!" Orland menurunkan Cristin dari gendongannya.
"Sebaiknya simpan tenagamu, Tuan Dmytry. Kau harus menggendong aku sampai ke bawah sana!"
"What? Seriously?"
"Yes, aku ingin mengetes kekuatanmu apakah kau masih sekuat dulu atau tidak!" ucap Cristin.
"Jangan meremahkan aku, Nona. Aku sudah rutin minum susu setiap hari jadi kekuatanku ini sudah tidak perlu diragukan lagi!"
"Benarkah?"
"Tunggu saja, Cristin. Kau tidak akan tidur nanti dan aku akan membuatmu menangis di bawah kendaliku!"
"Mesum!" Cristin memukul bahunya dan memeluknya. Senyum menghiasi wajah saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Apa ini cincin ibumu?" tanyanya. Dia menebak demikian karena desainnya yang sudah kuno.
"Yes, aku akan memberikan cincin lain saat kita menikah nanti."
"Tidak perlu, aku rasa ini sudah cukup."
__ADS_1
"Hanya untuk cincin saja, jangan menolak!"
"Baiklah," Cristin melepaskan pelukannya. Orland kembali mencium bibirnya, membisikkan kata cinta dan setelah itu mereka berdiri bersama untuk menikmati pemandangan indah yang ada di tempat itu.