
Johan pergi dengan kemarahan di hati. Seandainya tidak ada nenek tua itu, dia sangat yakin dia sudah berhasil membujuk Cristin.
Cristin wanita yang mudah di rayu, dia juga bukan tipe wanita yang tegaan. Cukup dengan bujuk rayu untuk menggoyahkan hati Cristin, dia yakin tidak akan sulit membuat Cristin kembali padanya tapi nenek tua itu benar-benar sudah mengacaukannya.
Tidak mudah bertemu dengan Cristin, tapi dia akan memanfaatkan situasi. Johan melihat kartu nama yang diberikan oleh ibu mertuanya kembali. Jasa konsultasi? Hng, dia bisa memanfaatkan hal ini. Cristin ingin bercerai dengannya? Bagaimana jika dia tidak mau? Tidak akan ada yang bisa memutus hubungannya dengan Cristin jika dia tidak mau.
Walau hari ini gagal, minggu depan tidak karena hanya dia dan Cristin saja yang akan berkonsultasi dan nenek tua itu tidak akan mengganggu mereka. Sebaiknya dia pergi, pertemuan yang agak kacau tapi dia bisa melihat jika Cristin lebih cantik dibandingkan beberapa tahu yang lalu. Istri cantik yang memiliki banyak uang, apakah harus dia lewatkan? Yeah, jika tidak ada Lauren tapi sayangnya, sumpah itu tidak bisa dia langgar.
Tidak saja Johan yang pergi sambil menahan amarah, Cristin juga seperti itu. Dia tidak menduga akan bertemu dengan suaminya di tempat itu. Jangan-Jangan Johan mengikutinya, tidak mungkin mereka bisa bertemu secara kebetulan.
Amarah masih memenuhi hati, pengkhianatan yang Johan lakukan malam itu dan perkataan yang menyakiti hatinya kembali teringat. Dia tidak akan lupa bagaimana rasa sakit yang dia rasakan ketika melihat pria yang sangat dia cintai bercinta dengan wanita lain, dia tidak akan melupakan hal itu.
Mariana berusaha menenangkan putrinya, dia juga marah tapi mereka harus tenang menghadapi semuanya. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah, dia harap keinginan putrinya untuk segera berpisah dapat terwujud. Haruskah dia meminta putranya kembali untuk menemani Cristin sampai adiknya bisa lepas dari belenggu Johan?
"Cristin, apa kau baik-baik saja?" Mariana menyentuh lengan putrinya, Cristin menoleh dan meggeleng. Dia tampak tidak bersemangat. Waktu yang ingin mereka habiskan berdua menjadi kacau, Cristin ingin segera pulang dan mandi karena dia jijik telah disentuh oleh Johan. Pria yang sudah pernah menyentuh wanita lain di depan matanya itu, dia tidak sudi disentuh olehnya.
"Seandainya aku merekam apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan pada malam itu, aku pasti bisa bercerai dengannya dengan mudah karena ada bukti," ucap Cristin. Ya, seandainya dia tidak langsung pergi dan mengambil ponselnya untuk merekam kejadian itu, maka dia memiliki bukti yang mempermudah perceraiannya tapi jika dia kembali untuk mengambil ponsel lalu merekam semua yang dilakukan oleh Johan maka dia tidak akan bertemu dengan Orland dan dia tidak akan pernah menyelamatkan pria itu.
"Tidak perlu menyesal, Sayang. Kita pasti akan mempunyai cara agar kau bisa terbebas darinya. Tidak perlu khawatir, Mommy akan meminta kakakmu pulang untuk membantumu."
"Tidak perlu, Mom. Jangan ganggu kakak. Aku bisa mengatasinya, Mommy tidak perlu khawatir. Aku memang muak melihat wajahnya tapi aku akan mencari cara untuk menghadapinya dan aku akan mencari cara untuk mengumpulkan bukti agar proses perceraianku dapat berjalan dengan lancar."
"Baiklah, Mommy percaya padamu," ucap ibunya.
Cristin tersenyum tipis, mau tidak mau dia memang harus menghadapi ini. Dia tidak mau masalah ini berlarut lama, semakin cepat dia bercerai, semakin cepat pula dia menata hidupnya kembali.
Setelah tiba, dia langsung mandi karena dia sudah tidak tahan. Di lupa dengan Orland. Percakapan mereka bahkan belum selesai dan tentunya Olrand jadi memikirkan dirinya selama dia sedang bekerja.
Sepertinya dia tidak bisa terlalu lama berada di Australia. Dia sudah berjanji akan membantu Cristin untuk berpisah dengan suaminya maka dia harus menepati janjinya itu. Cristin sudah bertemu dengan Johan tanpa terduga dan tentunya dia sangat berharap Cristin bisa segera berpisah dengan Johan agar dia bisa mendekati Cristin dengan leluasa.
Pembicaraan mereka bahkan terputus begitu saja, Cristin juga tidak menghubunginya kembali. Dia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Cristin saat ini tapi sayangnya, dia harus bekerja. Jangan sampai mengecewakan rekan bisnisnya hanya karena rasa penasarannya. Setelah pekerjaannya hari ini selesai, dia akan menghubungi Cristin.
__ADS_1
Cristin sedang berada di dalam bathtub, setelah mencuci tubuhnya di bawah guyuran air shower, dia lebih memilih berendam. Setidaknya rasa jijik yang dia rasakan sudah tidak ada lagi.
Cristin termenung, pikirannya bahkan kacau. Pertemuan mereka setelah sekian lama benar-benar membuat luka yang hampir sembuh kini kembali terbuka lebar.
Dia tidak bersemangat sama sekali, rasanya ingin menenggelamkan diri di dalam air dan tidak muncul lagi. Cristin berendam cukup lama, dia tidak tahu sudah berapa lama seperti itu karena dia enggan beranjak.
Dering ponsel bahkan dia abaikan, sungguh dia sangat ingin sendirian saat ini agar tidak ada yang tahu apa yang dia rasakan. Beruntungnya tidak ada yang melihat keadaan yang bodoh dan beruntungnya Orland tidak ada.
Cristin menepuk dahi, apa yang dia lakukan? Kenapa dia bisa lupa dengan pria itu? Mereka belum selesai berbicara, sebaiknya dia segera menghubungi Orland karena dia tidak mau membuat pria itu kahwatir.
Ponsel yang dia letakkan di sisi bathtub diambil, Cristin terkejut karena yang menghubunginya sedari tadi adalah Orland. Sepertinya pria itu benar-benar mengkhawatirkannya bahkan puluhan pesan Orland kirim untuk tahu bagaimana keadaannya.
Cristin menghubungi Orland tanpa membuang waktu, bagaimanapun dia tidak mau membuat pria itu khawatir.
"Cristin, apa kau baik-baik saja?" tanya Orland tidak sabar. Dia sangat senang Cristin mau menghubunginya.
"Aku baik-baik saja, maaf telah membuatmu khawatir."
"Ak baik-baik saja, Orland. Aku sudah berada di rumah."
Orland sangat lega mendengarnya, jujur dia sangat mengkhawatirkan Cristin.
"Katakan padaku, Cristin. Apa pria tadi suamimu?"
"Seperti yang kau tahu, Orland. Tiba-Tiba saja aku bertemu dengannya."
"Lalu, apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melukaimu atau dia memaksamu?"
Cristin tersenyum, entah kenapa pria menyebalkan itu paling pandai merubah suasana hatinya.
"Cristin, kenapa kau diam?"
__ADS_1
"Tidak, dia tidak melakukan apa pun. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Sebenarnya aku memang berniat mencarinya karena minggu depan aku harus berkonsultasi bersama dengannya"
"Minggu depan?" Orland langsung melihat jadwalnya karena dia berniat menemani Cristin.
"Hm, aku rasa perceraian ini tidak mudah, Orland. Seandainya aku punya bukti ...," Cristin menghela napas. Ya, dia hanya butuh bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Johan.
"Aku akan membantumu, Cristin. Kau ingin bukti? Aku akan mendapatkan bukti yang kau inginkan. Aku akan segera kembali dan minggu depan aku akan menemanimu. Aku akan berusaha menemukan bukti yang kau inginkan, aku berjanji pasti akan membantumu agar kau terlepas darinya."
"Terima kasih, kau begitu baik padaku."
"Jangan dipikirkan. Sekarang katakan padaku, apa yang kau inginkan? Aku akan membelikannya untukmu."
"Kau tahu, aku lebih suka batu permata," jawab Cristin. Sesungguhnya dia hanya bercanda karena dia tidak butuh apa pun.
"Baiklah, aku akan membawakan kerikil yang aku temukan di jalan dan membawakannya untukmu," goda Orland.
"Apa? Enak saja? Apa kau ingin aku melemparmu menggunakan kerikil itu?" ucap Cristin dengan nada kesal.
Orland terkekeh, dia lebih suka Cristin yang seperti itu.
"Sekarang katakan padaku, apa yang sedang kau lakukan?"
"Berendam, dan setelah ini aku mau tidur."
"Oh, aku sangat ingin berendam denganmu dan mencuci semua bagian tubuhmu sampai bersih, Sayang."
"Apa? Dasar mesum!" bentak Cristin seraya mengakhiri pembicaraan mereka.
Cristin tersenyum dan meletakkan ponselnya. Aneh, perasaannya sudah membaik hanya karena berbicara dengan pria itu.
"Oh tidak, Cristin. Jangan-Jangan kau?" Cristin memeggangi wajahnya yang memerah dan setelah itu Cristin menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub. Apa yang sedang dia pikirkan saat ini tidak benar, bukan? Cristin muncul ke permukaan air. Sial, jangan-jangan dia memang sudah terpesona oleh si pria satu juta dolar itu.
__ADS_1