Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Tidak Sama Dengannya


__ADS_3

Mariana masuk ke dalam kamar dengan segelas minuman hangat berada di tangan. Saat pagi sudah datang, Cristin tidak bisa bangun dari atas ranjang.


Tubuhnya menggigil, kepalanya juga sakit luar biasa. Penyakit itu dia dapat dari Orland, keadaannya seperti itu juga diakibatkan karena dia menangis terlalu lama. Setelah kembali, Cristin mengunci pintu kamar dan menangis seorang diri.


Dia tidak mengijinkan siapa pun masuk sampai akhirnya ayah dan ibunya membuka pintu dengan paksa dan mendapati putri mereka sudah terbaring tidak berdaya.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya ibunya.


"Seperti yang Mommy lihat," Cristin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal karena dia merasa begitu dingin.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang. Semalam kau baik-baik saja."


"Aku kehujanan saat pulang, Mom," dusta Cristin.


"Kehujanan?" sang ibu mengernyitkan dahi. Sepertinya tidak hujan, apa putrinya tidak asal bicara?


"Mom, bisakah tidak banyak bertanya? Aku jadi seperti ini karena hujan saja."


"Baiklah, sekarang minum ini dan kembalilah tidur. Mommy akan membuatkan bubur untukmu," Mariana mendekati putrinya dan memberikan minuman hangat yang dia bawa.


Dengan kepala yang terasa sakit luar biasa, Cristin berusaha untk duduk di atas ranjang. Semua gara-gara Orland, seharusnya pria itu tidak menciumnya dalam keadaan sakit. Sekarang penyakit itu jadi pindah padanya. Awas saja jika dia bertemu dengan pria itu, akan dia tendang bokongnya tapi tunggu dulu, bukankah dia tidak ingin bertemu dengannya lagi?


"Cristin, Orland datang dan ingin menemuimu," terdengar suara ayahnya di depan pintu.


"Brusshh!" air yang ada di mulut Cristin menyembur keluar. Untuk apa pria itu datang?


"Katakan padanya aku tidak ada di rumah!" teriak Cristin. Dia tidak tahu ayahnya dan Orland sudah berdiri di depan pintu kamarnya saat itu.


"Hm," Grifin berdehem.


"Tolong maafkan, dia memang seperti itu," ucap ayahnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Bailey," Orland berusaha tersenyum. Apa Cristin benar-benar tidak mau bertemu dengannya?


"Tidak perlu khawatir, kau bisa melihatnya nanti."


Orland hanya mengangguk, hari ini juga dia harus tahu kenapa Cristin marah dan tidak mau bertemu dengannya.


Di dalam kamar, Cristin menyembunyikan diri di bawah selimut. Ibunya hanya menggeleng. Kenapa putrinya jadi seperti anak kecil?


"Cristin, kenapa kau tidak mau menemuinya? Apa kalian bertengkar?" tanya ibunya.


"Tidak, Mom."


"Lalu? Apa dia sudah membuatmu marah?"


"Tidak juga," jawab Cristin dari bawah selimut.


"Jika begitu kenapa kau tidak mau menemuinya?" ketika ibunya bertanya demikian, pintu kamar terbuka. Grifin mengintip masuk ke dalam dan meminta istrinya untuk keluar dengan isyarat tangan.

__ADS_1


Mariana keluar dengan perlahan dan setelah itu mereka membiarkan Orland masuk.


"Cristin, kau belum menjawab Mommy. Kenapa kau tidak mau menemuinya?" tanya ibunya lagi. Dia melakukan hal itu agar putrinya tidak curiga.


"Bujuk dia sampai dapat, anak muda," ucap ayah Cristin sambil menepuk bahu Orland.


Orland tersenyum, wow, benar-benar orangtua yang kompak. Orland melangkah masuk ke dalam dengan perlahan, pintu pun di tutup dengan pelan.


"Aku tidak mau menemuinya lagi, Mom," jawab Cristin tanpa tahu jika Orlan sudah berada di dalam kamar.


"Tidak seharusnya aku dekat dengan pria menyebalkan itu. Seharusnya aku tidak membiarkan pria mana pun dekat denganku, seharusnya aku belajar dari kegagalan yang aku alami," ucap Cristin. Air mata mengalir, dia tidak tahu Orland mendekatinya dan duduk di sisi ranjang. Orland diam, dia ingin mendengar semua ucapan yang Cristin katakan.


"Aku terlalu terbuai dengan kebersamaan kami tanpa menyadari jika aku telah mengulangi kesalahan yang aku lakukan. Dulu johan memperlakukan aku seperti itu, kata-kata manis, janji-janji manisnya, semua sudah aku dapatkan dan semua itu ternyata palsu. Orland pasti sama dengan Johan, mereka hanya mengucapkan perkataan manis sehingga membuat aku terbuai dan betapa bodohnya aku, lagi-lagi aku tertipu dengan mudah."


"Jadi kau menganggap aku seperti itu, Cristin?"


Cristin terkejut ketika mendengar suara Orland, selimut dibuka, dia terkejut melihat pria itu sudah duduk di sisi ranjangnnya.


"Mom!" Cristin berteriak, kenapa ibunya membiarkan pria itu masuk ke dalam kamarnya?


Pintu kamar sedikit terbuka, ibunya muncul dari balik pintu sambil berkata, "Tidak baik lari dari masalah, Sayang. Sekarang selesaikan masalah di antara kalian berdua."


"Tapi, Mom?"


"Panggil Mommy jika sudah selesai," ibunya tersenyum dan menutup pintu.


"Mom," Cristin memanggil ibunya tapi pintu sudah tertutup.


"Untuk apa kau datang?" Cristin membuka suara.


"Untuk melihat keadaanmu."


"Kau sudah melihatnya jadi kau boleh pergi."


"Kenapa Cristin, katakan padaku apa salahku? Apa kau marah hanya karena aku mengungkit soal anak-anak?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Entahlah, jangan datang menemui aku lagi, Orland. Tidak seharusnya kita seperti ini."


"Kenapa? Apa kau kira aku sama dengan suamimu?"


"Bagiku kalian sama saja!"


"Cristin," Orland naik ke atas ranjang dan memeluknya.


"Jangan memelukku, lepaskan!" pinta Cristin.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu dan dengarkan aku!" Orland semakin memeluknya dengan erat.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu setelah mendengar perkataanku mengenai anak-anak tapi kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Apa semua perkataanku ada hubungannya dengan perkataan suamimu? Memang kau dikhianati tapi aku rasa tidak kau saja, banyak orang yang pernah merasakan pengkhiantan, Cristin. Dari pada menghukum dirimu bukankah lebih baik kau nikmati hidupmu dan tunjukkan padanya jika kau baik-baik saja setelah tidak ada dirinya."


"Sepertinya aku sudah pernah mendengar ini," ucap Cristin.


"Benarkah? Jika kau sudah pernah mendengarnya bukankah lebih baik kau tidak menghukum dirimu lagi? Percayalah padaku, Johan akan tertawa dengan keras jika dia melihat keadaanmu seperti ini."


Cristin diam, dia tahu Johan pasti akan tertawa mengejek tapi perasaannya ketika mengingat kenangan manis yang pernah mereka lalui, benar-benar membuatnya hancur.


"Cristin," Orland mengusap lengan Cristin dan mencium pipinya.


"Aku tidak sama dengannya, tidak. Aku tahu kau sakit hati dan kecewa tapi aku tidak sama dengan Johan seperti yang kau kira. Percayalah padaku. Seandainya yang menikahimu malam itu adalah aku, aku tidak mungkin mengkhianati dirimu."


"Apa benar?" Cristin memutar tubuhnya, Orland tersenyum dan mengusap wajahnya.


"Percayalah padaku, Cristin. Ijinkan aku membuktikan padamu jika aku tidak sama dengannya dan bagaimana caranya agar kau percaya jika aku tidak sama dengan suamimu?"


Cristin diam saja, bagaimana caranya? Dia sendiri tidak tahu.


"Cristin, kenapa kau diam?"


"Entahlah, Aku tidak tahu."


"Baiklah, saat kau sudah tahu apa yang harus aku lakukan agar kau bisa percaya padaku maka katakan padaku."


Cristin mengangguk, Orland tersenyum dann mengusap wajahnya kembali.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kau bisa lihat sendiri, penyakit bodoh ini aku dapatkan darimu," ucap Cristin.


"Jika begitu akan aku ambil kembali penyakit bodoh itu," Orland mengecup bibirnya dengan lembut.


"Hei, jangan menciumku!" protes Cristin.


"Aku hanya mengambil sedikit penyakit itu darimu."


"Apa maksudmu?" Cristin tampak tidak mengerti tapi tiba-tiba saja Orland menarik tengkuknya dan mencium bibirnya kembali.


Cristin terkejut, matanya terbelakak. Dia sangat berharap ibunya membuka pintu dan melihat jika pria menyebalkan itu sedang mengambil keuntungan darinya tapi sayangnya kedua orangtuanya sedang menikmati teh dan cemilan.


Cristin berusaha memukul tapi Orland tidak melepaskan dirinya. Pria itu bahkan memeluknya erat, menyebalkan. Dia terus memukul sampai akhirnya dia tidak melawan lagi dan membalas ciuman Orland.


Walau dia ingin menjauhi pria itu tapi perkataan, tindakannya dan juga perasaannnya tidak sama.


Orland melepaskan bibirnya dan berkata, "Sudah aku ambil," pria itu tersenyum, sedangkan Cristin melotot dengan tatapan galak. Dia sangat ingin menjauhi pria itu tapi kenapa tidak bisa? Jangan sampai dia semakin terjerat sehingga dia tidak bisa lepas tapi bagaimana caranya agar dia bisa menghindari pria yang suka menciumnya secara tiba-tiba itu?


"Sekarang giliran aku yang merawatmu, Sayang."

__ADS_1


"Keluar!" Cristin memutar tubuhnya, tapi Orland kembali memeluknya dari belakang. Keluar? Sekalipun Cristin menendangnya dia tidak akan keluar begitu saja.


__ADS_2