
Orland mendekati Cristin dan berdiri di sisinya, matanya tidak berpaling dari wanita cantik yang terlihat luar biasa itu tapi seperti biasa, Cristin pasti memasang wajah tidak senang seperti yang sudah-sudah.
Cristin meneguk minumannya sambil menikmati angin malam yang berhembus. Jujur saja dia lebih suka berada di sana dari pada keramaian di dalam sana.
"Kau terlihat luar biasa, Cristin," puji Orland.
"Tidak perlu memuji, tidak mempan!" ucap Cristin.
Orland terkekeh, kenapa Cristin selalu berkata tidak mempan? Apa dia sedang menutup diri agar tidak ada pria yang mendekatinya?
"Kenapa kau di sini? Apa kau tidak suka pestanya, Cristin?" tanya Orland.
"Aku sudah menghadiri pesta sepanjang hidupku dan aku mulai bosan dengan rutinitas seperti ini!" jawab Cristin.
"Apa kau ingin mencoba hal yang menantang?"
Cristin memandangi Orland sejenak dan setelah itu dia menjawab, "Tidak!"
"Kenapa?" tanya Orland ingin tahu.
"Tidak mau jika dengan pria menyebalkan seperti dirimu!" jawab Cristin sinis.
Orland kembali terkekeh, ternyata itu alasannya. Tapi semakin Cristin menolak, semakin dia ingin mendekatinya.
"Ayolah, kita pergi melakukan tantangan berdua. Aku jamin kau pasti akan suka!"
"Tantangan apa?"
"Camping, bagaimana? Aku akan membawamu melihat alam dan juga langit di malam hari."
Cristin tampak berpikir, camping? Dia belum pernah melakukan hal itu. Apakah menyenangkan?
"Mau tidak?" Orland bergeser, agar mereka semakin dekat.
"Aku tidak suka alam, aku juga takut serangga!"
"Ayolah, kau harus mencoba hal berbeda sesekali. Kau sudah bosan dengan pesta seperti ini, bukan? Jadi aku rasa kau harus menikmati alam sesekali. kau akan tahu bagaimana indahnya di luar sana, kau juga akan menikmati pemandangan menakjubkan yang belum pernah kau lihat sebelumnya," Orland berusaha meyakinkan Cristin, dia harap Cristin mau menerima ajakannya. Dia akan sangat senang jika Cristin mau menghabiskan waktu berdua dengannya di alam terbuka.
__ADS_1
Cristin masih belum menjawab, dia tahu penolakan yang akan dia berikan pasti sia-sia karena dia tahu pria menyebalkan itu tidak terima penolakan.
"Kita bisa sambil mengerjakan proposal," Orland masih berusaha membujuk.
"Bekerja sambil menikmati alam," ucapnya lagi.
"Berisik!!" ucap Cristin kesal.
Orland terkekeh, dia senang melihat ekspresi galak Cristin. Dia suka tatapan matanya yang tajam. Semakin Cristin bertingkah seperti itu, semakin dia ingin menggodanya.
"Jadi?" tanya Orland sambil tersenyum lebar.
"Jika kau bisa mendapatkan restu ayahku maka aku akan ikut denganmu," ucap Cristin dengan seringai lebar. Dia yakin ayahnya tidak akan mengijinkan. Orangtua mana yang akan mengijinkan putrinya pergi ke alam terbuka dengan pria yang tidak dia kenal?
"Kau yakin dengan syaratnya, Nona?" tanya Orland sambil tersenyum. Cristin menatapnya dengan tatapan curiga, kenapa pria itu justru terlihat begitu bersemangat?
"Te-Tentu saja," jawab Cristin seraya mengangkat dagu.
"Baiklah, ikut aku!" Orland meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Hei, mau apa?"
"What?" Cristin terkejut. Apa pria itu sudah gila?
Gelas minuman diberikan saat seorang pelayan lewat. Dia harus menahan Orland, jangan sampai dia bertemu dengan kedua orangtuanya karena mereka pasti akan menghujaninnya dengan banyak pertanyaan. Bagaimana jika mereka tahu apa yang telah mereka lakukan?
"Orland, tunggu!!" Cristin berusaha menahan tangan Orland.
"Ayolah, aku hanya ingin meminta restu," Orland tidak melepaskan tangannya sama sekali.
"Tidak, kau tidak boleh bertemu dengan kedua orangtuaku!" ucap Cristin. Dia masih berusaha menahan Orland.
"Kenapa?" langkah Orland terhenti, kini dia memandangi Cristin dengan tatapan ingin tahu.
"Please, aku tidak mau mereka tahu apa yang telah kita lakukan pada malam itu."
"Oh, bukankah waktu itu kau tidak ingat?" Orland melangkah, mendekatinya. Akhirnya Cristin mengakuinya juga.
__ADS_1
"A-Aku hanya pura-pura saja," Cristin tampak gugup karena Orland semakin mendekat.
Orland meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka berdua hingga tidak memiliki jarak. Cristin memalingkan wajah dengan jantung berdebar, entah kenapa napasnya jadi berat padahal ini bukan pertama kali dia dekat dengan seorang pria apalagi dengan posisi itu.
"Lihat aku, Cristin," Orland memegangi dagu Cristin hingga pandangan mereka berdua beradu.
"Kenapa kau pura-pura? Apa kau tidak puas malam itu?"
Cristin menggigit bibir dengan wajah memerah. Sialan, bisakah Orland tidak menanyakan pertanyaan demikian di ruangan pesta di mana terdapat ratusan tamu undangan yang bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa sengaja?
"Ja-Jangan membahas hal ini," Cristin kembali membuang wajahnya yang memerah.
Orland tersenyum, dia jadi ingin mencium Cristin. Kenangan malam itu tidak bisa dia lupakan, setiap jengkal tubuh Cristin yang dia sentuh masih bisa dia ingat dan bagaimana erangan nikmat Cristin karena permaian panas mereka tidak bisa dia lupakan. Rasanya ingin mengulangi malam panas itu lagi tapi dia tahu, Cristin tidak mungkin mau apalagi situasinya sudah berbeda.
Orland mendekatkan wajahnya, hanya sebuah ciuman saja Cristin tidak mungkin marah. Cristin terkejut ketika Orland mencium pipinya dengan lembut. Dekapan Orland pun semakinn erat. Cristin ingin protes karena banyak yang melihat tapi Orland berbisik pelan di telinganya sehingga dia tidak jadi melakukannya.
"Aku tidak akan membahasnya tapi aku akan tetap membahasnya nanti di lantai dansa karena aku ingn tahu, apa kau puas dengan pelayananku malam itu? Aku sudah kau bayar mahal dan aku harap aku tidak membuatmu kecewa."
"Si-Siapa yang mau berdansa denganmu!" ucap Cristin kesal. Jika dia tidak puas, apa pria itu pikir dia bisa mengulanginya lagi? Demi apa pun dia tidak mau lagi karena dia sudah bertekad untuk tidak mengijinkan siapa pun menyentuhnya lagi.
"Kau tidak akan bisa menolaknya, Nona. Sekarang ayo cari ayahmu karena aku harus mendapatkan ijinnya agar aku bisa menculikmu dan membawamu pergi camping!!"
"Tidak perlu melakukan hal sia-sia, kau tidak akan berhasil!"
"Aku belum melakukannya jadi kita belum tahu hasilnya," Orland kembali meraih tangan Cristin dan mengajaknya pergi.
Mereka melewati para tamu undangan, Cristin berjalan di belakang Orland. Matanya tidak lepas dari sosok pria gagah yang berjalan tanpa melepaskan tangannya. Orland sangat jauh berbeda dengan Johan, mereka bagaikan langit dan bumi. Walau dia berpikir seperti itu bukan berarti dia senang dekat dengan Orland.
Pria itu menyebalkan, dia rasa mereka akan berdebat sepanjang hari jika mereka bersama. Dia harap ayahnya tidak mengijinkan Orland membawanya Camping agar dia tidak berduaan dengan pria menyebalkan itu. Padahal dia pikir Orland akan menyerah saat dia memberikan syarat seperti itu tapi lihatlah, Orland begitu bersemangat lebih dari yang dia kira.
Mereka masih mencari keberadaan ayah Cristin dan setelah melewati beberapa tamu undangan, Orland melihat Grifin dan istrinya sedang bebincang dengan beberapa tamu. Cristin pasti tidak akan bisa mengelak kali ini dan dia pasti akan membawa wanita itu menikmati alam berdua.
Mereka berjalan mendekati Grifin Bailey, Cristin terlihat was-was apalagi Orland tidak melepaskan tangannya.
"Selamat malam, Tuan Bailey," sapa Orland.
"Oh, Orland. Aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap ayah Cristin saat melihatnya. Dia terlihat senang bahkan memeluk pemuda itu.
__ADS_1
"What?" mulut Cristin menganga melihat keakraban mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa dia dan di mana dia?