
Mereka sudah tiba di rumah Cristin, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kedua orangtua Cristin sudah menunggu, mereka terlihat senang saat melihat putri mereka sudah kembali.
Cristin turun dari mobil, disusul oleh Orland. Pria itu keluar untuk mengambil barang-barang milik Cristin. Dia juga harus menyapa kedua orangtua Cristin yang berdiri di depan rumah menunggu putri mereka.
"Terima kasih, Orland," ucap Cristin.
"Tidak perlu berterima kasih, Cristin. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau mau ikut denganku dan mempercayai aku. Semoga kau tidak melupakan apa yang kita lewati bersama di sana," ucap Orland.
Cristin hanya tersenyum, tentu dia tidak akan lupa apalagi kejadian-kejadian tidak terduga yang telah dia alami. Camping pertama yang dia lakukan ternyata menyenangkan walau harus berakhir satu tenda dengan pria menyebalkan itu.
"Mom," Cristin menghampiri ibunya dengan terburu-buru.
"Bagaimana perjalanan kalian, Sayang. Pasti menyenangkan, bukan?" tanya ibunya.
"Ti-Tidak buruk," jawab Cristin dengan wajah tersipu.
"Wah, apa camping kalian berjalan lancar?" goda ibunya.
"Tentu saja, Nyonya. Walau kadang-kadang ada yang menggigit," ucap Orland sambil melirik ek arah Cristin.
"Apa banyak serangga?" tanya ibu Cristin heran.
"Ya, serangga cantik dan seksi!" goda Orland.
"Sembarangan! Sepertinya kau ingin aku gigit lagi!" Cristin lupa dengan keberadaan kedua orangtuanya.
"See, benarkan apa yang aku katakan? Kau memang suka menggigitku."
"Siapa yang suka menggigitmu?!" Cristin mendengus dan membuang wajahnya.
"Ayolah, banyak buktinya."
"Menyebalkan, sini kau!"
Kedua dua orangtuanya saling pandang, mereka tidak pernah melihat putri mereka seperti itu. Cristin bahkan sedang memukul bahu Orland saat itu dan juga menggigitnya. Apa mereka tidak sedang salah lihat? Rasanya tidak ingin percaya tapi apa yang mereka lihat saat ini begitu nyata.
"Cristin, aku hanya menggodamu," Orland berusaha melepaskan Cristin tapi wanita itu tetap mengigitnya.
"Hm," ayahnya berdehem, tentunya hal itu membuat Cristin terkejut. Cristin melepaskan bahu Orland, celaka. Dia lupa ayah dan ibunya berada di sana.
__ADS_1
"Sepertinya menyenangkan," tanya ibunya.
Wajah Cristin tersipu, dia bahkan bersembunyi di belakang Orland yang sedang memegangi bahunya akibat di gigit olehnya.
"Sepertinya mereka lupa dengan kita, Dad. Ayo kita masuk saja."
"Jangan!" cegak Cristin seraya berlari menghampiri kedua orangtuanya.
"Tidak apa-apa, kami tidak akan mengganggu," ucap ibunya.
"Ja-Jangan salah paham, Mom," ucap Cristin. Dia terlihat salah tingkah karena malu.
"Tidak, Mommy tidak salah paham. Kami sangat senang melihat kalian sudah cukup akrab."
"A-Apa sih yang kalian katakan? Kami tidak akrab," Cristin memalingkah wajahnya yang tersipu.
"Tidak apa-apa, terima kasih, Orland. Kau sudah menjaga putriku baik-baik," ucap ibu Cristin.
"Tidak masalah, Nyonya. Aku senang melewatkan waktu bersama dengannya," ucap Orland. Dia masih terlihat memegangi bahunya.
"Jika kau berkenan, besok datanglah kemari dan makan malam bersama dengan kami," ucap ayah Cristin. Jujur dia suka dengan pemuda itu. Dia sangat berharap hubungan Cristin dengannya semakin dekat.
"Sebuah kehormatan bagiku, tapi aku sudah harus pamit karena sudah malam. Besok aku pasti akan datang," ucap Orland, dia sangat senang mendapat undangan makan malam itu.
"Tidak perlu berterima kasih, Nyonya. Aku juga menikmati kebersamaan kami."
Karena hari sudah malam, Orland pamit pergi. Cristin berlari ke arahnya sebelum Orland masuk ke dalam mobilnya.
"Orland, tunggu," pinta Cristin.
Tentunya Orland menghentikan langkahnya dan berpaling. Cristin berlari pelan dan berhenti tidak jauh darinya.
"Kenapa tidak masuk ke dalam? Udaranya semakin dingin," ucap Orland.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berterima kasih padamu."
"Bukannya tadi sudah?"
"Hm, ya," Cristin memberanikan diri mendekatinya dan tanpa Orland duga, dia bahkan terkejut karena saat itu Cristin mencium pipinya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan," setelah berkata demikian Cristin melangkah cepat, meninggalkan dirinya.
"Aku akan mengabarimu nanti!" teriak Orland.
Dia tampak tidak percaya, matanya tidak lepas dari Cristin yang masuk ke dalam rumah bersama dengan kedua orangtuanya. Orland tersenyum, rasanya ingin berteriak untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Orland melompat, dia tidak akan mencuci wajah. Ini hal tidak terduga yang dia dapatkan hari ini walau dia mendapat gigitan Cristin yang mematikan. Orland membawa mobilnya pergi dengan perasaan senang, tidak sia-sia mengajak Cristin camping. Lain kali dia akan mengajak wanita itu pergi lagi.
Sementara itu, Cristin mendapat banyak pertanyaan dari kedua orangtuanya karena mereka ingin tahu bagaimana dengan hubungan putri mereka dengan Orland.
"Bagaimana, Sayang. Apa kalian sudah jadian?" tanya ibunya.
"Tidak, Mom."
"Tidak? Tapi Mommy lihat hubungan kalian sudah begitu dekat. Kalian berdua bahkan sudah terlihat seperti?"
"Aku tahu, Mom," sela Cristin, "Tapi kami tidak pacaran. Dia memang mengatakan jika dia menyukai aku tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Lagi pula aku merasa, untuk saat ini hubungan kami cukup seperti ini saja sampai aku benar-benar percaya dengannya," ucapnya lagi.
"Baiklah, setidaknya itu sudah sangat bagus untukmu. Kau memang tidak perlu cepat-cepat menjalin hubungan, lagi pula kau belum bercerai. Jika dia serius denganmu, dia pasti akan menunggu," ucap ibunya.
Cristin hanya tersenyum, yang dikatakan oleh ibunya sangat benar. Sepertinya dia harus mengatakan pada kedua orangtuanya jika Johan sudah kembali.
"Mom, Dad, aku mendengar Johan sudah kembali," ucapnya.
"Benarkah?" kedua orangtuanya tampak terkejut.
"Ya, aku dengar demikian."
"Bagus, akhirnya dia kembali padahal kita sudah mencarinya sekian lama!" ucap ayahnya. Dia sudah tidak sabar ingin menghajar wajah menantu bejatnya itu.
"Jika begitu kau harus berhati-hati, Cristin. Kau tidak boleh pergi dengannya apa pun alasan yang dia gunakan karena kita tidak tahu apa tujuannya. Jangan sampai dia memperkosamu agar kalian tidak bisa bercerai," ucapnya ibunya.
"Yang Mommy-mu ucapkan benar, Cristin. Jangan percaya dengannya bahkan kau juga tidak boleh percaya dengan orang yang tidak kau kenal apalagi sampai mengajakmu pergi ke suatu tempat," ucap ayahnya pula.
"Aku tahu, Dad. Aku pasti akan jaga diri."
"Bagus, sekarang pergilah beristirahat. Kau pasti sudah lelah, bukan?".
Cristin mengangguk, dia memang sangat lelah dan sangat ingin segera beristirahat. Cristin berpamitan pada kedua orangtuanya, dia juga mengucapkan selamat malam pada mereka. Kedua orangtuanya sangat senang melihat perubahan dirinya tapi mereka juga khawatir dengan kembalinya Johan. Semoga saja pria itu tidak mempersulit perceraian yang putri mereka inginkan tapi kekhawatiran mereka akan menjadi nyata karena Johan tidak akan menceraikan Cristin begitu saja apalagi tujuannya belum tercapai.
Cristin segera mandi karena dia sudah sangat ingin berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dia tahu setelah ini tidak akan mudah karena dia tahu Johan tidak akan menceraikan dirinya dengan mudah. Cristin menghembuskan napas beratnya, sepertinya dia sudah harus pergi berkonsultasi dengan seorang pakar pernikahan dan dia rasa dia akan semakin sibuk.
__ADS_1
Cristin sudah berbaring, dia sudah sangat ingin tidur tapi dia sedang menunggu sesuatu. Cukup lama dia termenung di atas ranjang dan ketika ponselnya berbunyi, Cristin menyambar benda itu dengan cepat dan melihat pesan yang dikirimkan oleh Orland.
Senyum menghiasi wajahnya, ponsel diletakkan kembali. Sekarang waktunya tidur karena pesan yang dikirimkan oleh Orland mengatakan jika dia sudah tiba di rumahnya. Dia tidak mengkhawatirkan pria menyebalkan itu, tidak. Dia hanya tidak mau tidak bisa tidur saja. Cristin menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, walau dia menyangkal tapi dia merasa ada yang aneh. Tidak mungkin secepat itu dia terbuai, pasti dia seperti itu karena Orland adalah pria yang pernah dia bayar dengan mahal. Yeah, pasti begitu.