Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Wanita Paling Spesial


__ADS_3

Cristin masuk ke dalam rumah untuk bertukar pakaian. Orland kembali menunggu, Mariana menyiapkan minuman hangat untuk Orland. Benar-Benar pemuda yang sabar dan dia rasa putrinya beruntung bertemu dengan pria itu.


"Sepertinya kau harus banyak bersabar menghadapinya," ucap Mariana.


"Itu tidak masalah untukku, Nyonya. Aku serius dengannya sebab itu aku tidak keberatan," jawab Orland.


"Cristin benar-benar beruntung bertemu denganmu."


"Tidak, akulah yang beruntung bisa bertemu dengannya," ucap Orland.


Mariana tersenyum, walau Orland berkata demikian tapi menurutnya, Cristin yang paling beruntung.


"Tidak lama lagi Cristin akan berkonsultasi bersama dengan Johan, apakah kau mau menemaninya? Jujur saja aku khawatir jika hanya mereka berdua saja."


"Tentu saja, Nyonya. Aku sudah berjanji akan menemani dirinya."


"Aku sangat lega mendengarnya," Mariana kembali tersenyum. Jika begitu dia tidak perlu khawatir lagi.


"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Aku sudah berjanji akan membantunya maka aku pasti akan membantunya sampai dia berpisah dengan suaminya. Aku juga sedang mencari bukti agar Cristin bisa berpisah darinya tanpa bersusah payah," ucap Orland. Besok dia akan memerintahkan Gail mencari seseorang yang bisa mengumpulkan bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Johan.


"See, sudah aku katakan padamu jika dia beruntung bertemu denganmu."


Orland tersenyum, anggap saja mereka sama-sama beruntung. Dia membantu Cristin tidak saja agar Cristin segera berpisah dengan suaminya sehingga dia bisa memiliki Cristin tapi dia juga ingin melakukan hal itu sebagai balas budi atas bantuan Cristin dulu. Tapi soal balas budi dia tidak mau ada yang tahu apalagi Cristin. Bisa-Bisa sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya.


Cristin sudah selesai, sebuah gaun berwarna cokelat muda melekat di tubuh seksinya. Setelah memastikan penampilannya, Cristin keluar dari kamar. Dia tidak mau membuat Orland menunggu terlalu lama, tidak setelah dia memukul pria itu.


Mata Orland tidak lepas darinya saat Cristin melangkah mendekatinya. Tangannya terasa gatal, rasanya ingin melepaskan gaun yang membungkus tubuh seksi Cristin agar dia bisa melihat tubuh seksinya tanpa ditutupi apa pun.


"Aku sudah selesai, maaf membuatmu menunggu," ucap Cristin.


"Kau terlihat luar biasa, Cristin," puji Orland.


"Benarkah?" Cristin memutar sedikit tubuhnya.


"Yeah, sudah siap pergi?" tanya Orland seraya beranjak.


"Tentu saja," Cristin benar-benar sudah siap.


"Jika begitu nikmati waktu kalian berdua," ucap Mariana.


"Tentu saja, Mom," Cristin menghampiri ibunya dan memeluknya, "Terima kasih atas nasehat yang Mommy berikan," Cristin mengatakan hal itu dengan suara pelan.


"Mommy senang kau mengambil keputusan yang tepat, Cristin," ucap ibunya.


Cristin tersenyum, semua berkat ibunya. Jika tidak karena ibunya mungkin dia masih dengan egonya yang tidak mau bertemu dengan Orland lagi.


"Pergilah, nikmati waktu kalian," ucap ibunya lagi.


Cristin mengangguk dan tersenyum, mereka segera pergi setelah berpamitan pada Mariana. Orland menggandeng tangan Cristin saat mereka keluar dari rumah. Pinggang Cristin bahkan diraih saat mereka melangkah menuju mobil.


"Hei, tanganmu!" Cristin memukul tangan Orland yang melingkar di pinggangnya.


"Aku ingin memelukmu, Cristin. Aku sangat merindukanmu, apa kau tidak?"

__ADS_1


"Jika kau merindukan aku kenapa kau tidak menghubungi aku?" tanya Cristin sambil mendengus.


"Apa kau jadi marah padaku karena hal ini?"


"Tidak perlu bertanya!" Cristin mencubit pinggangnya karena dia kesal Orland tidak menyadari kesalahannya.


"Aw, teganya!" ucap Orland.


Cristin mendengus, dan melangkah dengan cepat menuju mobil sedangkan Orland memegangi pinggangnya yang di cubit oleh Cristin.


"Lain kali aku akan menggigitmu!" ucap Cristin.


"Ketahuilah, Sayang. Aku lebih suka kau menggigitku!"


Orland membukakan pintu mobil untuknya dan setelah Cristin masuk ke dalam mobil, Orland juga masuk ke dalam mobil.


"Kita mau pergi ke mana?" tanya Cristin.


"Restoran, aku sudah memesan tempat untuk kita berdua dan?" Orland mengambil bunga di belakang dan setelah itu memberikannya pada Cristin.


"Sebagai permintaan maafku," ucapnya.


"Thanks," Cristin tersenyum dan mengambil bunga yang diberikan oleh Orland, "Tapi bunga saja tidak cukup!" ucapnya lagi.


"Aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu, Sayang. Aku yakin kau akan suka."


"Jika tidak?"


"Maka aku akan mencium bibirmu sampai habis!"


Orland tersenyum dan menjalankan mobilnya. Mereka tidak banyak bicara saat di perjalanan tapi mereka berdua terlihat senang, itu terlihat dari ekspresi wajah mereka berdua.


Orland menghentikan mobilnya setelah tiba di restoran. Cristin sangat heran karena hanya mereka berdua saja berada di restoran itu. Para pelayan restoran menyambut kedatangan mereka, beruntungnya mereka tidak terlambat datang.


"Kenapa hanya kita berdua saja, Orland?" tanya Cristin.


"Malam ini aku ingin kita menghabiskan waktu tanpa ada yang mengganggu, Cristin."


"Tapi kau tidak perlu melakukan hal seperti ini, Orland."


"Stts, nikmati saja tanpa banyak berpikir, oke?"


"Baiklah, baik. Aku lupa jika pria satu juta dolar ini sudah sukses."


Orland terkekeh, dia sangat ingin menarik Cristin dan mencium bibirnya tapi sayangnya pelayan sudah mengantar mereka sampai ke meja. Mereka duduk di teras restoran karena mereka akan menikmati makan malam sambil menikmati laut di malam hari.


"Pesanlah apa yang kau suka, Cristin," ucap Orland saat pelayan meletakkan buku menu di atas meja.


"Aku tidak terlalu pandai memilih makanan laut jadi aku percayakan padamu."


"Baiklah, sepertinya kau butuh belut bertulang lunak," goda Orland.


"Apa ada?" tanya Cristin. Dia baru dengar ada binatang seperti itu.

__ADS_1


"Ada, semua lelaki memilikinya!"


"What?" Cristin belum mengerti tapi akhirnya dia paham.


"Orland!" teriaknya dengan wajah memerah.


Lagi-Lagi Orland terkekeh, reaksi Cristin agak lambat tapi dia suka melihatnya. Cristin tampak cemberut dan itu juga yang Orland suka. Melihat wajah cemberut dan ekspresi juteknya.


Orland segera memesan makanan untuk mereka, sebotol anggur kualitas terbaik juga sudah berada di atas meja. Sang pelayan menuangkan anggur itu ke dalam gelas dan setelah itu meninggalkan mereka berdua untuk menikmati makanan yang sudah terhidang.


Musik yang melantun merdu membuat suasana malam itu terasa romantis apalagi hanya mereka berdua saja yang makan di restoran itu. Senyum Cristin menghiasi wajah, dia merasa bahagia malam ini. Sudah lama tidak merasakan perasaan seperti itu. Dia bahkan lupa kapan. Mungkin di hari pernikahannya yang bagaikan lelucon? Dia bahkan sudah lupa dengan apa yang dia rasakan waktu itu.


"Mau berdansa denganku, Cristin?" tanya Orland.


"Tentu saja," Cristin meneguk anggurnya sampai habis.


"Jika begitu," Orland beranjak dan menghampiri Cristin. Pria itu sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya ke arah Cristin.


Cristin meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Orland, mereka segera bergegas menuju lantai dansa. Suara musik yang melantun merdu membuat mereka menikmati waktu kebersamaan mereka. Orland memeluknya dengan erat dan merapatkan tubuh mereka berdua, mereka juga saling pandang sambil bergerak menikmati irama musik.


"Kau bilang ingin memberikan sesuatu untukku," ucap Cristin.


"Oh, aku hampir melupakannya," Orland menghentikan langkahnya.


"Sekarang berbaliklah dan tutup matamu," pintanya.


Cristin berbalik dan menutup matanya sesuai dengan permintaan Orland. Jantungnya jadi berdebar, entah apa yang hendak Orland berikan tapi dia merasa sebuah benda dipakaikan Orland di lehernya dan dia bisa menebak jika itu adalah sebuah kalung.


"Sekarang kau bisa membuka matamu, Sayang," ucap Orland setelah memakaikan kalung permata hijau di leher Cristin.


Cristin membuka mata dan segera melihat kalung permata hijau yang melingkar indah di lehernya.


"Bagaimana, apa kau suka?"


"Kenapa kau membelikan aku perhiasan ini, Orland? Aku hanya bercanda saja waktu itu," ucap Cristin.


"Tidak, Cristin. Aku memang ingin membelikannya untukmu. Untuk wanita paling spesial bagiku."


Cristin tersenyum dan memutar langkahnya hingga mereka kembali saling berhadapan.


"Benarkah?" tanyanya dengan wajah tersipu.


"Yes, kau wanita paling spesial bagiku," Orland memeluk pinggangnya, satu tangan berada di pipi Cristin dan mengusapnya perlahan.


"Aku menyukaimu, Cristin. kau mau jadi kekasihku, bukan?"


"Tidak!" tolak Cristin.


"Hei, kenapa?" tanya Orland.


"Tidak sebelum aku bercerai dengan Johan!"


"Jika begitu kau akan menjadi milikku setelah kau berpisah dengannya!" Orland mengangkat dagi Cristin dan mengecup bibirnya.

__ADS_1


"I love you."


Cristin tersenyum, kedua tangannya sudah melingkar di leher Orland. Dia tidak menjawab perasaan Olrand, tapi dia rasa pria itu sudah tahu. Orland mendekapnya dengan erat dan kembali mencium bibirnya dengan mesra. Rasanya tidak ingin malam ini cepat berakhir, rasanya sudah tidak sabar Cristin berpisah dengan suaminya agar Cristin bisa menjadi miliknya tapi dia tahu, dia harus bersabar sampai waktu itu datang.


__ADS_2