
Cristin dan Orland masih sibuk mencari-cari gaun pengantin yang cocok saat itu. Melihat deretan gaun pengantin yang indah membuat Orland ingin segera melamar Cristin namun dia tidak boleh bertindak gegabah di saat rencana baru saja dijalankan.
Semoga saja Zion segera menangkap umpannya karena setelah itu, dia akan melamar Cristin. Tidak perlu menunggu mereka hancur baru melamar Cristin, mereka bisa melangsungkan pernikahan mereka saat pamannya sudah berada di ambang kehancuran karena pada saat itu, dia akan menunjukkan siapa dirinya pada keluarga pamannya.
Cristin masih melihat sana sini, dia belum menemukan satu pun gaun yang cocok. Entah kenapa dia jadi terlihat enggan, tiba-tiba saja hari pernikahannya dengan Johan jadi teringat. Apa yang dia lakukan saat ini tidak beda jauh dengan apa yang dia lakukan dengan Johan dulu.
Dulu dia juga begitu antusias memilih gaun pengantin bahkan dia menggunakan seorang perancang ternama untuk membuatkan gaun pengatin untuknya karena dia ingin terlihat sempurna di hari pernikahanya nanti. Tidak saja gaun yang mewah, pesta pernikahan yang digelar juga begitu mewah. Beberapa pejabat dan juga artis terkenal hadir di acara pernikahannya dengan Johan namun setelah pesta selesai apa yang terjadi?
Pernikahannya dengan Johan benar-benar langsung kandas dan sekarang dia sadar, ternyata yang membuat bahagia bukanlah pesta pernikahan yang mewah dan juga gaun pengantin yang mahal tapi bagaimana dua orang yang sudah menjadi satu menjalani pernikahan itu namun bersyukurnya, dia bisa langsung tahu kelakukan busuk Johan di saat malam pernikahan mereka.
Cristin menghembuskan napas beratnya, Orland menatapnya dengan heran saat Cristin melangkah pergi dan sudah tidak tertarik dengan gaun-gaun mewah itu lagi. Orland segera mengkuti langkahnya, apa tidak ada satu pun yang Cristin suka?
"Ada apa, Cristin? Apa tidak ada satu pun gaun yang kau sukai?" tanya Orland.
"Bukan begitu, Orland," jawab Cristin.
"Jika begitu katakan ada apa, kenapa kau tiba- tiba jadi tidak bersemangat?"
"Entahlah, Orland. Aku merasa apa yang kita lakukan saat ini sia-sia," Cristin menjatuhkan diri di sebuah kursi yang ada di sana dan kembali menghela napas.
"Hei, apa maksudmu?" Orland berjongkong di hadapannya, kedua tangan Cristin digenggam dan matanya menatap lekat wanita itu.
"Aku sudah pernah melakukannya, Orland. Toko ini," Mata Cristin melihat toko itu dan kembali berkata "Aku sudah pernah ke sini untuk mencari gaun pengantin. Apa yang kita lakukan saat ini sudah pernah aku lakukan dulu dengan Johan. Aku seperti mengulang kejadian yang sama di dalam hidupku sebab itu aku merasa semua yang kita lakukan sia-sia."
"Tapi saat ini kau bersama denganku, bukan? Kita di sini memang untuk mencari gaun yang akan kau kenakan di saat acara pernikahan kita. Aku akan memberikan?"
"Stop!" pinta Cristin seraya menutup mulut Orland.
__ADS_1
"Aku tidak mau mendengarnya karena aku tahu kau akan berkata jika kau akan memberikan pernikahan megah untukku dan aku tidak mau sama sekali. Aku juga sudah melewatinya, pernikahan megah, pesta yang meriah dan semua itu tidak membuat pernikahanku bahagia sama sekali!"
"Jadi?" Orland menyingkirkan tangan Cristin yang sedang menutup mulutnya lalu pria itu duduk di sisinya.
"Jika kau sudah tidak menginginkan pernikahan megah dan gaun yang indah, katakan padaku apa yang kau inginkan. Apa pun itu, aku akan mengikutinya karena bagiku yang paling penting adalah memiliki dirimu. Lagi pula aku sudah tidak memiliki siapa pun lagi yang bisa melihat pernikahanku nanti."
"Bagiku memiliki dirimu juga sudah cukup, Orland," Cristin bersandar di bahunya, "Aku benar-benar tidak menginginkan pernikahan megah lagi, begitu juga gaun tapi agar kita bisa bersatu kita memang harus mengadakan acara pernikahan tapi kali ini aku hanya menginginkan sebuah pesta yang sederhana, tidak ada acara dan tidak ada tamu. Aku hanya ingin pernikahan kita disaksikan oleh keluarga saja tapi jika kau keberatan, aku akan mendengarkan pernikahan seperti apa yang kau inginkan karena ini pernikanan pertama untukmu sedangkan ini akan menjadi pernikahan keduaku."
Orland terkekeh dan mencium dahinya, mau pernikahan pertama atau kedua Cristin pada akhirnya Cristin tetap menjadi miliknya karena di malam pernikahannya yang pertama, Cristin menghabiskan malam dengannya dan dipernikahan kedua Cristin nanti, Cristin juga akan menghabiskan malam dengannya namun dengan status yang berbeda.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Cristin. Sudah aku katakan yang paling penting bagiku adalah memiliki dirimu. Aku tidak peduli yang lainnya jadi kita adakan acara pernikahan yang sederhana saja yang disaksikan oleh keluargamu."
"Kau tidak mau mengundang keluarga pamanmu?"
"Semenjak mereka menipu aku semenjak itu pula mereka bukan lagi keluargaku tapi aku rasa tidak ada salahnya mengundang mereka. Kita lihat saja nanti sejauh mana rencanaku menjebak mereka sudah berjalan."
"Baiklah, aku rasa mereka hanya akan membuat keributan saja jika kau mengundangnya. Aku tidak mau pernikahan kedua ku gagal seperti yang sudah-sudah!"
Cristin tersenyum, Orland mengusap rambutnya dan mencium dahinya sesekali. Lebih baik dia tidak mengundang keluarga pamannya yang bisa membuat onar.
"Jika kau tidak menginginkan gaun di sini ayo kita pergi, aku akan memilihkan untukmu dan memberikannya sebagai hadiah."
"Terdengar lebih baik," ucap Cristin.
"Jika begitu ayo, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat," Orland beranjak dan mengulurkan tangan.
"Ke mana?" tanya Cristin sambil menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
"Rahasia, Nona. Lagi pula kita belum makan siang, kita pergi makan terlebih dahulu dan setelah itu aku akan mengenalkanmu dengan seseorang."
"Baiklah, ayo kita pergi," ucapp Cristin.
Mereka memutuskan pergi dari sana tanpa membeli apa pun. Wajah murung Cristin sudah tidak ada lagi, dia bahkan terlihat tersenyum sambil memeluk lengan Orland.
Gail segera menghampiri mobil yang terparkir tidak jauh saat melihat bosnya keluar dari tempat itu bersama kekasihnya.
Pintu dibuka, Cristin masuk terlebih dahulu dan setelah itu Orland masuk kemudian.
"Bagaimana, Gail. Apa tebakanku benar?" tanya Orland saat Gail mulai menjalankan mobilnya.
"Yes, Sir. Dia datang dan meminta maaf padaku juga meminta foto milik Nona Isabel untuk tidak disebar. Aku menyetujui permintaannya karena aku pikir dia tidak akan berkonsentrasi saat Zake melakukan aksinya tapi soal video itu akan tetap aku sebar," ucap Gail. Seandainya bosnya melarang untuk tidak menyebar video itu dia akan tetap melakukannya karena dia yang hampir dirugikan.
"Lakukan apa yang hendak kau lakukan, Gail. Aku tidak akan melarang karena sudah tidak ada belas kasihan lagi pada mereka yang telah mengkhianati aku. Perintahkan Zake untuk segera menjebak mereka, beri dia waktu satu minggu jika tidak seluruh keluarganya akan tahu semua kebusukan yang dia lakukan dulu padaku!" perintah Orland.
"Yes, Sir!" jawab Gail. Perintah sudah didapat berarti video itu bisa dia sebar, tinggal mencari waktu yang tepat saja.
"Apa tidak terlalu berlebihan, Orland?" tanya Cristin.
"Bagian mana menurutmu yang terlalu berlebihan, Sayang?"
"Video itu? Bagaimanapun dia sepupumu, jika video itu tersebar bukankah itu akan menghancurkan dirinya? Kau harus ingat, dia adalah wanita."
"Menurutku tidak," jawab Orland.
"Waktu mereka menjebak aku dan mengambil semua yang aku miliki lalu melemparkan aku keluar sehingga aku menjadi seorang gelandangan, apa mereka tidak berpikir jika tindakan yang mereka lakukan sudah keterlaluan? Waktu mereka menjebak Gail apa mereka pernah memikirkan jika mereka juga sudah keterlaluan? Apa mereka memikirkan risiko dari apa yang mereka lakukan? Tidak ada yang keterlaluan, Cristin. Orang-Orang seperti mereka memang harus diberi pelajaran yang setimpal agar mereka mendapat ganjaran atas apa yang telah mereka lakukan jadi menurutku tidak ada yang keterlaluan sama sekali."
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya bertanya karena aku tidak tega."
"Tidak apa-apa," Orland menarik Cristin hingga mendekat padanya. Mau pria atau wanita, dia tidak akan melepaskan orang-orang yang telah menghancurkan dirinya dulu.