Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Menangkap Katak Mesum


__ADS_3

Mereka berdua sudah tidak berada di meja makan lagi, mereka berdua duduk di sisi kolam renang karena Cristin mengajak Orland untuk menikmati anggur di sana. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Mereka berdua berbincang sambil menikmati langit malam dan juga anggur yang Cristin ambil dari gudang penyimpanan milik ayahnya.


Setidaknya perasaannya sudah menjadi lebih baik setelah menangis. Padahal dia tidak mau seperti itu, malam ini dia benar-benar kacau karena film romance yang dia tonton sendirian.


"Katakan padaku, hari ini kau pergi ke mana?" tanya Orland. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi pada Cristin sehingga membuatnya menangis.


"Aku pergi mencarimu, seharusnya kau tahu."


"Maaf, aku tidak tahu kau mau datang. Jika aku tahu, aku sudah kembali ke kantor untuk menemuimu setelah dari makam."


"Tidak apa-apa," Cristin tersenyum dan meneguk anggurnya, "Seharusnya sebelum pergi ke kantormu aku menghubungimu terlebih dahulu," ucapnya lagi.


"Baiklah, setelah dari kantor kau pergi ke mana?" tanya Orland lagi.


"Pergi kencan buta!" ucap Cristin asal.


"Tidak perlu berkata demikian, aku tahu kau tidak mungkin melakukannya!"


Cristin tersenyum tipis dan kembali meneguk anggurnya. Melihat itu, Orland meraih gelas yang di ada di tangan Cristin.


"Oke, stop minum. Kau bisa mabuk!" ucapnya.


"Hei, jangan ambil minumanku!" Cristin hendak merebut gelas minumannya tapi Orland mengangkat gelas itu tinggi-tinggi.


"Jangan terlalu banyak minum, Cristin."


"Tapi aku membutuhkannya, Orland."


"Aku tahu, tapi sudah ada aku di sini. Kau bisa menumpahkan kesedihanmu padaku."


"Aku tidak mau!" Cristin beranjak dan melangkah pergi.


Orland meletakkan gelas dan mengikuti Cristin yang melangkah menuju kolam renang. Cristin berdiri di sisinya, begitu juga dengan Orland.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Cristin."


"Yang mana?" tanya Cristin pura-pura.


"Ayolah, setelah dari kantorku kau pergi ke mana?"


"Pergi spa dan menonton film."


"Hanya itu?" Orland semakin penasaran.


"Ya, apa ada yang lain?"


"Tidak, aku kira terjadi sesuatu padamu."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Orland. Maaf kau harus melihat keadaanku yang memalukan."

__ADS_1


"Hei," Orland mendekati Cristin, meraih pinggangnya dan mengusap wajahnya. Mata Cristin tidak berpaling dari wajah Orland, sedangkan pria itu tersenyum.


"Sudah aku katakan itu bukanlah hal memalukan," ucapnya.


"Aku tahu," Cristin hendak berpaling tapi Orland sudah memegangi dagunya.


"Bolehkah aku mencium bibirmu, Cristin?"


"A-Apa?" Cristin tampak terkejut dan gugup.


"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mengijinkan," ucap Orland.


Cristin belum menjawab karena dia bingung mau menjawab apa. Kenapa Orland selalu bertanya saat ingin menciumnya?


"Cristin," Orland masih menunggu jawaban darinya.


"Ja-Jangan bertanya!" ucap Cristin.


"Jika begitu aku menganggap bahwa aku boleh melakukannya."


Cristin sedikit berpaling, wajahnya bahkan merona. Orland tidak mau menyia-nyiakan kesempatan apalagi sudah dapat ijin. Jarinya sudah berada di bibir Cristin, dan memberikan usapan lembut. Cristin tampak gugup, kenapa dia jadi seperti gadis remaja yang menantikan  ciuman dari sang kekasih?


"Cristin," Orland mendekatkan wajah mereka, Dia tidak akan menunda terlalu lama untuk mencium bibir Cristin. Bibir mereka semakin dekat, mata Cristin pun sudah terpejam. Jantung Cristin berdebar, dia bisa merasakan napas hangat Orland membelai wajahnya. Bibir mereka sudah menempel tapi tiba-tiba saja, Cristin dikejutkan oleh sebuah suara. Karena dia mengira jika itu adalah ayah dan ibunya yang sudah kembali, Cristin mendorong tubuh Orland dengan sekuat tenaga.


Orland terkejut, "Cristin!" dia berteriak dan meraih tangan Cristin karena refleks.


Cristin juga terkejut, teriakannya terdengar karena Orland menariknya. Mereka berdua kehilangan keseimbangan dan tidak lama kemudian, terdengar suara air karena mereka berdua terjatuh di kolam renang. Suara gonggongan anjing terdengar di sisi kolam renang, Orland dan Cristin muncul ke permukaan air sambil terbatuk.


Anjing terus menggonggong saat melihat majikannya berada di dalam air. Suara yang Cristin dengar memang dari suara anjing peliharaannya dan dia mengira jika itu suara langkah kaki ayah dan ibunya.


Orland juga mengusap air yang menetas di wajahnya. Apa-Apaan ini? Ciumannya gagal karena seekor anjing?


Cristin berenang mendekati Orland, dia jadi tidak enak hati karena telah mendorong pria itu sampai terjatuh.


"Orland, apa kau tidak apa-apa?"


Orland tidak menjawab, matanya seperti sedang mengincar Cristin.


"Apa kau mendorongku karena anjing itu?"


"Maaf, aku kira ayah dan ibuku sudah kembali."


"Oke, bagus," Orland berenang mendekati Cristin dan kembali berkata, "Ciumanku gagal karena anjing dan sekarang aku jadi basah!"


"Sorry," ucap Cristin sambil memasang wajah bersalah.


"Minta maaf dengan benar, Nona," Orland meraih pinggangnya. Kali ini tidak perlu berlama-lama karena dia tidak mau gagal. Orland menempelkan bibir mereka berdua.


Cristin terkejut, dia masih diam saat Orland mengecup bibirnya perlahan dan setelsh itu Orland mengusap wajahnya. Mereka berdua pun saling pandang tapi untuk sesaat saja karena mereka berdua kembali berciuman.


Kedua tangan Cristin sudah melingkar di leher Orland, begitu juga dengan kedua kakinya yang melingkar di tubuh Orland.

__ADS_1


Mereka berciuman dengan liar, seperti sudah lama mendambakan hal itu. Kedua tangan Orland berada di paha Cristin dan memberikan pijatan sensual.


Cristin merasa bagaikan tersengat aliran listrik, permainan panas yang mereka lakukan beberapa tahun lalu tiba-tiba kembali diingatannya. Reaksi tubuhnya tiba-tiba mendambakan hal itu lagi apalagi tangan Orland masih bermain di pahanya dan terkadang ke bokongnya.


******* Cristin terdengar di balik ciuman mereka dan tentunya hal itu membuat Orland semakin bersemangat. Satu tangannya naik ke atas, memberikan usapan di punggung Cristin. Rasanya ingin mengulangi malam panas mereka kembali tapi dia tahu itu terlalu cepat.


Bibir mereka terlepas, Cristin tampak terengah dengan wajah memerah. Sepertinya dia sudah gila, dia tidak menyangka akan seliar itu tapi yeah, dia sudah tidak pernah berciuman sejak malam itu.


"Aku tidak menduga kau begitu mendambakannya, Cristin," ucap Orland.


"Ja-Jangan asal bicara. Aku hanya terbawa suasana!" kilah Cristin.


Orland tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Cristin. Walau Cristin menyangkal tapi reaksi tubuhnya tidak bisa menipu.


"Air kolamnya dingin, bagaimana jika kita naik ke atas?" tanya Orland.


Tanpa memjawab, Cristin segera turun dari gendongan Orland dan berenang ke sisi kolam renang. Dia benar-benar sudah gila, dia bahkan masih berada di gendongan pria itu dengan nyaman


Mereka berdua sudah berada di atas dengan keadaan basah kuyup. Orland melihat penampilannya, sepertinya dia sudah harus pulang.


"Segera masuk dan ganti pakaianmu, kau bisa sakit," ucap Orland.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Aku akan pulang tapi jika kau mengijinkan aku untuk menginap dan tidur bersama denganmu maka aku akan tinggal dengan senang hati."


"Sembarangan!" ucap Cristin dengan tatapan galak.


Orland tersenyum, sebaiknya dia pulang. Lagi pula sudah malam. Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan ketika kedua orangtua Cristin yang baru kembali melihat keadaan mereka yang basah kuyup, mereka tampak terkejut.


"Kenapa kalian berdua basah-basahan seperi itu?" tanya ibu Cristin.


"Ka-Kami menangkap katak mesum di sisi kolam renang," jawab Cristin asal.


"Hah?" kedua orangtuanya tampak tidak percaya.


"Orland, kenapa kalian berdua basah seperti ini?" tanya ayah Cristin.


"Seperti yang Crisrin katakan, Tuan Bailey. Kami berdua menangkap katak dan tanpa sengaja terjatuh!"


Kedua orangtua Cristin saling pandang. Sejak kapan di kolam renang ada katak?


"A-Aku mau mandi sulu!" ucap Cristin seraya berlari menuju tangga. Jangan sampai kedua orangtuanya tahu apa yang mereka lekukan.


"Jika begitu aku pamit pulang, terima kasih atas makanannya."


"Lain kali datanglah lagi, kami akan menjamu dengan baik," ucap ayah Cristin.


"Terima kasih, Tuan Bailey tapi perjamuan malam ini sudah sangat luar biasa."


"Aku senang jika kau senang, Orland."

__ADS_1


"Tentu, terima kasih atas jamuannya," Orland pamit pergi. Malam ini dia benar-benar senang walau harus basah. Terima kasih pada anjing chihuahua karena berkat anjing itu dia mendapat keuntungan.


Orland melangkah menuju mobilnya sambil bersiul. Dia susah tidak sabar menantikan pertemuannya dengan Cristin lagi.


__ADS_2