Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kau Milikku!


__ADS_3

Cristin jadi pusat perhatian karena Orland menggendongnya masuk ke dalam Mall untuk membeli sepatu. Gara-Gara suami menyebalkannya itu, dia jadi harus kehilangan sepatu kesayangan seharga ribuan dolarnya. Sepatu itu bahkan lebih berharga dari pada wajah Johan.


Orland menggendongnya di punggung, mereka berdua membuat orang iri. Orland melakukan hal itu karena dia tidak ingin membiarkan Cristin berjalan dengan bertelanjang kaki. Cristin memeluknya erat sambil membawa satu sepatunya yang tersisa.


Mereka menuju toko sepatu yang ada di mall tersebut. Walau menjadi pusat perhatian cristin tidak malu sama sekali bahkan dia sangat senang karena setelah kekesalan hatinya pada Johan, ada seorang pria yang begitu perhatian padanya.


Orland menurunkannya di sebuah kursi setelah tiba di toko yang menjual begitu banyak model sepatu dan high heel.


"Tunggu di sini!" ucap Orlan seraya mengambil sepatu yang Cristin bawa sedari tadi.


Cristin mengangguk, dia tahu apa yang hendak pria itu lakukan. Orland berlalu pergi dan berbicara pada seorang pegawai toko. Dia juga memberikan sepatu yang dia bawa pada pegawai toko tersebut. Orland terlihat menunggu tapi tidak lama dia kembali dengan sepasang sepatu berwarna hitam di tangan. Pria itu bahkan berjongkok di bawah kaki Cristin untuk memakaikan sepatu yang dia bawa.


"Bagaimana? Apa kau suka modelnya?" tanya Orland setelah sepatu itu terpasang di kaki Cristin.


"Tidak buruk," ucap Cristin seraya melihat sepatu yang sudah dia kenakan.


"Kau mau yang lain? Aku sudah meminta pegawai itu mencari yang paling mirip dengan milikmu.":


"Tidak perlu Orland, ini sudah cukup," ucap Cristin.


"Baiklah, tunggu di sini," Orland beranjak dan menuju kasir.


Cristin melihat sepatu itu dan menggunakannya untuk berjalan. Jika sakit maka tidak jadi tapi ternyata tidak buruk. Setidaknya dia tidak bertelanjang kaki lagi.

__ADS_1


Setelah selesai membayar, Orland mengajaknya pergi untuk menikmati es cream yang dia inginkan. Emosi benar-benar sudah menguras tenaganya. Untungnya di atas kepalanya tidak mengeluarkan asap seperti mesin kereta api uap.


Sebuah cafe menjadi pilihan, es cream yang diinginkan Cristin juga sudah berada di atas meja. Orland memesan segelas kopi hitam, sepotong kue yang Cristin inginkan juga sudah diantarkan.


"Jadi, apa yang terjadi dengan kalian saat di dalam?" tanya Orland. Dia memang sudah ingin tahu akan hal ini sedari tadi.


"Seharusnya kau tahu, semuanya jadi kacau gara-gara si aktor drama yang menjijikkan itu!"


"Apa yang dia lakukan?" Orland menyeruput kopinya. Pantas saja Cristin begitu emosi.


"Dia menuduh aku seolah-olah akulah yang melakukan kesalahan terlebih dahulu. Dia bahkan pura-pura tidak bersalah karena aku tidak memiliki bukti. Ingin rasanya aku mencakar wajahnya! Jika kau melihat drama yang dia mainkan, aku rasa kau juga akan melemparnya menggunakan kursi!" ucap Cristin dengan emosi yang kembali memenuhi hati. Cristin menyendok es creamnya beberapa kali, dia benar-benar benci ketika drama yang dimainkan oleh Johan kembali teringat. Dia rasa aktor drama mungkin kalah dengan akting yang dia tunjukkan barusan.


"Baiklah, sekarang katakan padaku. Bagaimana keputusan akhirnya?"


Cristin menunduk, ini yang paling dia tidak suka karena dia sudah menebak apa yang harus dia lakukan nanti.


"Seperti yang kau tahu, Orland. Dengan drama yang dia mainkan, dia berpura-pura menyesal dengan apa yang telah dia lakukan dan dia tidak ingin berpisah denganku. Dia memainkan dramanya dengan begitu baik dan menunjukkan jika seolah-olah dia begitu menyesalinya. Aku benar-benar muak dan jijik dengannya dan sekarang, aku malu pada diri sendiri karena pernah mencintai pria menjijikkan itu."


"Jadi kau benar-benar harus melewati masa pra nikah dengannya?"


"Walau belum diputuskan tapi aku rasa hal itu akan terjadi," Cristin memandangi Orland dengan tatapan sendu dan kembali berkata, "Bagaimana ini, Orland? Aku tidak mau dan tidak akan mau bahkan aku tidak sudi menjalani masa pra nikah dengannya selama tiga bulan!" ucapnya. Air matanya hampir tumpah, dia benar-benar tidak mau hal itu terjadi.


"Tidak perlu khawatir, Sayang," Orland menggenggam tangannya, "Sebelum itu terjadi, kita pasti sudah menemukan bukti perselingkuhannya. Jika sudah mendapatkannya, kita bisa menunjukkan pada pakar itu sehingga kau tidak perlu menjalankan ujian pra nikah."

__ADS_1


"Aku sangat berharap. Orland. Jika tidak sepertinya aku harus mencari cara lain," ucap Cristin dengan nada putus asa.


"Hei, jangan putus asa seperti itu? Percayalah, Gail pasti akan mendapatkan bukti yang kita inginkan tapi kau tahu, semua butuh waktu. Sebisa mungkin kau harus menolak ujian pra nikah itu dan mengulur waktu sampai kita mendapatkan bukti."


"Baiklah," Cristin mengangguk dan berusaha tersenyum. Semoga saja Gail benar-benar mendapatkan bukti tapi bagaimana jika tidak? Mereka tidak tahu Johan masih menjalin hubungan dengan wanita itu lagi atau tidak. Bagaimana jika ternyata Johan  sudah tidak menjalin hubungan dengan wanita itu lagi? Cristin kembali terlihat lesu, jika sampai hal itu terjadi, maka sudah dipastikan dia tidak akan bisa lari.


"Hei," Orland mengusap telapak tangannya.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Sudah aku katakan ada aku dan aku pasti akan membantumu sampai akhir. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku tidak akan senang kau menjalani ujian pra nikah dengannya sehingga kalian harus tinggal satu atap. Kau milikku, Cristin. Sejak malam itu kau adalah milikku jadi sampai kapanpun kau adalah milikku dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah menjadi milikku lagi. Jadi percayalah, aku pasti akan melindungi dirimu dari baj*ngan itu!"


Cristin mengangguk sambil tersenyum. Sekarang dia hanya bisa berharap Gail mendapatkan bukti dan memang saat itu, Gail masih mengikuti Johan.


Johan menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang dia tempati saat itu. Dia tidak sadar jika Gail mengikutinya, pria itu bahkan melangkah memasuki rumah dengan santai sambil membawa sepatu Cristin. Sekarang saatnya menghubungi Lauren dan memberinya kabar.


Johan menjatuhkan diri di atas sofa, hari yang melelahkan karena dia harus memainkan drama yang begitu menguras tenaga. Ponsel sudah berada di tangan, Johan menghubungi kekasihnya sedangkan Gail berdiri di dekat jendela untuk menguping. Semoga saja terdengar.


"Bagaimana, Johan?" terdengar suara Lauran yang tidak sabar.


"Kau tidak perlu khawatir, semua berjalan sesuai rencana," ucap Johan.


Gail memasang telinga baik-baik. Sial, suara Johan tidak terdengar begitu jelas. Untuk berjaga-jaga dia bahkan mengambil ponsel untuk merekam. Itu bisa jadi bukti yang akan dia berikan pada bosnya.


"Apa kau yakin kalian akan melakukan ujian pra nikah?" tanya Lauran.

__ADS_1


"Aku sangat yakin jadi kau tidak perlu khawatir. Pada saat itu, kita akan mendapatkan apa yang kita mau dan dia akan berkorban untukmu!"


Gail sedikit terkejut, walau samar tapi dia bisa mendengarnya. Apa maksud dari ucapannya itu? Apakah ada rencana jahat terselubung? Dia masih menguping tapi sayangnya Johan sudah melangkah menuju kamarnya sehingga dia tidak bisa mendengar lebih jauh. Tapi sepertinya itu sudah cukup dan besok, dia akan menunjukkan rekaman yang dia dapatkan pada bosnya.


__ADS_2