
Gail sedang berusaha menghubungi seseorang yang sejak pagi dia hubungi tapi sampai sekarang orang itu tidak merespon. Tentunya orang yang dia hubungi adalah kenalannya dulu sewaktu dia berada di sebuah organisasi yang menaungi dirinya. Sesungguhnya siapa Gail yang secara kebetulan bertemu dengan Orland dan dibantu olehnya?
Gail masih berusaha, dia harus bisa menghubungi orang itu agar bisa membantu bosnya dan sesungguhnya orang itu adalah sahabat baiknya. Dia tahu sepertinya sang sahabat sedang sibuk, mungkin sahabatnya sedang melakukan sebuah misi. Tapi dia tidak akan menyerah karena dia membutuhkan bantuan sahabatnya itu dan dia juga yakin sahabatnya tidak akan menolak permintaannya.
Gail masih menunggu, semoga saja sang sahabat segera menjawab panggilan darinya dan benar saja, penantiannya tidak sia-sia.
"Siapa kau? Jangan cari perkara jika tidak mau mati!"
"Hei, ini aku Gail," ucap Gail.
"Gail, aku kira siapa yang menghubungi sedari tadi," ucap sahabat baiknya.
"Jadi kau tidak mau menjawab teleponku karena itu?" tanya Gail.
"Ayolah, aku tidak tahu kau masih hidup. Bagaimana kau bisa lari dari mereka dan di mana kau sekarang?" tanya sahabat baiknya.
"Itu sudah masa lalu, aku sudah terbebas dan sekarang aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan organisasi dan aku juga sudah menjadi pemuda biasa!"
"Oke, baiklah. Katakan kenapa kau mencari aku?"
"Aku butuh bantuanmu dan aku akan membayarmu mahal untuk pekerjaan ini."
"Wow, aku mencium bau uang. Katakan apa yang harus aku lakukan?"
"Mudah, aku hanya ingin kau mencari sebuah bukti untukku!" Gail mengatakan apa yang harus sahabatnya lakukan dengan rinci dan tentunya itu bukan pekerjaan yang sulit. Gail bahkan meminta sahabatnya untuk segera bergegas karena informasi itu sangat dibutuhkan.
Setelah berbicara dengan sahabatnya, Gail pergi ke ruangan Orland untuk memberi kabar jika perintah yang bosnya berikan akan segera dijalankan.
Pintu diketuk, Gail masuk ke dalam tanpa menunggu perintah dan menghampiri Orland yang sedang duduk di sofa sambil melihat dokumen yang harus segera dia selesaikan.
Orland melihat ke arahnya tanpa bertanya, Gail juga tidak bersuara apalagi saat melihat Cristin sedang tidur di atas pangkuan Orland. Orland memberikan sebuah isyarat pada Gail, pria itu mengangguk dan berjalan ke arah meja Orland.
Dokumen diletakkan di sisinya, Orland mengusap kepala Cristin dengan perlahan. Cristin tertidur saat menemaninya, mereka berdua tertidur tanpa sadar. Kepala Cristin diangkat dengan perlahan lalu diletakkan dengan perlahan pula, Cristin hanya bergerak sebentar dan setelah itu dia kembali tidur.
Orland tersenyum dan mencium dahinya, dia segera beranjak menghampiri Gail yang sudah menunggu. Setelah berbicara dengan Gail maka dia akan membangunkan Cristin dan mengajaknya pergi untuk membeli perlengkapan untuk barbeque.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku sudah menghubungi orang untuk melakukan tugas yang kau perintahkah," ucap Gail.
"Bagus, aku harap orang itu bisa dipercaya."
"Aku jamin tidak akan mengecewakan," jawab Gail.
Orland terlihat puas, dia tahu Gail tidak akan mengecewakan siapa pun dia dan dari mana dia berasal. Dia tidak pernah bertanya karena dia rasa semua orang punya masa lalu yang tidak ingin diungkit.
Di sofa, Cristin terbangun karena mendengar suara percakapan Orland dan Gail. Cristin melihat sekelilingnya dan setelah itu dia berteriak, "Astaga!" Cristin duduk dengan terburu-buru.
Orland melihat ke arahnya dan tersenyum, Cristin seperti orang linglung. Apa yang terjadi? Kenapa dia jadi tertidur? Dia segera beranjak untuk merapikan penampilannya. Senyum Olrand semakin lebar saat Cristin melotot ke arahnya dengan tatapan galak.
"Aku permisi, Sir," ucap Gail. Si galak sudah bangun, sebaiknya dia keluar. Semoga suatu saat dia tidak mendapat kekasih yang galak seperti kekasih bosnya. Jujur dia tidak suka wanita yang galak-galak.
Orland beranjak dan menghampiri Cristin, sedangkan Cristin masih melotot ke arahnya. Bagaimana dia bisa tidur?
"Kenapa aku bisa tertidur?" tanya Cristin.
"Aku juga tidak tahu," Orland meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Kau tidur dengan nyenyak jadi aku tidak tega."
"Hm!" Cristin membuang wajah.
Orland kembali tersenyum, apa Cristin sedang pms?
"Kenapa kau marah? Apa kau sedang pms, Cristin?" tiba-tiba dia ingin menanyakan hal itu.
"Kau!" Cristin mencubit bibirnya dengan wajah memerah, "Selalu saja bertanya sesuka hati!" ucap Cristin seraya melangkah pergi.
Orland memegangi bibirnya, aduh... lagi-lagi wrong question. Orland segera menghampiri Cristin dengan terburu-buru.
"Cristin, aku hanya asal bertanya."
__ADS_1
"Aku tahu, sudah siang. Sebaiknya kita pergi, aku juga sudah lapar," ucap Cristin.
"Baiklah tapi kau jadi menginap, bukan?"
"Ya, sebab itu ayo kita pergi," ajak Cristin.
"Yes!" Orland hampir melompat girang. Cristin kembali melotot denganĀ tatapan galak. Orland tersenyum dan menghampirinya.
Mereka segera pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan yang mereka perlukan untuk berbeque nanti malam. Orland bahkan memerintahkan pelayannya menyiapkan segala yang dibutuhkan di sisi kolam renang karena dia ingin semua siap saat dia pulang.
Setelah selesai berbelanja, mereka pergi ke restoran untuk makan siang dan setelah itu Cristin mengajak Orland pergi ke mall untuk membeli sesuatu. Orland merangkul pinggangnya sambil membawa barang bawaan Cristin, sedangkan Cristin bersandar di bahu Orland dengan manja. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain, tapi kemesraan mereka sudah menarik perhatian beberapa orang wanita yang secara kebetulan ada di sana.
"Lihat, mereka. Jika tidak salah itu adalah Cristin Bailey," seorang wanita berkata demikian.
"Cristin Bailey?" wanita lain bertanya demikian. Sepertinya tidak asing.
"Hei, dia putri pemilik hotel paling kaya. Apa kau tidak tahu? Hampir semua orang tahu karena kehidupan glamournya."
Wanita itu hanya diam, matanya melihat ke arah dua pasangan yang sedang berjalan ke arah sebuah toko baju tapi ketika melihat si pria, dia tampak terkejut dan sebuah nama terucap, "Orland?"
Karena penasaran, dia mengikuti dan mengintip untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan oleh Orland dan Cristin Bailey. Cristin masuk ke dalam toko baju itu dan membeli sebuah pakaian pria. Tentunya dia membelikan pakaian itu untuk ayahnya.
Wanita itu yang adalah Caitlyn tampak mencerna situasi. Kenapa Orland bisa bersama dengan seorang putri pemilik hotel paling kaya?
Apa Orland benar-benar berpacaran dengan Cristin Bailey atau dia adalah pria simpanan Cristin. Karena sangat ingin tahu, Caitlyn terus mengikuti mereka sampai Cristin dan Orland selesai berbelanja. Dia tidak peduli dengan para sahabatnya, dia bahkan mengikuti mereka sampai di lobi.
Orland memberikan kunci mobilnya pada seorang jasa parkir dan menunggu bersama Cristin yang sedang sibuk dengan ponselnya. Mata Caitlyn melotot saat melihat mobil sport yang berhenti di depan mereka. Tidak bisa, jangan-jangan Orland sudah sukses. Ini jawaban yang paling masuk akal sehingga dia bisa bersama dengan Cristin Bailey.
Caitlyn berlari ke arah Orland saat pria itu hendak membukakan pintu untuk Cristin.
"Orland!" Caitlyn berteriak dan tentunya teriakannya dapat di dengar oleh Orland dan Cristin.
Mereka berdua menoleh, Cristin tampak heran saat melihat seorang wanita berlari ke arah mereka sambil berteriak memanggil Orland.
Orland tidak terkejut sama sekali karena dia tahu Caitlyn sudah kembali. Dia hanya tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu begitu cepat. Orland melihat Caitlyn dengan ekspresi tidak senang. Sebaiknya Caitlyn tidak tahu dirinya yang saat ini.
__ADS_1
"Orland, aku sangat merindukan dirimu!" teriak Caitlyn, dia akan memeluk pria itu tanpa ragu tapi sayangnya, Orland menarik Cristin hingga berdiri di hadapannya. Cristin terkejut begitu juga Caitlyn. Dia sudah tidak bisa berhenti sehingga mau tidak mau yang Caitlyn peluk justru bukan Orland.
Caitlyn mengumpat sedangkan tangan Cristin sudah berada di belakang dan mencubit perut Orland. Orland menahan rasa sakit, aduh. Cubitan maut Cristin sungguh sakit.